RSS

Salmonella sp dan Streptomyces sp

04 Jul

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

           Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan laporan Ko-Asistensi Mikrobiologi  kami dengan judul “Salmonella sp dan Streptomyces sp” yang merupakan salah satu tugas dalam menyelsaikan Ko-Asistensi kami pada laboratorium Mikro Biologi, Fakultas kedokteran Hewan Universitas  Syiah Kuala. Salawat beriring salam kami sanjungkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa umatnya dari alam kebodohan ke alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan.

            Kami sangat menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang terdapat pada penulisan paper ini,  kami menerima segala masukan yang di berikan untuk perbaikan paper ini, agar dapat menjadi lebih baik. Kami sangat berharap bahwa tulisan ini dapat bermanfaat untuk dijadikan sebagai sumber informasi atau sebagai bahan bacaan.

PENDAHULUAN

Dalam mikrobiologi dipelajari berbagai mikroorganisme, hubungan antara seksamanya dan juga kelompok organismelainya, guna pengendalian peranan dan kesehatan serta kesejahteraan manusia dan hewan. Pada dasarnya mikrooranisme  sangat berhubungan dengan kesehatan yaitu  penyebab penyakit. Berbagai penyakit yang disbabkan oleh mikroorganisme bakteri,  virus, dan jamur.

Samonellosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri  salmonella yang dapat menginfeksi hewan dan manusia dengan tanda-tanda septikemia gastro enteritis dan diare. Hewan sehat dapat bertindak sebagai pembawa bakteri. Salmonella Sp. yang menjadi sumber penularan bagi hewan lain  terutama pada saat  kondisi badannya lemah.

Jamur merupakan salah satu mikroorganisme penyebab penyakit pada hewan dan manusia. Penyakit yang disebabkan jamur pada manusia dan hewan  disebut mikosis, yaitu mikosis superficial dan mikosis sistemik. Mikosis superfisial merupakan mikosis yang menyerang kulit, kuku dan rambut terutama. Sedangkan mikosis sistemik merupakan mikosis yang menyerang alat-alat dalam, seperti jaringan sub-cutan, paru-paru, ginjal, jantung, mukosa mulut, usus dan vagina (Aanonimus,2009).

Mycetoma adalah penyakit yang disebabkan oleh Streptomyces sp dengan gejala klinik Lesi bengkak dan lokal di lokasi trauma. Ada beberapa abses, sinus pengeringan, dan nanah dengan butiran . Jamur Streptomyces juga berperan penting dalam kesehatan dan industri karena Streptomyces mensintesis antibiotik. Lebih dari 50 antibiotik diisolasi dari spesies Streptomyces (Anonimus, 2010).

KASUS I .

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI

 

Sampel : Swab Tenggorokan Ayam

  1. A.      Anamnesa

Nama pemilik                               : Andi

Jenis hewan                                  : Ayam broiler

Umur                                            : 28 hari

Kelamin                                        : Betina

Alamat Pasien                              : Pasar Lamnyong

Lamanya menderita sakit             : 5 hari

Status Gizi                                   : Kurang baik

  1. B.       Diagnosa  Laboratorium

Cara Pengambilan Sampel

     Pengambilan sampel dilakukan dengan cara melakukan swab pada tenggorokan ayam dengan menggunakan lidi kapas steril, lalu dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi Nutrient Broth (NB), lidi kapas steril sedikit dipatahkan untuk menghindari kontaminasi dan dihomogenkan. Selanjutnya sampel dimasukkan ke dalam termos yang berisi es lalu dibawa ke Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala. Setelah sampai di Laboratorium Mikrobiologi, dari sampel tersebut dilakukan pewarnaan sederhana untuk melihat ada atau tidaknya bakteri yang terdapat pada sampel tersebut. Setelah dilakukan pewarnaan sederhana, kemudian sampel diinkubasikan ke dalam inkubator pada suhu 370 C selama 18-24 jam.

  1. C.      METODE / UJI/ TEST YANG DILAKUKAN

1)        Pewarnaan Sederhana

            Pewarnaan sederhana dilakukan untuk melihat ada tidaknya bakteri. Prosedur pewarnaan sederhana mudah dan cepat, sehingga pewarnaan ini sering digunakan juga untuk melihat bentuk, ukuran dan pemetaan mikroorganisme. Pada uji ini hanya digunakan 1 macam zat warna untuk meningkatkan kontras antara mikroorganisme dan sekelilingnya. Pada umumnya pewarnaan ini menggunakan zat warna seperti Crystal Violet, Methylen Blue, Safranin (Fuchsin) dan Malachit Green.

Cara Kerja:

Buat sediaan

a)      Bersihkan kaca object dengan sepotong kapas yang dibasahi dengan alkohol 70 %.

b)      Diambil satu tetes NaCl fisiologis, teteskan di atas object glass.

c)      Homogenkan tabung yang berisi suspensi bakteri, kemudian dengan menggunakan ose steril diambil supensi bakteri dan diteteskan ke atas object glass yang telah ditetesi NaCl fisiologis.

d)     Ratakan suspensi bakteri dengan NaCl fisiologis.

e)      Fiksasi di atas api bunsen.

  1. Pewarnaan sederhana

a)      Genangi dengan salah satu zat warna (methilen blue, air fuchsin, safranin) selama 1-2 menit.

b)      Buang sisa zat warna, cuci dengan air mengalir,sampai zat warna hilang.

c)      Keringkan di udaraAmati di bawah mikroskop dengan, pembesaran 1000x.

2)        Penanaman Bakteri Pada Media NA (Nutrient Agar)

Media ini berfungsi untuk mendapatkan koloni yang terpisah dari biakan bakteri dan untuk melihat morfologi kolon dari bakteri.

Cara Kerja:

  1. Ose dipanaskan di api bunsen lalu didinginkan sejenak.
  2. Dengan menggunakan ose diambil suspensi kuman dari biakan NB, kemudian digoreskan pada media NA dengan menggunakan metode gores (dilakukan di dekat nyala api bunsen).
  3. Diinkubasikan pada suhu 370 C dalam inkubator selama 18-24 jam.
  4. Diamati morfologi koloni yang terbentuk.

3)        Pewarnaan Gram

Pewarnaan Gram merupakan pewarnaan differensial yang sangat berguna dan merupakan tahap penting dalam mengidentifikasi bakteri. Pewarnaan ini memisahkan bakteri menjadi kelompok Gram positif dan Gram negatif. Bakteri Gram positif akan terlihat berwarna ungu dan bakteri Gram negatif berwarna merah.

Cara Kerja:

1)      Buat Sediaan

  1. Bersihkan kaca object dengan sepotong kapas yang dibasahi dengan Alkohol 70 %.
  2. Diambil satu tetes NaCl fisiologis, teteskan di atas object glass
  3. Diambil sebahagian koloni bakteri yang terpisah dari media NA dengan menggunakan ose yang steril yang telah didinginkan terlebih dahulu, dan letakkan di atas object glass.
  4. Ratakan koloni dengan NaCl fisiologis.
  5. Fiksasi diatas.

2)      Pewarnaan Gram

  1. Genangi sedian dengan Gentian Violet pada object glass dan biarkan selam 3-5 menit.
  2. Cuci dengan air mengalir.
  3. Genangi sedian dengan larutan lugol selama 1 menit.
  4. Cuci dengan air mengalir.
  5. Lunturkan dengan Alkohol 96 % selama 10 detik sampai zat warna hilang.
  6. Cuci dengan air mengalir.
  7. Genangi sediaan dengan larutan safranin selama satu menit.
  8. Cuci dengan air mengalir.
  9. Keringkan sediaan di udara atau tekan perlahan-lahan dengan kertas saring.
  10. Tetesi sediaan dengan minyak emersi lalu amati di bawah mikroskop dengan pembesaran 1000x

4)        Penanaman Pada Media Mc. Conkey

Cara kerja :

  1. Sediakan plate agar Mc. Conkey
  2. Ambil ose, lalu disterilkan di atas nyala api bunsen sampai berpijar dengan sudut 450C.
  3. Dengan menggunakan ose yang sudah steril, diambil sebagian bakteri dari NA, kemudian digoreskan pada media NA dengan menggunakan metode gores (dilakukan di dekat nyala api bunsen).
  4. Diinkubasikan media Mc. Concey ke dalam inkubator pada suhu 370C selama 18-24 jam.

5)        Penanaman Pada NA Miring

Subkultur untuk mendapatkan biakan murni dapat dilakukan pada agar miring.

Cara Kerja:

  1. Dengan menggunakan ose steril sentuhkan mata ose yang steril tersebut pada sebagian dari koloni yang  terpisah  dari koloni yang sama yang terdapat pada media agar.
  2. Penanaman pada agar miring dilakukan dengan membuat goresan yang berkelok-kelok pada permukaan agar miring.
  3. Kemudian inkubasikan ke dalam inkubator pada suhu 370C selama 18-24 jam.

6)         Penanaman pada media BGA (Brilian green Agar)

Cara kerja :

  1. Sediakan plate agar BGA
  2. Ambil ose, sterilkan dengan cara panaskan mata ose di atas nyala api bunsen sampai berpijar dengan sudut 450C.
  3. Dengan menggunakan mata ose yang terlebih dahulu didinginkan, diambil biakan bakteri dari NA miring yang telah diinkubasikan pada suhu 370C selama 18-24 jam.
  4. Amati tumbuh tidaknya koloni bakteri.

7)        Uji Biokimia

  1. a.         Simmon’s Citrat Agar

a)         Dengan menggunakan ose steril, diambil biakan dari NA miring, lalu ditanam pada media Simmon’s citrat dengan cara digores secara zig zag pada permukaannya.

b)        Diinkubasikan pada suhu 370C selama 24 jam.

  1. b.   TSIA (Triple Sugar Iron Agar)

a)      Dengan menggunakan ose steril, diambil biakan dari NA miring, lalu ditanam pada media TSIA dengan cara menusuk ose sampai sepertiga dasar tabung. Kemudian diangkat dan digores secara zig zag pada permukaannya.

b)      Diinkubasikan pada suhu 370C selama 24 jam.

  1. c.    Indol

a)      Dengan menggunakan ose steril, diambil sebagian koloni dari NA miring lalu diinokulasikan pada media indol dengan cara diaduk, kemudian diinkubasikan pada suhu suhu 370C selama 24 jam.

b)      Pada media indol ditambahkan 1-2 tetes reagen kovacs.

  1. d.   SIM (Sulfid Indol Mortility)

a)      Dengan menggunakan ose steril, diambil koloni dari biakan Mc. Conkey agar, kemudian ditanam pada media SIM dengan cara menusuk ose tegak lurus.

b)      Inkubasikan pada suhu 370C selama 24 jam.

  1. e.    Gula-gula (Glukosa, Sukrosa, Laktosa dan Mannitol)

a)      Dengan menggunakan ose steril, diambil biakan dari NA miring, kemudian ditanam pada media Glukosa, Sukrosa, Laktosa dan Manitol dengan cara mengaduk dengan ose secara perlahan-lahan dipermukaan tabung. Lalu dihomogenkan.

b)      Diinkubasikan pada suhu 370C selama 24 jam.

  1. f.     Uji Sensitifitas Terhadap Antibiotik

a)      Sediakan Mueller Hinton Agar (MHA).

b)      Swab yang steril dicelupkan ke dalam biakan bakteri pada Nutrient Broth, kemudian diswab ke seluruh permukaan media MHA dengan merata dibiarkan selama ± 5 menit.

c)      Selanjutnya diletakkan 4 jenis cakram disk antibiotik (Vancomisin, Tetrasiklin, Streptomisin dan Gentamisin).

d)     Kemudian diinkubasikan pada suhu 370C selama 24 jam.

  1. D.      HASIL PENGAMATAN
  2. 1.        Pewarnaan Sederhana (Simple staining)

            Pewarnaan sederhana dilakukan untuk melihat ada atau tidaknya bakteri dalam sampel. Pada pewarnaan sederhana digunakan satu macam zat warna yang bersifat basa yaitu gentian violet. Pewarnaan ini terjadi karena kation zat warna berkaitan dengan anion protoplasma bakteri. Hasil pewarnaan sederhana dapat di lihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Pewarnaan sederhana dengan pembesaran 1000x.

Pada pewarnaan sederhana, setelah diamati di bawah mikroskop terlihat adanya bakteri dengan bentuk basil pendek dan ada beberapa bakteri lain yang berbentuk kokus hal ini membuktikan bahwa sampel yang diuji terdapat bakteri.

  1. 2.        Penanaman pada media Nutrien Agar (NA)

Hasil pengamatan pada media nutrient agar (NA) yang telah ditanam dari biakan media nutrient broth (NB) dapat dilihat pada Gambar 2

.

Gambar 2.  Penanaman bakteri pada media  nutrient agar (NA)

Pada media nutrient agar (NA), dapat diamati morfologi dari koloni bakteri yang telah tumbuh. Morfologi dari koloni tersebut dapat di lihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil pengamatan pertumbuhan koloni bakteri pada media nutrient            agar (NA)

Bentuk

Diameter (mm)

Tepi koloni

Permukaan

Konsistensi

Warna

Medium

Bulat

2 mm

Rata

Cembung

mengkilat

Putih kekuningan

Tidak berubah

Nutrient Agar (NA) merupakan media sederhana yang dibuat dari ekstrak beef, pepton, dan agar. NA merupakan salah satu media yang umum digunakan dalam prosedur bakteriologi seperti uji biasa dari air, sewage, untuk membawa stok kultur, untuk pertumbuhan sampel pada uji bakteri, dan untuk mengisolasi organisme dalam kultur murni. Media ini berbentuk padat yang digunakan untuk pembiakan bakteri sehingga ditemukan koloni bakteri yang berjenis sama sehingga dapat diketahui bentuk, ukuran, konsistensi, warna koloni bakteri, serta perubahan medium sebelum dilakukannya uji lanjutan.

  1. 3.        Pewarnaan Gram

Pewarnaan Gram dilakukan untuk mengetahui apakah bakteri bersifat  Gram positif atau Gram negatif. Hasil dari pewarnaan Gram yang telah dilakukan terlihat bahwa bakteri berwarna merah. Hal ini menandakan bahwa bakteri tersebut bersifat Gram negatif. Hasil pewarnaan Gram dapat dilhat pada gambar 3. Pada pewarnaan  Gram bakteri terlihat berbentuk basil pendek dan berwarna merah.

 

Gambar 3. Pewarnaan Gram pembesaran 1000x

            Bakteri Gram negatif  akan terlihat berwarna merah, hal ini dikarnakan oleh bakteri Gram negatif mempunyai lapisan peptidoglikan yang tipis, yaitu hanya 1-2 lapisan. Oleh sebab itu, maka pori-pori pada dinding sel Gram negatif cukup besar dan karena permeabilitasnya yang tinggi memungkinkan terjadinya pelepasan komplek ungu kristal yodium. Dalam proses pewarnaan Gram, pencucian dengan alkohol akan menyebabkan terekstrasinya lipid pada bakteri Gram negatif. Hal ini menyebabkan komplek ungu kristal yodium yang telah memasuki dinding sel pada langkah awal pewarnaan dapat terekstraksi. Sedangkan pada bakteri Gram positif, mempunyai lapisan dinding sel yang kaku dengan lapisan peptidoglikanyang terdiri dari 30 lapisan. Permeabilitas dinding sel bakteri gram positif yang rendah mengakibatkan kompleks ungu Kristal-yodium (UKY) tidak dapat keluar setelah pencucian dengan alkohol. Kandungan lipid Gram positif yang rendah, maka dinding selnya akan terhidrasi akibat pemberian alkohol, sehingga pori-pori mengecil, permeabilitas berkurang dan komplek UK-Y tidak dapat terekstraksi.

  1. 4.        Penanaman pada Mc Conkey Agar

     Mc. Conkey merupakan media selektif untuk kuman, karena yang dapat tumbuh hanya kuman Gram negatif, sedangkan Gram positif dihambat pertumbuhannya oleh garam empedu dan neutral red.

Gambar 4. Koloni bakteri pada media Mc. Conkey

Dari hasil pengamatan koloni berbentuk  bulat, warna kuning, tepi beraturan, permukaan cembung. Mc. Conkey Agar adalah media selektif, mengandung zat penghambat berupa garam empedu dan neutral red. Media ini digunakan untuk pembiakan bakteri dari famili Enterobakteriacea dan semua bakteri Gram negatif yang dapat atau tidak memfermentasikan laktosa.

  1. 5.        Penanaman pada  nutrient agar (NA) miring

            Pada penanaman NA miring terlihat koloni berwarna putih. Media ini berfungsi untuk mendapatkan biakan  bakteri yang murni dan juga berfungsi untuk stock bakteri. Biakan bakteri pada nutrient agar (NA) miring dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Biakan bakteri pada media nutrient agar (NA) miring

  1. 6.  Penanaman pada BGA (Brilian green Agar)

            Media ini sangat selektif untuk isolasi Salmonella sp dan  Salmonella typhy yang akan terlihat berwarna merah dikelilingi zona merah. Pseudomonas dihambat, tetapi jika tumbuh menyerupai koloni Salmonella berwarna merah. Untuk menetapkan kontaminan tersebut Salmonella atau Pseudomonas diperlukan konfirmasi dengan media lain.

Gambar 6. Koloni bakteri pada media BGA

  1. 7.        Uji Biokimia

Hasil uji biokimia yang diamati setelah 24 jam adalah

Gambar 7. Hasil uji biokimia dan gula-gula (glukosa, laktosa, sukrosa, dan manitol)

Hasil uji biokimia dan gula-gula (glukosa, laktosa, sukrosa, dan manitol) dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil uji biokimia dan gula-gula (glukosa, laktosa, sukrosa, dan manitol)

TSIA

Simmon’s

Citrate

SIM

Indol

MR

VP

Glukosa

Laktosa

Manitol

Sukrosa

(+) H2S (merah hitam)

(+) berubah warna menjadi Biru

Motility

(-) cicin hijau

(+) berubah warna menjadi merah

(-) tidak berubah warna

(+) adanya gas dan terjadi sedikit perubahan warna

(-) tidak berubah warna

(+) berubah warna menjadi kuning dan ada gas

(-) tidak berubah warna

-          Uji TSIA

            Pada uji TSIA positif menunjukkan media slant berubah menjadi kuning karena bakteri bersifat asam. Hal ini sesuai dengan pernyataan Gupte (1990) yang menyatakan bahwa pada fermentasi daerah slant bakteri tidak memfermentasi laktosa dan sukrosa. Hasil fermentasi pada daerah butt/tegak berubah berwarna kuning menandakan bakteri memfermentasi glukosa. Pada media TSIA, hasil positif juga dapat ditunjukkan dengan perubahan warna media TSIA menjadi warna hitam. Perubahan ini menandakan bahwa bakteri yang terdapat pada media TSIA tersebut menghasilkan gas H2S. hasil uji biokimia pada TSIA dapat dilihat pada Gambar 8.

                     

Media TSIA                                   Hasil TSIA ( Positif)

Gambar 8. Hasil uji biokimia pada TSIA

-          Uji Simmon’s Citrat Agar

            Uji Simmon’s Citrat Agar digunakan untuk melihat kemampuan mikroorganisme menggunakan citrat sebagai satu-satunya sumber karbon dan energi. Media ini merupakan medium sintetik dengan NA citrat sebagai satu-satunya sumber karbon, NHA+ sebagai sumber N dan Brom Thymol Blue sebagai indikator pH. Pada uji ini menunjukkan reaksi positif. Hal ini ditandai dengan adanya perubahan warna media dari hijau menjadi biru. Ini karena dasar dari medium mampu dihilangkan sehingga terjadi peningkatan pH yang nantinya akan menambah warna media dari hijau menjadi biru bila keadaan menjadi alkalin. Hasil uji biokimia simmon’s Citrat agar dapat dilihat pada Gambar 9.

Media Simmon’s Citrat Agar               Hasil uji Simmon’s Citrat Agar (Positif)

Gambar 9. Hasil uji biokimia Simmon’s Citrat Agar

-          Uji SIM

            Uji SIM dilakukan untuk pergerakan bakteri. Penanaman dilakukan dengan cara menusuk ose yang mengandung bakteri secara tegak lurus sampai ke seperempat dari dasar tabung. Pada uji ini terlihat pergerakan (motility) pada media yang ditusuk dengan ose dan warna media SIM berubah menjadi hitam. Hasil uji biokimia pada media SIM dapat dilihat pada Gamabar 10.

Media SIM                                        Hasil uji SIM (Motility)

Gambar 10. Hasil uji biokimia SIM

-          Uji Indol

            Indol adalah senyawa yang mengandung nitrogen yang terbentuk sebagai hasil pemecahan amino tryphosphat. Pentingnya uji Indol ialah karena hanya beberapa jenis bakteri yang dapat membentuk indol dan produk ini dapat di uji sehingga dapat digunakan sebagai identifikasi yang digunakan sebagai trythophan adalah media trypton. Pada uji indol yang telah dilakukan diperoleh hasil yang Negatif (-), yaitu ditandai dengan terbentuknya cincin hijau. Hal ini menandakan bahwa bakteri tersebut tidak menggunakan triptopan sebagai sumber energinya, sehingga bakteri tersebut tidak mapu menghasilkan indol (cincin merah). Hasil uji biokimia indol dapat dilihat pada Gambar 11.

            Larutan  Indol                              hasil uji Indol (Negatif) cicin hijau

Gambar 11. Hasil uji biokimia Indol

-          UJI MR-VP

            Uji MR yang telah dilakukan, diperoleh hasil yang positif yaitu ditandai dengan terjadinya perubahan warna indikator menjadi merah. Genus bakteri seperti bakteri Escherichia, Salmonella, proteus dan Aeromonas mampu mempermentasikan glukosa dan menghasilkan banyak sekali asam laktat, asetat, suksina dan format di samping CO­­2, H2 dan etanol. Akumulasi asam-asam ini menurunkan pH sampai 5,0 atau kurang. Bila indikator merah metil ditambahkan pada biakan tersebut dengan pH serendah itu, maka indikator tersebut menjadi merah. Hal ini manandakan bahwa organisme yang bersangkutan adalah peragi asam campuran (mixed acid fermenter). Hasil uji MR-VP dapat dilihat pada Gambar 12.

Larutan MR-VP             Hasil MR (Positif)                          Hasil VP ( Negatif)

Gambar 12.  Uji MR-VP

-          Uji Gula- gula

            Uji gula-gula dilakukan untuk mengidentifikasi bakteri yang mampu mempermentasi karbohidrat. Pada uji gula-gula terjadi perubahan warna pada  manitol yamg merubah warna ungu menjadi warna kuning dan juga terlihat adanya pembentukan gelembung gas pada tabung Durham. Pada uji glukosa tidak terjadi perubahan warna, tetapi terlihat adanya pembentukan gelembung gas. Pada uji laktosa dan sukrosa memperlihatkan hasil yang negatif yaitu tidak terjadinya perubahan warna dan tidak terlihat adanya pembentukan gelembung gas pada tabung Durham. Perubahan warna yang terjadi menandakan bahwa bakteri ini membentuk asam dari fermentasi glukosa. Pembentukan gelembung gas yang terjadi pada tabung Durham disebabkan oleh adanya reaksi permentasi karbohidrat (Hadioetomo, 1985). Hasil uji gula- gula (laktosa, glukosa, sukrosa dan manitol) dapat dilihat pada Gambar 13.

         

Larutan gula- gula lakosa, glukosa, sukrosa dan manitol               Hasi uji gula- gula lakosa, glukosa, sukrosa dan manitol

Gambar 13 . Hasi uji gula- gula (lakosa, glukosa, sukrosa dan manitol)

Uji Sensitifitas terhadap Antibiotik

            Uji sensitifitas dilakukan pada permukaan MHA (Mueller Hinton Agar). Mueller Hinton Agar merupakan media diferensial yang digunakan untuk melakukan uji sensitifitas terhadap beberapa antibiotik yang dilakukan dengan cara mengambil biakan bakteri dari nutrient bruth (NB) dengan menggunakan lidi kapas steril. Lalu diusapkan merata pada seluruh permukaan media MHA. Kemudian ditempelkankan beberapa disk antibiotik di atas permukaan media MHA dengan jarak tertentu dan diinkubasikan ke dalam incubator selama 24 jam pada suhu 370C. Antibiotik yang di gunakan pada uji sensitifitas adalah streptomisin, tetrasiklin, vankomisin dan gentamisisn. Hasil uji sensitivitas dapat di lihat pada Gambar 14.

Gambar 14. Uji sensitivitas pada media MHA

Keterangan :

A.  Antibiotik Vancomisin 30 μg

B.  Antibiotik Streptomisin 30 μg

C. Antibiotik Tetrasiklin 30 μg

D. Antibiotik Gentamisin 30 μg

            Pada Gambar 12 terlihat bahwa antibiotik Strepoimisin dan Vancomisin tidak memperlihatkan adanya zona hambat. Antibiotik Gentamisin dan Tetrasiklin mampu menunjukkan adanya zona hambat, akan tetapi zona hambat yang tersentuk belum tergolong sensitif. Antibiotik  Gentamisin mempunyai  zona hambat 10 mm dan Tetrasiklin mempunyai zona hambat 3 mm. Antibiotik Streptomisin dan Vancomisin tidak memperlihatkan adanya zona hambat. Zona hambat antibiotik terhadap bakteri  dapat di lihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Zona hambat antibiotik terhadap bakteri

No

Jenis Antibiotik (Kode)

Dosis

Diameter Zona Hambat (mm)

1

Tetrasiklin (TE 30)     30µg        Resistent

2

Vankomisin (VA 30)     10µg        Resistent

3

Gentamisin (CN 10)     30µg        10 mm (Resistent)

4

Streptomisin (S 10)     10µg       3,0 mm (Resistent)

            Berdasarkan toksisitas selektif, ada antimikroba yang yang bersifat menghambat pertumbuhan mikroba, dikenal sebagai aktivitas bakteriostatik dan ada yang bersifat membunuh mikroba, dikenal sebagai aktivitas bakterisid. Berdasarkan spektrumnya, antimikroba dibagi menjadi dua, yaitu spektrum sempit dan spektrum luas (Tjay dan Rahardja, 2002). Tetrasiklin dan Gentamisin merupakan antibiotik spekrum luas, sedangkan Streptomisin dan Vancomisin merupakan antibiotik spekrum sempit (Anonimus, 2007).

            Antibiotik adalah zat-zat kimia yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri yang memiliki khasiat membunuh atau menghambat  pertumbuhan bakteri (Tjay dan Rahardja, 2002). Tetrasiklin merupakan antibiotik spektrum luas yang penggunaannya pada akhir-akhir ini telah menurun karena meningkatnya masalah resistensi bakteri (Gould, 2003).

            Berdasarkan mekanisme kerjanya, antibiotik dapat dibagi menjadi lima kelompok. Mekanisme tersebut adalah 1). mengganggu metabolisme sel bakteri. 2). menghambat sintesis dinding sel bakteri. 3). mengganggu permeabilitas membran sel bakteri. 4). menghambat sintesis protein sel bakteri dan 5). menghambat sintesis atau merusak asam nukleat sel bakteri (Tjay dan Rahardja, 2002). Tetrasiklin bekerja dengan cara menghambat sintesis protein bakteri pada ribosom (Anonimus, 2007). Tetrasiklin termasuk antibiotik yang bersifat bakteriostatik yaitu mampu menghambat pertumbuhan bakteri.

  1. E.       DIAGNOSA

Berdasarkan Hasil identifikasi yang telah dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi, maka bakteri yang ditemukan dari sampel swab tengorokan pada ayam broiler  adalah bakteri Salmonella sp.

  1. F.       DIFERENSIAL DIAGNOSA

            E. coli . dan Shigella

 

  1. G.      KESIMPULAN KASUS

Setelah dilakukan isolasi dan identifikasi bakteri terhadap swab  tenggorakan ayam, maka dapat disimpulkan bahwa bakteri ini termasuk kepada genus  Salmonella sp.  Hal ini ditandai dengan sifat koloni bakteri pada media NA, hasil pewarnaan Gram negatif, penanamam pada media BGA positif  dan kemudian pada uji biokomia menghasilkan TSIA positif yaitu ditandai dengan terjadinya perubahan warna merah menjadi hitam (positif H2S), Simmon’s Citrat positif (biru), SIM Motility (berflagella), Indol negatif ( cicin hijau), MR positif (merah) VP negatif. Pada uji gula-gula menghasilkan  glukosa positif, laktosa negatif,  manitol positif,  sukrosa negatif.

Pada uji sensitifitas, Tetrasiklin, Vancomisin, Gentamisin dan Streptomisin sudah resisten terhadap bakteri Salmonella sp.

G. PEMBAHASAN KASUS

Etiologi

            Salmonella sp merupakan bakteri yang dapat menyebabkan terjadinya salmonellosis. Salmonellosis merupakan infeksi bakteri Salmonella yang sering terdapat pada unggas seperti ayam. Penyebab salmonellosis pada unggas dapat berasal dari Salmonella anatum, Salmonella typhimurium dan Salmonella enteritidis. Dari ketiga jenis bakteri ini, yang paling banyak dijumpai di Indonesia adalah Salmonella typhimurium dan Salmonella enteritidis (Anonimus, 2006)

 

Morfologi dan sifat Salmonella sp

            Salmonella sp berbentuk batang, tidak berspora, pada pewarnaan Gram bersifat Gram negatif, besar koloni rata-rata 24 mm dan mempunyai flagel. Bakteri ini tumbuh pada suasana anaerob pada suhu optimum 37,50C dan pH pertumbuhan 6-8. Pada umumnya isolat bakteri salmonella dikenal dengan sifat-sifat gerak positif, reaksi terhadap permentasi manitol positif, reaksi indol dan vagos proskauer  menunjukkan hasil yang negatif dan TSIA positif (Anonimus, 1994).

Patogenesis Salmonella sp

            Patogenitas Salmonellosis dapat terjadi melalui telur yang berasal dari induk yang telah menderita salmonellosis. Penularan penyakit juga dapat terjadi secara kontak lansung antara anak ayam yang menderita salmonellosis dengan anak ayam yang lainnya yang dipelihara secara bersama. Selain itu, penularan penyakit juga dapat terjadi melalui pakan, air minum dan peralatan kandang yang tercemar feces yang mengandung bakteri Salmonella (Anonimus, 2006).

            Infeksi salmonella hampir selalu berawal dari makanan dan minuman yang terkontaminasi. Penyakit ini kadang-kadang bersifat endemik pada suatu peternakan. Hewan yang masih muda lebih sering dan lebih mudah terinfeksi. Salmonella menginfeksi lapisan epitel ileum dan kolon dan dapat bertahan. Kejadian enterokolitis dan diare terjadi karena memakan salmonella Kolonisasi pada intestinum bagian bawah dengan invaginvasi mukosa. Produksi sitotoksin. Radang akut dengan atau tanpa ulcer. Sintesis prostaglandin, produksi enterotoksin, sintesa proinflamatory sitotoksin dari sel epitel. Dengan invasi pada mukosa, aktifnya adenilat siklase dan terjadi peningkatan siklik AMP menginduksi sekresi sehingga terjadi peningkatan cairan yang menyebabkan diare. Infeksi intestinal akan menyebar menjadi bakterimia atau septisemia (Carter dan Wise, 2004).

 

Gejala klinis

Unggas yang menderita Salmonellosis memperlihatkan gejala-gejala sebagai berikut:

  • Ayam tampak lesu dan  mengantuk
  • Nafsu makan menurun
  • Tampak kedinginan dan suka berderombol dengan sesama kawannya yang sakit.
  • Terjadi diare

Pencegahan

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengendalikan penyakit Salmonellosis antara lain:

  • Memelihara sanitasi kandang dan mesin tetas.
  • Anak ayam dan telur tetas yang dibeli hendaknya berasal dari pembibitan yang bebas dari penyakit Salmonella.
  • Ayam yang menderita Salmonellosis hendaknyaa tidak dijadikan bibit.
  • Menguburkan atau membakar bangkai ayam yang mati karena menderita Salmonellosis.

 

Terapi

            Pengobatan yang terbaik dilakukan dengan antibiotika yang sebelumnya didahului dengan pemeriksaan kepekaan kuman. Biasanya antibiotika khloramfenikol, neomisin, ampisilin, sediaan sulfanamida atau nitrofuran cukup baik digunakan untuk praktek. Kombinasi obat-obat tersebut misalnya khloramfenikol yang disuntikkan dibarengi dengan nitrofuran yang diberikan secara oral akan memberikan hasil yang baik (Subronto, 1985).

KASUS II

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI JAMUR

Hari pertama  (5 Februari 2010)

  1. A.    ANAMNESA

Nama pemilik              : FKH Unsyiah

Jenis hewan                 : Sapi

Umur hewan               : 2 Tahun

Jenis kelamin               : Betina

Alamat pasien             : Jl. Inong Balee Darussalam

Status gizi                   : Kurang Baik

Gejala klinis                : Bulu kusam, lemah dan anoreksia

B. DIAGNOSA LABORATORIUM

Cara pengambilan sampel

  • Diambil kira-kira 1 gram feses sapi kering dan dimasukan ke dalam larutan Buffer Pepton Water (BPW)
  • Diinkubasikan pada suhu kamar selama 24 jam

Metode / Uji / Tes yang dilakukan

Hari kedua

1. Penanaman ke Sabouraud’s Dextrose Agar (SDA)

Prosedur kerja :

  • 1 ml sampel di Pepton Water dimasukan ke dalam  cawan Petri steril.
  • Tambahkan SDA steril ke dalam cawan Petri kira-kira 15 ml dan homogenkan.
  • Inkubasikan pada suhu ruangan selama 4-7 hari, bila belum tumbuh tunggu selama 14 hari. Bila sudah 5 hari tidak ada pertumbuhan ulangi lagi.

2. penanaman pada Slide Culture

  • Dibuat potongan SDA ukuran l x l x l cm dan diletakkan di atas objek glass
  • Lalu tutup dengan cover glass
  • Letakan dalam cawan Petri steril dengan di alasi pipet
  • Lakukan penanaman jamur dengan menempelkan jamur pada keempat sisi
  • Basahi kapas dengan akuades dan letakan di SDA
  • Lalu di ingkubasikan pada suhu kamar selama 3 sampai 5 hari atau sampai  7 hari

C. HASIL PENGAMATAN

  1. Pembiakan pada Sabouraud’s Dextrose Agar (SDA)

Hasil pengamatan:

            Sabouraud’s Dextrose Agar (SDA) adalah media sintetik yang diciptakan oleh Raymond Sabouraud. SDA mengandung dekstrosa, pepton dan bahan agar (dengan kadar gula relatif tinggi dan pH rendah). Media ini terbukti sangat baik untuk pembiakan jamur secara umum (Anonimus, 2004). Koloni jamur dapat dilihat pada Gambar 15.

 

Gambar 15 Koloni jamur pada hari keenam pengamatan

            Koloni jamur dapat dilihat  pada SDA yaitu pada hari kelima setelah penanaman, namun bentuk koloni baru bisa diamati dengan baik pada hari keenam. Pada SDA, koloni terliahat berbentuk tidak teratur, permukaan halus, berwarna putih kekuningan, tepi koloni cembung dan permukaan agak licin.

  1. Slide Culture

Hasil pengamatan:

            Pengamatan Slide Culture terlihat jamur yang tumbuh berwarna putih melekat pada sisi slide. Pada pemeriksaan mikroskopis tampak sel ragi (blastosfora) satu persatu tumbuh sepanjang pseudohyphae.

  

A                                                                     B

Gambar  16. Hasil pengamatan pada slide agar yang  tidak diwarnai (A) dan yang di warnai (B) pada mikroskop dengan pembesaran 40x.

D. DIAGNOSA

Streptomyces sp.

E.  DEFERENSIAL DIAGNOSA

Nocardia

 

         F.  KESIMPULAN KASUS

Berdasarkan bentuk morfologi dan hasil pengamatan di bawah mikroskop, disimpulkan bahwa jamur yang yang diamati adalah Streptomyces sp.

 

G.  PEMBAHASAN KASUS

Jamur atau fungi merupakan tumbuhan yang tidak memiliki klorofil, sehingga tidak mampu melakukan fotosintesis. Oleh karena itu, jamur hanya bias hidup sebagai parasit pada organisme hidup lain atau sebagai saprofit pada benda organis mati. Untuk proses perbanyakannya, jamur membentuk sel-sel yang disebut spora, yang resisten terhadap lingkungan yang kurang menguntungkan bagi kehidupannya. Bila keadaan membaik, terutama suhu dan kelembaban, spora dapat tumbuh lagi dan membentuk mycelium (Gerhardt, dkk., 1984).

Klasifikasi Ilmiah

Domain : Bakteri

Phylum : Actinobacteria

Orde : Actinomycetales

Famili : Streptomycetaseae

Genus : Streptomyces

Spesies : Streptomyces  somaliensis, Streptomyces griseus

 

Streptomyces sp  biasa berhabitat di tanah dan berfungsi sebagai pengurai sisa-sisa makhluk hidup. Streptomyces bertanggung jawab pada metabolisme banyak senyawa berbeda meliputi gula, alkohol, asam amino dan senyawa aromatik dengan memproduksi enzim hidrolitik ekstraseluler. Streptomyces juga berperan penting dalam kesehatan dan industri karena Streptomyces mensintesis antibiotik. Lebih dari 50 antibiotik diisolasi dari spesies Streptomyces (Anonimus, 2010).

Mikroorganisme ini penghasil antibiotik meliputi golongan bakteri, Actinomycetes, fungi dan beberapa mikroba lainnya. Kira-kira 70 % antibiotic dihasilkan oleh Actinomycetes, 20 % oleh fungi, dan 10 % oleh bakteri. Actinomycetes merupakan penghasil antibiotik, terutama dari jenis Streptomyces (Bleomisin, Eritromisin, Josamisin, Kanamisin, Neomisin, Tetrasiklin) dan masih banyak lagi.

Karakter Streptomyces yang penting untuk klasifikasi berdasarkan morfologi

dan reaksi biokimianya adalah:

a. Morfologi, meliputi struktur miselium substrat, pembentukan miselium aerial,

struktur dan percabangan sporofor, ukuran dan bentuk spora dan ornamen spora.

b. Kultur, meliputi pertumbuhan pada berbagai media, warna miselium substrat

dan aerial, pembentukan pigmen.

c. Biokimia, meliputi penggunaan sumber karbon, aktivitas diastatik, kemampuan

protealitik (diukur dari pencairan gelatin, serum tanah, casein dan koagulasi serta peptonisasi susu), penggunaan senyawa N, pembentukan oksidase (tirosinase dan laktase) da reduktase (reduksi nitrat, reduksi sulfat)

d. Sensitivitas terhadap antibiotik dan terhadap faga

e. Reaksi serologi

f. Komposisi kimia

            Streptomyces mempunyai kemampuan memproduksi senyawa antimikrobia yang bermanfaat, seperti streptomisin dihasilkan dari Streptomyces griseus untuk menyembuhkan tuberkulosis yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, Streptomyces violaceusniger berperan antagonistik terhadap beberapa fungi patogen tanaman. Selain itu Streptomyces isolat rizosfer menunjukkan penghambatan terhadap jamur pathogen . Sampai akhir tahun 1974 kurang lebih 95%, antibiotik dihasilkan Actinomycetes berasal dari genus Streptomyces, misalnya streptomisin, tetrasiklin dan kloramfenikol. Streptomyces yang terbukti mampu menghasilkan macam-macam antijamur seperti Amfoterisin B yang diisolasi dari Streptomyces nodosus, Kandisidin yang diisolasi dari Streptomyces griseus dan Nistatin yang diisolasi dari Streptomyces noursei (Arin, 2009).

  1. 1.      Streptomyces somaliensis

Steptomyces sebagian besar spesies tidak patogen. Akan tetapi Streptomyces somaliensis pebab Mycetoma dengan gejala klinik lesi dan bengkak lokal di lokasi trauma. Ada beberapa abses, sinus pengeringan, dan nanah dengan butiran (Baron, 1996).

 

Epidemiologi

             Spesies Streptomyces ditemukan di seluruh dunia di tanah. Streptomices  berperan penting dalam ekologi tanah dan sebagai produsen antibiotik.. Mycetoma terjadi terutama di daerah tropis dan subtropis.

Diagnosa

              Diagnosisa berdasarkan fitur klinis mycetoma dan butiran nanah karakteristik, sudah bisa dikonfirmasi oleh isolasi dan identifikasi mikroorganisme. Bila diisolasi, koloni Streptomyces kecil (berdiameter 1-10 mm), terpisah-pisah seperti liken dan seperti kulit atau butirus (mempunyai konsistensi seperti mentega), mula-mula permukaannya relative licin tetapi kemudian membentuk semacam tenunan miselium udara yang dapat menampakkan granularnya, seperti bubuk, beludru, atau flokos, menghasilkan berbagai macam pigmen yang menimbulkan warna pada miselium vegetatif, miselium udara dan substrat (Ariningsih, 2009).

Pengobatan

Pengobatan dengan antibiotik jangka panjang dan pembedahan.

  1. 2.      Genus Streptomyces griseus

Streptomyces merupakan genus terbesar dari Actinobacteria dan merupakan genus dari keluarga streptopmycetaceae. Bakteri ini termasuk kedalam Gram positif dengan tinggi GC konten,  Sedangkan Streptomyces griseus merupakan spesies dari Streptomyces.

Fisiologi dan Morfologi

Streptomyces griseus merupakan jenis alkaliphilic, organisme ini dapat tumbuh diberbagai pH ( 5-11), tetapi pertumbuhan optimal dari bakteri ini ada pada temperature 25-35 C dan pada pH 9. S. griseus mempunyai peptinogen yang tebal, lipid, Spura rantai yang Reflexible,Memiliki spora pada subtract mycelium,Sebagai pemanfaatan garam sitrat dan dapat memproduksi obat antikanker Streptocin.

Taksonomi

Spesies ini pertamakali ditemukan oleh waksman dan Henrici pada tahun 1984. S.griseus memiliki GC konten yang tinggi di genomnya dengan rata-rata tinggi 72,2 %. Taksonomi dari S. griseus bermula dari rumitnya sistematika mikroba yang ada pada S.griseus. S.griseus memiliki rRNA 16S, rRNA 16 ini yang digunakan untuk mengenali jenis bakteri tersebut.

Peranan Bagi Lingkungan

Pada tahun 1944 Waksman mengisolasi antibiotik baru dari Streptomyces griseus. Streptomyces griseus merupakan jamur yang dapat menghasilkan streptomisin dan S.fradiae menghasilkan antibiotik neomisin. obat ini mempunyai efek anti tuberkulosis pada binatang percobaan dan kemudian digunakan sebagai Obat Anti Tuberkulosis yang pertama pada manusia. Selain menghasilkan streptomisin dan S.fradiae bakteri ini juga menghasilkan enzim proteoliti yang dimana enzim ini dapat digunakan untuk penyamak kulit, penyamakan merupakan proses untuk mengubah kulit hewan (sapi, kambing) menjadi kulit yang lembut sehingga dapat di gunakan untuk membuat sepatu dan tas.

Streptomycetes mempunyai peranan penting dalam proses penguraian dari bahan organik terutama dalam hal pengomposan. Beberapa spesies dari Streptomyces terlibat dalam sebuah hubungan simbiotik dengan genus attini ants. Attini ants merupakan bakteri yang berfungsi sebagai perkembangbiakan jamur dengan bakteri ini maka akan mempermudah untuk mengembiakan jamur. Sedangkan fungsi dari streptomyces adalah untuk memproduksi toxin yang digunkan untuk memlihara agar jamur tesebut tidak ditumbuhi rumput ( Anonimus, 2009).

 

 
Leave a comment

Posted by on July 4, 2011 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: