RSS

AFLATOKSIN PADA PAKAN TERNAK

21 May

PENDAHULUAN

Latar belakang

Pada  tahun 1960, masyarakat Inggris merayakan Natal tanpa kalkun. Saat itu, hanya dalam waktu beberapa bulan, lebih dari 100.000 kalkun mati karena penyakit yang belum dikenal dan disebut ”penyakit kalkun X”. Penelitian-penelitian segera dilakukan. Tak lama kemudian, ditemukan bahwa kalkun-kalkun itu mati karena memakan pakan berupa bungkil kacang tanah yang telah tercemari kapang (jamur) Aspergillus flavus yang menghasilkan racun yang disebut aflatoksin.

Sejak saat itu, aflatoksin banyak mendapat perhatian karena potensi bahaya yang dapat ditimbulkannya, bisa menyebabkan penyakit dan bahkan kematian pada manusia serta hewan mamalia. Tak hanya kapang A. flavus, kapang lain seperti A. parasiticus dan A. nomius juga dapat memproduksi racun aflatoksin.

Aflatoksin flavus merupakan kapang yang tersebar meluas di alam. Kapang ini bisa muncul di tanah, tumbuhan yang membusuk, biji-bijian yang mengalami kerusakan mikrobiologis, dan dapat menyerang berbagai jenis substrat organik di mana pun dan kapan pun asalkan kondisinya mendukung pertumbuhannya. Namun, kapang A. flavus yang mencemari suatu komoditi tidak selalu membuat racun sehingga adanya kapang ini belum tentu memberikan pencemaran racun aflatoksin.

Aflatoksin sering kali terdifusi masuk ke dalam tenunan bagian-bagian dalam komoditi pertanian melalui rambut-rambut kapangnya. Dengan demikian, biji, umbi, bungkil, dan bagian lain komoditi yang tercemari tidak serta merta tampak oleh mata. Keberadaan aflatoksin dipengaruhi cuaca seperti suhu dan kelembapan, sehingga tingkat kontaminasinya bervariasi tergantung lokasi geografis, cara bertani, budi daya, dan kerentanan komoditi. Indonesia yang beriklim tropis-basah memberi peluang besar bagi tumbuhnya berbagai jenis kapang pada komoditi pertanian, termasuk A. flavus penghasil racun aflatoksin.

Aflatoksin yang mencemari pakan ternak dapat membahayakan kesehatan dan produktivitas ternak. Sementara residunya pada hasil ternak dapat membahyakan kesehatan manusia bila hasil ternak tersebut dikonsumsi.

Dulu, di Indonesia pernah diadakan penyaringan terhadap makanan yang dibuat dari kacang tanah dan kacang kedelai sebagai bahan dasarnya. Hasilnya, terdapat aflatoksin pada bungkil kacang tanah untuk membuat oncom. Untuk mengurangi kemungkinan tercemar A. flavus, kacang tanah mentah sebaiknya disimpan di tempat yang kering dan sejuk (kapang ini tumbuh pada suhu 30-36 0C dengan kelembapan yang tinggi). Proses penyanganan atau pemanggangan pada kacang tanah dapat menurunkan kadar aflatoksin 60-70 persen. Proses fermentasi bungkil kacang tanah menjadi oncom dapat menurunkan kadar aflatoksin 50-75 persen.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencegah kontaminasi aflatoksin, tetapi hal ini masih tetap menjadi masalah. Berbagai negara telah mencoba membatasi paparan aflatoksin dengan mengeluarkan peraturan batasan kadar aflatoksin pada komoditi yang akan digunakan sebagai makanan dan pakan. Food and Drug Administration di Amerika Serikat, misalnya, memberi batasan kadar aflatoksin maksimum 20 ppm pada makanan dan pakan, termasuk produk-produk kacang tanah.

Sistem regulasi pangan termasuk pengendalian aflatoksin di Indonesia masih belum memadai.  Berdasarkan pertemuan antara FAO, WHO dan CAC (1995-2000), diputuskan bahwa untuk standar keamanan pangan, perlu dilakukan risk analysis yang mencakup tiga komponen, yaitu: risk assessment, risk management, dan risk communication. Oleh karena itu, risk assessment pada produk kecap perlu dilakukan untuk menjadi dasar dalam penetapan food standard pada peraturan perundangan pangan Indonesia sehingga dapat melindungi tubuh masyarakat Indonesia dari bahaya kontaminasi Aflatoksin.

Iklim tropis mengakibatkan komoditas pangan di Indonesia rentan terhadap kontaminasi kapang dan toksin metabolitnya, seperti aflatoksin, metabolit sekunder dari Aspergillus sp. Aflatoksin dapat mencemari kacang tanah, jagung, dan hasil olahannya, serta pakan ternak. Hewan ternak yang mengonsumsi pakan tercemar aflatoksin akan meninggalkan residu aflatoksin dan metabolitnya pada produk ternak seperti daging, telur, dan susu. Hal tersebut menjadi salah satu sumber paparan aflatoksin pada manusia. Aflatoksin dapat mengakibatkan penyakit dalam jangka pendek (akut), maupun jangka panjang (kronis). Namun, keracunan akut jarang terjadi sehingga tingkat kewaspadaan masyarakat terhadap pencemaran aflatoksin pada pangan dan pakan relatif rendah.

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Karakteristik jamur

Jamur benang atau biasa disebut jamur merupakan organisme anggota Kingdom Fungi (Breuer, 2005). Pertumbuhan jamur di permukaan bahan makanan mudah dikenali karena seringkali membentuk koloni berserabut seperti kapas. Tubuh jamur berupa benang yang disebut hifa, sekumpulan hifa disebut miselium. Miselium dapat mengandung pigmen dengan warna-warna merah, ungu, kuning, coklat, abu-abu dsb. Jamur juga membentuk spora berwarna hujau, biru-hijau, kuning, jingga, merah muda dsb. Warna-warna tersebut dapat menjadi ciri khas spesies jamur (Frazier dan Westhoff, 1988). Jamur benang pada umumnya bersifat aerob obligat, pH pertumbuhan berkisar 2-9, suhu pertumbuhan berkisar 10-35ºC, water activity (aw) 0,85 atau bisa di bawahnya (Tournas et al., 2001).

 Jamur atau cendawan, mampu mengubah makhluk hidup dan benda mati menjadi sesuatu yang menguntungkan atau merugikan (Hastono, 2003). Jamur memiliki potensi bahaya bagi kesehatan manusia atau hewan. Organisme ini dapat menghasilkan berbagai jenis toksin yang disebut mikotoksin, tergantung jenis jamur. Jamur juga dapat menyebabkan alergi dan infeksi . Selain itu menurut Tournas et al. (2001). Jamur dapatmenyebabkan berbagai tingkat dekomposisi bahan makanan. Jamur dapat tumbuh di hasil-hasil pertanian sebelum dipanen, hasil panen yang sedang disimpan maupun bahan makanan yang telah diolah. Bahan makanan yang mengalami dekomposisi oleh jamur dapat menjadi berbau busuk dan bernoda dengan warna tertentu

Pengertian Aflatoksin

Aflatoksin merupakan segolongan senyawa toksik (mikotoksin, toksin yang berasal dari fungi) yang dikenal mematikan dan karsinogenik bagi manusia dan hewan. Spesies penghasilnya adalah segolongan fungi (jenis kapang) dari genus Aspergillus, terutama A. flavus (dari sini nama “afla” diambil) dan A. parasiticus yang berasosiasi dengan produk-produk biji-bijian berminyak atau berkarbohidrat tinggi. Kandungan aflatoksin ditemukan pada biji kacang-kacangan (kacang tanah, kedelai, pistacio, atau <a title="Bunga

matahari” href=”http://id.wikipedia.org/wiki/Bunga_matahari”>bunga matahari), rempah-rempah (seperti ketumbar, jahe, lada, serta kunyit), dan serealia (seperti gandum, padi, sorgum, dan jagung). Aflatoksin juga dapat dijumpai pada susu yang dihasilkan hewan ternak yang memakan produk yang terinfestasi kapang tersebut. Obat juga dapat mengandung aflatoksin bila terinfestasi kapang ini.

Aflatoksin merupakan nama sekelompok senyawa yang termasuk mikotoksin, bersifat sangat toksik. Aflatoksin diproduksi terutama oleh jamur Aspergillus flavus dan A. parasiticus (Wrather dan Sweet, 2006), juga dihasilkan oleh beberapa jamur lain misalnya A. nomius (Kurtzman et al.,1987), A. pseudotamarii (Ito et al., 2001), A. ochraceoroseus, Aspergillus SRCC 1468, Emericella astellata, dan Emericella spesies SRCC 2520 (Cary et al.,2005). Kontaminasi aflatoksin dalam bahan makanan maupun pakan ternak lebih sering terjadi di daerah beriklim tropik dan sub tropik karena suhu dan kelembabannya sesuai untuk pertumbuhan jamur (Lanyasunya et al., 2005). Aflatoksin memiliki tingkat potensi bahaya yang tinggi

dibandingkan dengan mikotoksin lain. Menurut Internasional Agency for Research on Cancer (IARC, 1988 dalam Suryadi dkk., 2005), aflatoksin B1 merupakan salah satu senyawa yang mampu menjadi penyebab terjadinya kanker pada manusia. Aflatoksin berpotensi karsinogenik, mutagenik, teratogenik, dan bersifat imunosupresif (Lanyasunya et al., 2005).

Semua produk pertanian dapat mengandung aflatoksin meskipun biasanya masih pada kadar toleransi. Kapang ini biasanya tumbuh pada penyimpanan yang tidak memperhatikan faktor kelembaban (min. 7%) dan bertemperatur tinggi. Daerah tropis merupakan tempat berkembang biak paling ideal.

Aflatoksin ini memiliki paling tidak 13 varian, Terdapat empat jenis aflatoksin yang telah diidentifikasi yaitu aflatoksin B1, B2, G1 dan G2.  Aflatoksin B1 dihasilkan oleh kedua spesies, sementara G1 dan G2 hanya dihasilkan oleh A. parasiticus. Aflatoksin M1, dan M2 ditemukan pada susu sapi dan merupakan epoksida yang menjadi senyawa antara.. Aflatoksin B1bersifat paling toksik (Wrather dan Sweet, 2006). Metabolisme aflatoksin B1 dapat menghasilkan aflatoksin M1, sebagaimana terdeteksi pada susu sapi yang pakannya mengandung aflatoksin B1 (Lanyasunya et al., 2005).

 

Kontaminasi Aflatoksin B1 pada Pakan Ternak

Secara umum, dilaporkan bahwa kontaminasi aflatoksin B1 pada pakan ternak relatif tinggi. Kadar aflatoksin B1 tertinggi ditemukan pada pakan konsentrat ayam, sekitar 134,2 ppb. Di Jawa Barat, jagung di pabrik pakan ternak ditemukan terkontaminasi aflatoksin B1 dengan kadar rata-rata 125,65 ppb. Pakan ayam, baik untuk starter maupun grower, juga ditemukan terkontaminasi aflatoksin dengan kisaran antara 11,5 sampai 53 ppb.

Kontaminasi Aflatoksin B1 pada Kacang Tanah Lokal

Persentase sampel kacang tanah lokal dengan kandungan aflatoksin B1 > 15 ppb secara umum ditemukan tertinggi pada tingkat pengecer (pasar tradisional) kecuali di Kabupaten Cianjur dilaporkan persentase tertinggi pada tingkat grosir (80 %). Pada musim hujan kandungan aflatoksin pada biji kering di tingkat grosir dan pengecer pasar tradisional mencapai lebih dari 5000 ppb.

Efek Aflatoksin bagi hewan dan manusia

Aflatoksin B1, senyawa yang paling toksik, berpotensi merangsang kanker, terutama kanker hati. Serangan toksin yang paling ringan adalah lecet (iritasi) ringan akibat kematian jaringan (nekrosis). Pemaparan pada kadar tinggi dapat menyebabkan sirosis, karsinoma pada hati, serta gangguan pencernaan, penyerapan bahan makanan, dan metabolisme nutrien. Toksin ini di hati akan direaksi menjadi epoksida yang sangat reaktif terhadap senyawa-senyawa di dalam <a title="Sel

(biologi)” href=”http://id.wikipedia.org/wiki/Sel_%28biologi%29″>sel. Efek karsinogenik terjadi karena basa N guanin pada DNA akan diikat dan mengganggu kerja gen.

Efek pada manusia

Banyak mikotoksin yang dapat menyebabkan berbagai penyakit pada manusia melalui makanan, salah satunya adalah kontaminasi citrinin pada produk keju karena proses fermentasi keju yang melibatkan P. citrinum dan P. expansum penghasil citrinin. Pada manusia dan hewan, citrinin dapat menyebabkan penyakit kronis, di antaranya dapat terjadi akibat toksisitas pada ginjal dan terhambatnya kerja enzim yang berperan dalam respirasi.Aflatoksin merupakan senyawa karsinogenik yang dapat memicu timbulnya kanker liver pada manusia karena konsumsi susu, daging, atau telur yang terkontaminasi dalam jumlah tertentu. Kehilangan tanaman pangan akibat kontaminasi aflatoksin juga sangat merugikan manusia, baik petani maupun kalangan industri hasil pertanian di dunia.Pada laki-laki, kandungan ochratoxin A yang terlalu tinggi di dalam tubuhnya dapat menyebabkan kanker testis.

5. Efek pada hewan

            Aflatoksin dapat menyebabkan penyakit liver pada hewan (terutama aflatoksin B1) yang ditandai dengan produksi telur, susu, dan bobot tubuh yang menurun. Untuk mereduksi atau mengeliminasi efek aflatoksin pada hewan, dapat digunakan amoniasi dan beberapa molekul penyerap.Pada ayam petelur, babi, sapi, tikus, dan mencit, toksin fumonisin sulit siserap namun penyebarannya sangat cepat dan ditemukan dapat tertimbun di hati dan ginjal hewan hingga menyebabkan kerusakan oksidatif.Senyawa ochratoxin A bersifat karsinogenik, mutagenik, teratogenik, dan mampu menimbulkan gejala imunosupresif pada berbagai hewan.Pada ternak babi, senyawa zearalenone dapat menyebabkan kelainan reproduksi yang disebut vulvovaginitis.

Batas kadar aflatoxin yang tidak berbahaya

Setelah diketahui bahwa aflatoxin berbahaya untuk kesehatan maka beberapa negara dan lembaga internasional mencari batas yang dianggap “safe“untuk berbagai komoditi. WHO/PAG berdasarkan percobaan dengan berbagai binatang, termasuk Rhesus, menganjurkan bahwa “safe level “ tersebut 30.ppb (part perbillion atau ug/kg) untuk aflatoxin Bj. Ada beberapa negara yang mengikuti anjuran WHO ini misalnya India. FDA ( Food Drug Administration) di Amerika Serikat menetapkan kadar aflatoxin maximum yang dibolehkan pada kacang tanah 15 ppb sedang pada makanan lain dan makanan ternak 20 ppb.

Dr Swedia lain lagi. Kadar aflatoxin maksimum yang dibolehkan pada bahan makanan 5 ppb untuk aflatoxin total sedangkan pada makanan ternak kadar yang dibolehkan 600 ppb aflatoxin B1. Di Indonesia sendiri pemerintah belum menetapkan kadar aflatoxin maksimum pada bahan makanan yang beredar. Beberapa instansi telah mengadakan penyuluhan pada petani

tentang cara-cara menangani hasil panenan sehingga dengan tidak langsung akan mengurangi pencemaran oleh aflatoxin

 

Teknologi Pasca Panen Untuk Pengendalian Kontaminasi Aflatoksin Pada Kacang Tanah

1. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada saat masak optimum (umur antara 90 – 100 hari, tergantung varietasnya) atau dengan kriteria minimal 75% polong telah terbentuk per tanaman, dan bagian kulit dalam telah berwarna gelap.

2. Segera lakukan perontokan. Cara manual (dipetik) memberi risiko kecil untuk polong rusak/luka meski kapasitasnya rendah (8-10 kg/jam/orang).

3. Polong kacang tanah harus segera dikeringkan (< 48 jam) sampai kadar air <10 % ditandai dengan ringannya polong dan nyaringnya bunyi biji bila polong dikocok, agar aman dari risiko kontaminasi aflatoksin. Pada musim kemarau, kadar air tersebut dapat dicapai dengan pengeringan 3 hari di atas lantai jemur, namun menjadi lebih lama bila pemanenan jatuh pada musim hujan. Untuk mengatasinya, dapat digunakan alat pengering tipe bak yang kapasitasnya 500 kg polong basah, dengan suhu pengeringan 50°C selama 12 jam. Agar proses pengeringan berjalan dengan baik, polong kacang tanah tersebut harus diaduk/dibalik setiap 2 jam untuk meratakan suhunya. Namun, alat ini kurang ekonomis untuk petani perorangan karena biayanya relatif mahal, sehingga lebih sesuai untuk pedagang pengumpul/besar.

4. Pengupasan polong harus semaksimal mungkin menghindari rusaknya polong. Pisahkan polong yang muda, keriput, busuk, dan luka atau rusak dari polong yang baik untuk mencegah kontaminasi aflatoksin pada kacang tanah lainnya.

5. Agar aman disimpan, kadar air kacang tanah harus < 9% untuk polong dan < 7% untuk biji. Oleh karena itu, penyimpanan sebaiknya dilakukan pada kondisi ruang penyimpan yang sejuk (suhu 27°C) dan kering (kelembaban nisbi 56-70%) dengan menggunakan bahan pengemas kedap udara dan diletakkan secara bertumpuk di atas rak-rak kayu serta diberi jarak dengan dinding. Untuk skala besar, penyimpanan biji kacang tanah (kadar air 8%) dalam karung goni yang dirangkap dengan kantong plastik polietilen tipis dilaporkan efektif sampai 6 bulan dengan kadar aflatoksin 16,8 ppb.

PEMBAHASAN

Aflatoksin dihasilkan oleh A. flavus dan beberapa jamur lain, cyclopiazonic acid dapat dihasilkan oleh A. flavus. Selain berpotensi menghasilkan toksin, jamur dalam bahan makanan menghasilkan berbagai enzim yang dapat merombak senyawa-senyawa yang terkandung dalam

bahan makanan tersebut, sehingga mempengaruhi kualitasnya terutama apabila disimpan terlalu lama. Menurut Frazier dan Westhoff (1988), A. niger dapat menghasilkan enzim amilase, selulase, oksidase, oksidase glukosa, lipase dan pektinase.

Ternak yang mengkonsumsi pakan yang mengandung A. flavus dalam jangka waktu yang lama dikhawatirkan asupan aflatoksin akan terakumulasi dalam tubuh, mengingat zat ini sulit didegradasi, sehingga dapat menimbulkan gangguan kesehatan yang bersifat kronis. Menurut Etzel (2005), penderita hepatitis B memiliki resiko lebih tinggi menderita kanker hepatoseluler apabila makanannya mengandung aflatoksin B1.

Terdapat 18 jenis racun aflatoksin, empat yang paling kuat daya racunnya adalah aflatoksin B1, G1, B2, dan G2. Tahun 1988, International Agency for Research on Cancer menyatakan bahwa aflatoksin B1 bersifat karsinogen (menyebabkan kanker) pada manusia. Terdapat dua jenis efek toksisitas aflatoksin: akut dan kronis. Toksisitas akut terjadi tak lama setelah mengonsumsi bahan makanan yang terkontaminasi racun dengan dosis relatif besar dan yang terserang adalah hati, pankreas, serta ginjal. Pada efek kronis, aflatoksin menyebabkan timbulnya kanker hati (hepatic carcinoma). Kapang penghasil aflatoksin bisa mencemari berbagai komoditi makanan. Salah satu komoditi yang sangat rentan adalah kacang tanah dan produk olahannya, seperti kacang goreng, sambal pecel, minyak goreng, oncom, bungkil kacang tanah, dan selai kacang tanah.

Kontaminasi Aflatoksin dapat ditemukan pada setiap rantai pangan. Berikut akan dipaparkan hasil survey yang dilakukan di beberapa kota di pulau Jawa. Jumlah sampel yang diambil masih terbatas dan belum representative tetapi diharapkan dapat memberikan gambaran sepintas mengenai pencemaran aflatoksin pada pangan. Pada pangan segar nabati, terutama kacang tanah, ditemukan aflatoksin B1 dengan kadar cukup tinggi, termasuk pakan ternak yang dibuat dari kacang tanah dan jagung. Sejauh ini pada pangan segar hewani seperti hati sapi, daging sapi, telur itik, dan telur ayam, umumnya kadar aflatoksin B1 yang ditemukan masih dalam kisaran aman.

Survei yang dilakukan oleh Badan POM RI mengenai cemaran aflatoksin B1 pada produk olahan kacang tanah mencatat bahwa bumbu pecel/gado-gado mengandung aflatoksin B1 paling tinggi, dimana di antara 13 sampel yang diuji didapatkan 6 sampel tidak memenuhi syarat (PPOMN 1988). Hasil uji sampel pada tahun 1991 kembali melaporkan bahwa sampel yang tidak memenuhi syarat didominasi bumbu pecel, dimana dari 13 sampel yang diuji ditemukan 6 sampel tidak memenuhi syarat (22 – 345 ppb). Untuk kacang tanah tanpa kulit, ditemukan kontaminasi aflatoksin B1 melebihi batas aman di Bandung (2341 ppb), Pekanbaru (1781 ppb), Bandar Lampung (401 ppb), Yogyakarta (330 ppb), serta Makasar (48 ppb) (PPOMN, 2001).

Untuk mendeteksi keberadaan aflatoksin pada bahan dasar pakan dan pakan ternak, telah tersedia metode analisis yang cepat, sensitif, dan spesifik yaitu enzyme linked immunosorbent assay (ELISA). Keuntungan dari teknik analisis ini adalah sangat sensitif dan spesifik dengan menggunakan antibodi. Selain itu, waktu analisisnya cepat, baik pada contoh tunggal maupun banyak. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kontaminasi aflatoksin B1 secara ELISA pada contoh pakan ternak dan bahan dasarnya.

ELISA adalah suatu teknik deteksi dengan metode serologis yang berdasarkan atas reaksi spesifik antara antigen dan antigen dan antibodi yang teradsorpsi secara pasif pada permukaan fase padat dengan menggunakan konjugat antibody atau antigen yang dilabel enzim. Enzim ini akan bereaksi dengan substrat dan menghasilkan warna. Warna yang timbul dapat ditentukan secara kualitatif dengan pandangan mata atau kuantitatif dengan pembacaan nilai absorbansi (OD) pada ELISA plate reader. antibodi, mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi dengan menggunakan enzim sebagai indikator. Prinsip dasar ELISA (Burgess 1995) adalah analisis interaksi antara.

Daun sambiloto (Andragraphis paniculata Nees), yang dikenal sebagai bahan baku jamu mampu menghambat pertumbuhan aflatoksin. Titik cerah dalam penanggulangan cemaran kapang Aspergillus yang masih banyak terjadi di industri peternakan kita. Siapa sangka daun sambiloto (Andragraphis paniculats Nees) yang lebih dikenal sebagai salah satu ramuan jamu tradisional ternyata mampu menangkal kapang Aspergillus flavus atau Aspergillus parasiticus, penyebab utama terjadinya Aflatoksin. Tidak itu saja ekstrak daun sambiloto ini sangat dimungkinkan mampu menekan munculnya penyakit aspergillosis pada unggas. Ekstrak daun sambiloto 20 ml mampu menekan pertumbuhan kapang Aspergillus sp secara nyata.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Bahaya aflatoksin terdiri dari akut dan subkronik letal; Bahaya akut meliputi sirosis hati dan kematian, sedangkan bahaya subkronik letal meliputi kanker, peningkatan toksisitas pada HBV positif, penghambatan imunitas, dan berbagai gangguan gizi. Respon dosis aflatoksin antara lain: bahaya akut terjadi apabila terpapar aflatoksin dosis tinggi (minimal 1 ppm); bahaya kronik kanker terjadi apabila terpapar aflatoksin dengan dosis berapa pun; peningkatan toksisitas pada HBV positif tidak diketahui dosis spesifiknya; penghambatan imunitas dan berbagai gangguan gizi pada manusia terjadi apabila paparan aflatoksin dengan dosis rendah (minimal 0,2 ppm). Paparan pada tubuh akibat mengkonsumsi makanan produksi nasional adalah < 0,2 ppm.

Saran

Perlu diadakan pemeriksaan secara khusus terhadap makanan yang mengandung Aflatoksin dan mengetahui seluruh bahaya, meliputi bahaya biologis maupun bahaya kimia sehingga dapat diangkat sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan regulasi nasional dalam melindungi kesehatan masyarakat Indonesia

About these ads
 
Leave a comment

Posted by on May 21, 2011 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: