RSS

PPKN

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

            Puji dan syukur saya panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita sehingga saya dapat menyelesaikan penulisan tugas makalah mata kuliah PPKN dengan judul “Peran Pancasila Dalam Kehidupan” yang merupakan salah satu tugas dalam mata kuliah PPKN, Salawat beriring salam kami sanjungkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa umatnya dari alam kebodohan ke alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan.

            Saya  sangat menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang terdapat pada penulisan makalah ini, saya menerima segala masukan yang di berikan untuk perbaikan makalah ini, agar dapat menjadi lebih baik. Dan saya juga sangat berharap bahwa tulisan ini dapat bermanfaat untuk dijadikan sebagai sumber informasi atau sebagai bahan bacaan.

 

 

PENDAHULUAN

1. Pendahuluan

Pancasila sebagai dasar dan ideologi negara merupakan kesepakatan politik para founding fathers ketika negara Indonesia didirikan. Namun dalam perjalanan panjang kehidupan berbangsa dan bernegara, Pancasila sering mengalami berbagai deviasi dalam aktualisasi nilai-nilainya. Deviasi pengamalan Pancasila tersebut bisa berupa penambahan, pengurangan, dan penyimpangan dari makna yang seharusnya. Walaupun seiring dengan itu sering pula terjadi upaya pelurusan kembali.

 

Pancasila sering digolongkan ke dalam ideologi tengah di antara dua ideologi besar dunia yang paling berpengaruh, sehingga sering disifatkan bukan ini dan bukan itu. Pancasila bukan berpaham komunisme dan bukan berpaham kapitalisme. Pancasila tidak berpaham individualisme dan tidak berpaham kolektivisme. Bahkan bukan berpaham teokrasi dan bukan perpaham sekuler. Posisi Pancasila inilah yang merepotkan aktualisasi nilai-nilainya ke dalam kehidupan praksis berbangsa dan bernegara. Dinamika aktualisasi nilai Pancasila bagaikan pendelum (bandul jam) yang selalu bergerak ke kanan dan ke kiri secara seimbang tanpa pernah berhenti tepat di tengah.

 

Pada saat berdirinya negara Republik Indonesia, kita sepakat mendasarkan diri pada ideologi Pancasila dan UUD 1945 dalam mengatur dan menjalankan kehidupan negara.

Namun sejak Nopember 1945 sampai sebelum Dekrit Presiden 5 Juli 1959 pemerintah Indonesia mengubah haluan politiknya dengan mempraktikan sistem demokrasi liberal.Dengan kebijakan ini berarti menggerakan pendelum bergeser ke kanan. Pemerintah Indonesia menjadi pro Liberalisme.Deviasi ini dikoreksi dengan keluarnya Dekrit Presiden 5 Juli 1959.Dengan keluarnya Dekrit Presiden ini berartilah haluan politk negara dirubah. Pendelum yang posisinya di samping kanan digeser dan digerakan ke kiri.Kebijakan ini sangat menguntungkan dan dimanfaatkan oleh kekuatan politik di Indonesia yang berhaluan kiri (baca: PKI) Hal ini tampak pada kebijaksanaan pemerintah yang anti terhadap Barat (kapitalisme) dan pro ke Kiri dengan dibuatnya poros Jakarta-Peking dan Jakarta- Pyong Yang. Puncaknya adalah peristiwa pemberontakan Gerakan 30 September 1965. Peristiwa ini menjadi pemicu tumbangnya pemerintahan Orde Lama (Ir.Soekarno) dan berkuasanya pemerintahan Orde Baru (Jenderal Suharto). Pemerintah Orde Baru berusaha mengoreksi segala penyimpangan yang dilakukan oleh regim sebelumnya dalam pengamalan Pancasila dan UUD 1945. Pemerintah Orde Baru merubah haluan politik yang tadinya mengarah ke posisi Kiri dan anti Barat menariknya ke posisi Kanan. Namun regim Orde Barupun akhirnya dianggap penyimpang dari garis politik Pancasila dan UUD 1945, Ia dianggap cenderung ke praktik Liberalisme-kapitalistik dalam menggelola negara. Pada tahun 1998 muncullah gerakan reformasi yang dahsyat dan berhasil mengakhiri 32 tahun kekuasaan Orde Baru. Setelah tumbangnya regim Orde Baru telah muncul 4 regim Pemerintahan Reformasi sampai saat ini. Pemerintahan-pemerintahan regim Reformasi ini semestinya mampu memberikan koreksi terhadap penyimpangan dalam mengamalkan Pancasila dan UUD 1945 dalam praktik bermasyarakat dan bernegara yang dilakukan oleh Orde Baru.

 

2.Dinamika Aktualisasi Nilai Pancasila

2.1.Kerangka Teoritik

 

Alfred North Whitehead (1864 – 1947), tokoh utama filsafat proses, berpandangan bahwa semua realitas dalam alam mengalami proses atau perubahan, yaitu kemajuan, kreatif dan baru. Realitas itu dinamik dan suatu proses yang terus menerus “menjadi”, walaupun unsur permanensi realitas dan identitas diri dalam perubahan tidak boleh diabaikan. Sifat alamiah itu dapat pula dikenakan pada ideologi Pancasila sebagai suatu realitas (pengada). Masalahnya, bagaimanakah nilai-nilai Pancasila itu diaktualisasikan dalam praktik kehidupan berbangsa dan bernegara ? dan, unsur nilai Pancasila manakah yang mesti harus kita pertahankan tanpa mengenal perubahan ?

 

Moerdiono (1995/1996) menunjukkan adanya 3 tataran nilai dalam ideologi Pancasila. Tiga tataran nilai itu adalah:

Pertama, nilai dasar, yaitu suatu nilai yang bersifat amat abstrak dan tetap, yang terlepas dari pengaruh perubahan waktu.Nilai dasar merupakan prinsip, yang bersifat amat abstrak, bersifat amat umum, tidak terikat oleh waktu dan tempat, dengan kandungan kebenaran yang bagaikan aksioma.Dari segi kandungan nilainya, maka nilai dasar Berkenan dengan eksistensi sesuatu, yang mencakup cita-cita, tujuan, tatanan dasar dan ciri khasnya. Nilai dasar Pancasila ditetapkan oleh para pendiri negara.Nilai dasar Pancasila tumbuh baik dari sejarah perjuangan bangsa Indonesia melawan penjajahan yang telah menyengsarakan rakyat, maupun dari cita cita yang ditanamkan dalam agama dan tradisi tentang suatu masyarakat yang adil dan makmur berdasarkan kebersamaan, persatuan dan kesatuan seluruh warga masyarakat.

 

Kedua, nilai instrumental, yaitu suatu nilai yang bersifat kontekstual. Nilai instrumental merupakan penjabaran dari nilai dasar tersebut, yang merupakan arahan kinerjanya untuk kurun waktu tertentu dan untuk kondisi tertentu. Nilai instrumental ini dapat dan bahkan harus disesuaikan dengan tuntutan zaman. Namun nilai instrumental haruslah mengacu pada nilai dasar yang dijabarkannya. Penjabaran itu bisa dilakukan secara kreatif dan dinamik dalam bentuk-bentuk baru untuk mewujudkan semangat yang sama, dalam batas-batas yang dimungkinkan oleh nilai dasar itu.Dari kandungan nilainya, maka nilai instrumental merupakan kebijaksanaan, strategi, organisasi, sistem, rencana, program, bahkan juga proyek-proyek yang menindaklanjuti nilai dasar tersebut. Lembaga negara yang berwenang menyusun nilai instrumental ini adalah MPR, Presiden, dan DPR.

Ketiga, nilai praksis yaitu nilai yang terkandung dalam kenyataan sehari-hari, berupa cara bagaimana rakyat melaksanakan (mengaktualisasikan) nilai Pancasila. Nilai praksis terdapat pada demikian banyak wujud penerapan nilai-nilai Pancasila, baik secara tertulis maupun tidak tertulis, baik oleh cabang eksekutif, legislatif, maupun yudikatif, oleh organisasi kekuatan sosial politik, oleh organisasi kemasyarakatan, oleh badan-badan ekonomi, oleh pimpinan kemasyarakatan, bahkan oleh warganegara secara perseorangan. Dari segi kandungan nilainya, nilai praksis merupakan gelanggang pertarungan antara idealisme dan realitas

 

Jika ditinjau dari segi pelaksanaan nilai yang dianut, maka sesungguhnya pada nilai praksislah ditentukan tegak atau tidaknya nilai dasar dan nilai instrumental itu. Ringkasnya bukan pada rumusan abstrak, dan bukan juga pada kebijaksanaan, strategi, rencana, program atau proyek itu sendiri terletak batu ujian terakhir dari nilai yang dianut, tetapi pada kualitas pelaksanaannya di lapangan. Bagi suatu ideologi, yang paling penting adalah bukti pengamalannya atau aktualisasinya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Suatu ideologi dapat mempunyai rumusan yang amat ideal dengan ulasan yang amat logis serta konsisten pada tahap nilai dasar dan nilai instrumentalnya. Akan tetapi, jika pada nilai praksisnya rumusan tersebut tidak dapat diaktualisasikan, maka ideologi tersebut akan kehilangan kredibilitasnya.Bahkan Moerdiono (1995/1996: 15) menegaskan, bahwa bahwa tantangan terbesar bagi suatu ideologi adalah menjaga konsistensi antara nilai dasar, nilai instrumental, dan nilai praksisnya. Sudah barang tentu jika konsistensi ketiga nilai itu dapat ditegakkan, maka terhadap ideologi itu tidak akan ada masalah. Masalah baru timbul jika terdapat inkonsisitensi dalam tiga tataran nilai tersebut.

 

Untuk menjaga konsistensi dalam mengaktualisasikan nilai Pancasila ke dalam praktik hidup berbangsa dan bernegara, maka perlu Pancasila formal yang abstrak-umum-universal itu ditransformasikan menjadi rumusan Pancasila yang umum kolektif, dan bahkan menjadi Pancasila yang khusus individual (Suwarno, 1993: 108). Artinya, Pancasila menjadi sifat-sifat dari subjek kelompok dan individual, sehingga menjiwai semua tingkah laku dalam lingkungan praksisnya dalam bidang kenegaraan, politik, dan pribadi

 

Driyarkara menjelaskan proses pelaksanaan ideologi Pancasila, dengan gambaran gerak\ transformasi Pancasila formal sebagai kategori tematis (berupa konsep, teori) menjadi kategori imperatif (berupa norma-norma) dan kategori operatif (berupa praktik hidup). Proses tranformasi berjalan tanpa masalah apabila tidak terjadi deviasi atau penyimpangan, yang berupa pengurangan, penambahan,dan penggantian (dalam Suwarno, 1993: 110- 111). Operasionalisasi Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara haruslah diupayakan secara kreatif dan dinamik, sebab Pancasilasebagai ideologi bersifat futuralistik. Artinya, nilai-nilai yang terkandung dalam Pancasila merupakan nilai-nilai yang dicita-citakan dan ingin diwujudkan.

 

Masalah aktualisasi nilai-nilai dasar ideologi Pancasila ke dalam kehidupan praksis kemasyarakatan dan kenegaraan bukanlah masalah yang sederhana. Soedjati Djiwandono (1995: 2-3) mensinyalir, bahwa masih terdapat beberapa kekeliruan yang mendasar dalam cara orang memahami dan menghayati Negara Pancasila dalam berbagai seginya. Kiranya tidak tepat membuat “sakral” dan taboo berbagai konsep dan pengertian, seakan-akan sudah jelas betul dan pasti benar, tuntas dan sempurna, sehingga tidak boleh dipersoalkan lagi. Sikap seperti itu membuat berbagai konsep dan pengertian menjadi statik, kaku dan tidak berkembang, dan mengandung resiko ketinggalan zaman, meskipun mungkin benar bahwa beberapa prinsip dasar memang mempunyai nilai yang tetap dan abadi. Belum teraktualisasinya nilai dasar Pancasila secara konsisten dalam tataran praksis perlu terus menerus diadakan perubahan, baik dalam arti konseptual maupun operasional. Banyak hal harus ditinjau kembali dan dikaji ulang. Beberapa mungkin perlu dirubah, beberapa lagi mungkin perlu dikembangkan lebih lanjut dan dijelaskan atau diperjelas, dan beberapa lagi mungkin perlu ditinggalkan.

 

Aktualisasi nilai Pancasila dituntut selalu mengalami pembaharuan. Hakikat pembaharuan adalah perbaikan dari dalam dan melalui sistem yang ada. Atau dengan kata lain, pembaharuan mengandaikan adanya dinamika internal dalam diri Pancasila. Mengunakan pendekatan teori Aristoteles, bahwa di dalam diri Pancasila sebagai pengada (realitas) mengandung potensi, yaitu dasar kemungkinan (dynamik). Potensi dalam pengertian ini adalah kemampuan real subjek (dalam hal ini Pancasila) untuk dapat berubah. Subjek sendiri yang berubah dari dalam. Mirip dengan teori A.N.Whitehead, setiap satuan aktual (sebagai aktus, termasuk Pancasila) terkandung daya kemungkinan untuk berubah. Bukan kemungkinan murni logis atau kemungkinan objektif, seperti batu yang dapat dipindahkan atau pohon yang dapat dipotong. Bagi Whitehead, setiap satuan aktual sebagai realitas merupakan sumber daya untuk proses kemenjadi- an yang selanjutnya. Jika dikaitkan dengan aktualisasi nilai Pancasila, maka pada dasarnya setiap ketentuan hukum dan perundang-undangan pada segala tingkatan, sebagai aktualisasi nilai Pancasila (transformasi kategori tematis menjadi kategori imperatif), harus terbuka terhadap peninjauan dan penilaian atau pengkajian tentang keterkaitan dengan nilai dasar Pancasila.

 

 

Untuk melihat transformasi Pancasila menjadi norma hidup sehari-hari dalam bernegara  orang harus menganalisis pasal-pasal penuangan sila ke-4 yang berkaitan dengan negara, yang meliputi; wilayah, warganegara, dan pemerintahan yang berdaulat. Selanjutnya, untuk memahami transformasi Pancasila dalam kehidupan berbangsa, orang harus menganalisis pasalpasal penuangan sila ke-3 yang berkaitan dengan bangsa Indonesia, yang meliputi; faktor faktor integratif dan upaya untuk menciptakan persatuan Indonesia. Sedangkan untuk memahami transformasi Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, orang harus menganalisis pasal-pasal penuangan sila ke-1, ke-2, dan ke-5 yang berkaitan dengan hidup keagamaan, kemanusiaan dan sosial ekonomis (Suwarno, 1993: 126).

 

2.2. Perubahan dan Kebaharuan

Pembaharuan dan perubahan bukanlah melulu bersumber dari satu sisi saja, yaitu akibat yang timbul dari dalam, melainkan bisa terjadi karena pengaruh dari luar. Terjadinya proses perubahan (dinamika) dalam aktualisasi nilai Pancasila tidaklah semata-mata disebabkan kemampuan dari dalam (potensi) dari Pancasila itu sendiri, melainkan suatu peristiwa yang terkait atau berrelasi dengan realitas yang lain. Dinamika aktualisasi Pancasila bersumber pada aktivitas di dalam menyerap atau menerima dan menyingkirkan atau menolak nilai nilai atau unsur-unsur dari luar (asing). Contoh paling jelas dari terjadinya perubahan transformatif dalam aktualisasi nilai Pancasila dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara, adalah empat kali amandemen UUD 1945 yang telah dilakukan MPR pada tahun 1999, 2000, 2001, dan tahun 2002.

 

Dewasa ini, akibat kemajuan ilmu dan teknologi, khususnya teknologi komunikasi, terjadilah perubahan pola hidup masyarakat yang begitu cepat. Tidak satupun bangsa dan negara mampu mengisolir diri dan menutup rapat dari pengaruh budaya asing. Demikian juga terhadap masalah ideologi.Dalam kaitan imi, M.Habib Mustopo (1992: 11 -12) menyatakan, bahwa pergeseran dan perubahan nilai-nilai akan menimbulkan kebimbangan, terutama didukung oleh kenyataan masuknya arus budaya asing dengan berbagai aspeknya. Kemajuan di bidang ilmu dan teknologi komunikasi & transportasi ikut mendorong hubungan antar bangsa semakin erat dan luas. Kondisi ini di satu pihak akan menyadarkan bahwa kehidupan yang mengikat kepentingan nasional tidak luput dari pengaruhnya dan dapat menyinggung kepentingan bangsa lain. Ada semacam kearifan yang harus dipahami, bahwa dalam kehidupan dewasa ini, teknologi sebagai bagian budaya manusia telah jauh mempengaruhi tata kehidupan manusia secara menyeluruh. Dalam keadaan semacam ini, tidak mustahil tumbuh suatu pandangan kosmopolitan yang tidak selalu sejalan dengan tumbuhnya faham kebangsaan.Beberapa informasi dalam berbagai ragam bentuk dan isinya tidak dapat selalu diawasi atau dicegah begitu saja.Mengingkari dan tidak mau tahu “tawaran” atau pengaruh nilai-nilai asing merupakan kesesatan berpikir, yang seolaholah menganggap bahwa ada eksistens yang bisa berdiri sendiri. Kesalahan berpiklir demikian oleh Whitehead disebut sebagai the fallacy of misplace concretness (Damardjati Supadjar, 1990: 68). Jika pengaruh itu tidak sesuai dengan nilai-nilai yang hidup dalam masyarakat, atau tidak mendukung bagi terciptanya kondisi yang sesuai dengan Pancasila, maka perlu dikembangkan sikap yang kritis terutama terhadap gagasan-gagasan, ide-ide yang datang dari luar.

 

 Dalam konteks budaya, masalah pertemuan kebudayaan bukan masalah memfilter atau menyaring budaya asing, tetapi mengolah dan mengkreasi dalam interaksi dinamik sehingga tercipta sesuatu yang baru. Jati diri bangsa, budaya politik adalah sesuatu yang harus terus menerus dikonstruksikan, karena bukan kenyataan yang mandeg (Sastrapratedja, 1996: 11). Kalau ideologi-ideologi besar di dunia sekarang ini diperhatikan dengan seksama, maka terlihat mereka bergeser secara dinamik. Para penyangga ideologi itu telah melakukan revisi, pembaharuan, dan pemantapan-pemantapan dalam mengaktualisasikan ideologinya. Perkembangan zaman menuntut bahwa ideologi harus memiliki nafas baru, semangat baru dengan corak nilai, ajaran dan konsep kunci mengenai kehidupan yang memiliki perspektif baru. Ideologi Pancasilapun dituntut demikian. Pancasila harus mampu menghadapi pengaruh budaya asing, khususnya ilmu dan teknologi modern dan latar belakang filsafatnya yang berasal dari luar.

 

Prof. Notonagoro telah menemukan cara untuk memanfaatkan pengaruh dari luar tersebut, yaitu secara eklektif mengambil ilmu pengetahuan dan ajaran kefilsafatan dari luar tersebut, tetapi dengan melepaskan diri dari sistem filsafat yang bersangkutan dan selanjutnya diinkorporasikan dalam struktur filsafat Pancasila. Dengan demikian, terhadap pengaruh baru dari luar, maka Pancasila bersifat terbuka dengan syarat dilepaskan dari sistem filsafatnya, kemudian dijadikan unsur yang serangkai dan memperkaya struktur filsafat Pancasila (Sri Soeprapto, 1995: 34). Sepaham dengan Notonagoro, Dibyasuharda (1990: 229) mengkualifikasikan Pancasila sebagai struktur atau sistem yang terbuka dinamik, yang dapat menggarap apa yang datang dari luar, dalam arti luas, menjadi miliknya tanpa mengubah identitasnya, malah mempunyai daya ke luar, mempengaruhi dan mengkreasi.

 

 

Dinamika Pancasila dimungkinkan apabila ada daya refleksi yang mendalam dan keterbukaan yang matang untuk menyerap, menghargai, dan memilih nilai-nilai hidup yang tepat dan baik untuk menjadi pandangan hidup bangsa bagi kelestarian hidupnya di masa mendatang. Sedangkan penerapan atau penolakan terhadap nilai-nilai budaya luar tersebut berdasar pada relevansinya. Dalam konteks hubungan internasional dan pengembangan ideologi, bukan hanya Pancasila yang menyerap atau dipengaruhi oleh nilai-nilai asing, namun nilai-nilai Pancasila bisa ditawarkan dan berpengaruh, serta menyokong kepada kebudayaan atau ideologi lain. Bahkan Soerjanto Poespowardojo (1989: 14) menjelaskan, bahwa dinamika yang ada pada Ak ualisasi Pancasila memungkinkan bahwa Pancasila juga tampil sebagai alternatif untuk melandasi tata kehidupan internasional, baik untuk memberikan orientasi kepada negara-negara berkembang pada khususnya, maupun mewarnai pola komunikasi antar negara pada umumnya. Ideologi Pancasila bukanlah pseudo religi. Oleh karena itu, Pancasila perlu dijabarkan secara rasional dan kritis agar membuka iklim hidup yang bebas dan rasional pula. Konsekuensinya, bahwa Pancasila harus bersifat terbuka. Artinya, peka terhadap perubahan yang terjadi dalam kehidupan manusia dan tidak menutup diri terhadap nilai dan pemikiran dari luar yang memang diakui menunjukkan arti dan makna yang positif bagi pembinaan budaya bangsa, sehingga dengan demikian menganggap proses akulturasi sebagai gejala wajar. Dengan begitu ideologi Pancasila akan menunjukkan sifatnya yang dinamik, yaitu memiliki kesediaan untuk mengadakan pembaharuan yang berguna bagi perkembangan pribadi manusia dan masyarakat. Untuk menghadapi tantangan masa depan perlu didorong pengembangan nilai-nilai Pancasila secara kreatif dan dinamik. Kreativitas dalam konteks ini dapat diartikan sebagai kemampuan untuk menyeleksi nilai-nilai baru dan mencari alternatif bagi pemecahan masalah-masalah politik, sosial, budaya, ekonomi, dan pertahanan keamanan. Ideologi Pancasila tidak a priori menolak bahan-bahan baru dan kebudayaan asing, melainkan mampu menyerap nilai-nilai yangdipertimbangkan dapat memperkaya dan memperkembangkan kebudayaan sendiri,sertamempertinggi derajat kemanusiaan bangsa Indonesia. Menurut Hardono Hadi (1994:57), bangsa Indonesia, sebagai pengemban ideeologi Pancasila, tidak defensif dan tertutup sehingga sesuatu yang berbau asing harus ditangkal dan dihindari karena dianggap bersifat negatif. Sebaliknya tidak diharapkan bahwa bangsa Indonesia menjadi begitu amorf, sehingga segala sesuatu yang menimpa dirinya diterima secara buta tanpa pedoman untuk menentukan mana yang pantas dan mana yang tidak pantas untuk diintegrasikan dalam pengembangan dirinya.

 

Bangsa Indonesia mau tidak mau harus terlibat dalam dialog dengan bangsa-bangsa lain, namun tidak tenggelam dan hilang di dalamnya. Proses akulturasi tidak dapat dihindari. Bangsa Indonesia juga dituntut berperan aktif dalam pergaulan dunia.Bangsa Indonesia harus mampu ikut bermain dalam interaksi mondial dalam menentukan arah kehidupan manusia seluruhnya. Untuk bisa menjalankan peran itu, bangsa Indonesia sendiri harus mempunyai kesatuan nilai yang menjadi keunikan bangsa, sehingga mampu memberikan sumbangan yang cukup berarti dalam percaturan internasional. Identitas diri bukan sesuatu yang tertutup tetapi sesuatu yang terus dibentuk dalam interaksi dengan kelompok masyarakat bangsa, negara, manusia, sistem masyarakat dunia (Sastrapratedja, 1996: 3).

 

 

Semuanya itu mengharuskan adanya strategi kebudayaan yang mampu neneruskan dan mengembangkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam segala aspek kehidupan bangsa. Abdulkadir Besar (1994: 35) menawarkan pelaksanaan “strategi dialogi antar budaya” dalam menghadapi gejala penyeragaman atau globalisasi dewasa ini.. Artinya, membiarkan budaya asing yang mengglobal berdampingan dengan budaya asli. Melalui interaksi yang terus menerus, masing-masing budaya akan mendapatkan pelajaran yang berharga. Hasil akhir yang diharapkan dari interaksi itu adalah terpeliharanya cukup diferensiasi, sekaligus tercegahnya penyeragaman universal. Ideologi Pancasila sebagai jati diri bangsa Indonesia tidak mandeg, melainkan harus diperbaharui secara terus menerus, sehingga mampu memberikan pedoman, inspirasi, dan dukungan pada setiap anggota bangsa Indonesia dalam memperkembangkan dirinya sebagai bangsa Indonesia. Sedangkan pembaharuan yang sehat selalu bertitik tolak pada masa lampau dan sekaligus diarahkan bagi terwujudnya cita-cita di masa depan. Setiap zaman menampakkan corak kepribadiannya sendiri, namun kepribadian yang terbentuk pada zaman yang berbeda haruslah mempunyai kesinambungan dari masa lampau sampai masa mendatang sehingga tergambarkan aspek historitasnya (Hardono Hadi, 1994: 76). Kesinambungan tidak berarti hanya penggulangan atau pelestarian secara persis apa yang dihasilkan di masa lampau untuk diterapkan pada masa kini dan masa mendatang. Unsur yang sama dan permanen maupun unsur yang kreatif dan baru, semuanya harus dirajut dalam satu kesatuan yang integral.

 

 

Teori hilemorfisme dari Aristoteles bisa mendukung pandangan tersebut. Aristoteles menegaskan, bahwa meskipun materi (hyle) menjadi nyata bila dibentuk (morfe), namun materi tidaklah pasif. Artinya ada gerak. Setiap relitas yang sudah berbentuk (berdasar materi) dapat juga menjadi materi bagi bentuk yang lain,sehingga setiap realitas mengalami perubahan. Perubahan yang ada bukan kebaharuan sama sekali namun perubahan yang kesinambungan. Artinya, aktualitas yang ada sekarang berdasar pada realitas yang telah ada pada masa lampau dan terbuka bagi adanya perubahan di masa depan

 

 

3. Simpulan

Dinamika dalam mengaktualisasikan nilai Pancasila ke dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan benegara adalah suatu keniscayaan, agar Pancasila tetap selalu relevan dalam fungsinya memberikan pedoman bagi pengambilan kebijaksanaan dan pemecahan masalah dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Agar loyalitas warga masyarakat dan warganegara terhadap Pancasila tetap tinggi. Di lain pihak, apatisme dan resistensi terhadap Pancasila bisa diminimalisir

 

Substansi dari adanya dinamika dalam aktualisasi nilai Pancasila dalam kehidupan praksis adalah selalu terjadinya perubahan dan pembaharuan dalam mentransformasikan nilai Pancasila ke dalam norma dan praktik hidup dengan menjaga konsistensi, relevansi, dan kontekstualisasinya. Sedangkan perubahan dan pembaharuan yang berkesinambungan terjadi apabila ada dinamika internal (self-renewal) dan penyerapan terhadap nilai nilai asing yang relevan untuk pengembangan dan penggayaan ideologi Pancasila.Muara dari semua upaya perubahan dan pembaharuan dalam mengaktualisasikan nilai Pancasila adalah terjaganya akseptabilitas dan kredibilitas Pancasila oleh warganegara dan wargamasyarakat Indonesia.

 

DAFTAR PUSTAKA

DAFTAR PUSTAKA

 

Abdulkadir Besar. 1994. Pancasila dan Alam Pikiran Integralistik (Kedudukan dan

Peranannya dalam Era Globalisasi). Yogyakarta: Panitia Seminar “Globalisasi

Kebudayaan dan Ketahanan Ideologi” 16-17 November 1994 di UGM.

 

Bachtiar, Harsja W. (Peny.).1976. Percakapan dengan Sidney Hook tentang Masalah Filsafat. Jakarta: Jambatan.

 

Bakker, Anton.1992. Ontologi atau Metafisika Umum. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

 

Bertens. Kess. 1976. Ringkasan Sejarah Filsafat. Yogyakarta: Penerbit Yayasan Kanisius.

 

Habib Mustopo, M.1992. Ideologi Pancasila dalam Menghadapi Globalisasi dan Era Tinggal Landas. Bandungan-Ambarawa: Panitia Seminar dan Loka Karya Nasional MKDU Pendidikan Pancasila Dosen-dosen PTN/PTS dan Kedinasan Pada tanggal 29 – 30 September 1992.

 

Hardono Hadi, P. 1994.Hakikat dan Muatan Filsafat Pancasila. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

Kansil, C.S.T.1971. Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945. Jakarta: Pradnya Paramita.

 

Kattsoff, Louis O.1953. Elements of Philosophy. New York: The Ronald Press

 

Comp. Kendall, G.A. 1981. “Ideology: An Essay in Definition” dalam majalah Philophy Today No.25, hal. 262 – 276.

 

Koento Wibisono. 1988. Pancasila Ideologi Terbuka. Magelang: Panitia Temu Karya Dosen-Dosen PTN Se-Jawa Tengah dan Kopertis Wil.VI.

 

Leahy, Louis. 1993. “Ideologi Tinjauan Historis dan Kritis”. Yogyakarta: dalam Majalah Basis No.42, halaman 130 – 135. Liek Wilardjo. 1990.Realita dan Desiderata. Yogyakarta: Duta Wacana UniversityPress.

 

Lorens Bagus. 1991. Metafiska. Jakarta: PT Gramedia. Magnis Suseno, Franz. 1991. Berfilsafat dari Konteks. Jakarta: PT Gramedia.

 

Mannheim, Karl. 1991. Ideologi dan Utopia (Menyingkap Kaitan Pikiran dan Politik).Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

 

Moerdino. 1995/1996. “Pancasila sebagai Ideologi Terbuka Menghadapi Era Globalisasi dan Perdagangan Babas”, dalam Majalah Mimbar No.75 tahun XIII.

 

Naisbitt, John dan Patricia Aburdence. 1990. Megatrends 2000 (Sepuluh Arah Baru untuk Tahun 1990-an). Jakarta: Bina Rupa Aksara.

 

Notonagoro. 1974 (Cet.Kelima). Beberapa Hal Mengenai Falsafah Pancasila. Jakarta:.

 

Popkin, Richard, dan Avrum Stroll. 1958. Philosophy Made Simple. New York: Made Sample Books, Inc.Pranarka A.M.W. 1985. Sejarah Pemikiran tentang Pancasila. Jakarta: CSIS.

 

Sartono Kartodirdjo. 1990. Kebudayaan Pembangunan dalam Perspektif Sejarah. Yogyakarta:  Gadjah Mada University Press.

 

Sastrapratedja,M. 1996. Pancasila dan Globalisasi. Magelang: Panitia Seminar Nasional Pendidikan Pancasila di Universitas Tidar pada 29-31 Juli 1996.

 

Slamet Sutrisno. 1986. Pancasila sebagai Metode. Yogyakarta: Liberty.

 

Snyder, Louis L. 1954. The Meaning of Nationalism. New Brunswick-New Jersey: Rutger University Press.

 

Soedjati Djiwandono, J. 1995. Setengah Abad Negara Pancasila (Tinjauan Kritis ke ArahPembaharuan. Jakarta: CSIS.

 

Soerjanto Poespowardojo. 1989. Filsafat Pancasila. Jakarta: Gramedia.

 

Sudarmanto, JB. 1987. Agama dan Ideologi. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

 

Sudarminta, J. 1991. Filsafat Proses (Sebuah Pengantar Sistematik Filsafat

Whitehead).Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

 

Suwarno, P.J. 1993. Pancasila Budaya Bangsa Indonesia. Yogyakarta: Penerbit Kanisius.

 

Traer, Robert. 1991. Faith in Human Rights. Washington DC: Georgetown Univ.Press.

 

Whitehead, Alfred North. 1979. Process and Reality. New York: The Free Press.

 
Leave a comment

Posted by on October 4, 2011 in Uncategorized

 

Identifikasi Bakteri Staphylococcus aureus dan Jamur Helminthosporium sp

KATA PENGANTAR

               Puji dan syukur kami panjatkan kehadhirat Allah SWT, atas berkat rahmat dan karunia-Nya, sehingga penulis dapat menyelesaikan Laporan Koasistensi Mikrobiologi yang berjudul “Identifikasi Bakteri Staphylococcus aureus dan Jamur Helminthosporium sp”. Sholawat beriring salam senantiasa kami sanjungkan ke pangkuan nabi besar Muhammad SAW yang telah membawa kita ke alam yang penuh ilmu pengetahuan. Dan tidak lupa penulis mengucapkan terima kasih atas segala bimbingan  dan  dukungan kepada:

1. drh. Zakiah Heryawati Manaf, MS

2. drh. Fakhrurrazi, MP

3. Dr. drh. Darmawi, M.Si

4. Dr.drh. Mahdi Abrar, M.Sc

6. drh. Darniati

7. Maryulia Dewi, SKM

8. Seluruh teman-teman koasistensi mikrobiologi PPDH gelombang IV.

Semoga laporan koasistensi mikrobiologi ini dapat menambah wawasan keilmuan penulis dan pihak-pihak yang lain pada umumnya.

Darussalam, 15 Februari 2011

                                                                                                                               Penulis

PENDAHULUAN

Kulit merupakan penghalang masuknya beberapa macam bakteri dalam tubuh yang dilengkapi dengan cairan yang berupa lendir dan zat-zat kimia. Apabila kulit rusak, misalnya luka atau lecet, kemungkinan bakteri akan masuk. Sel darah putih keluar dari kapiler dan melawan bakteri yang masuk. Apabila sel darah putih tidak mampu bertahan dengan rusaknya jaringan, maka dapat menimbulkan bengkak dan bernanah.

Sel darah putih menghancurkan bakteri dengan cara menggumpalkan bakteri sebelum masuk ke sistem sirkulasi. Jika terdapat bakteri yang masuk ke dalam sirkulasi dan ikut dalam aliran darah maka akan ditangkap oleh makrofag. Untuk mencegah infeksi, luka harus dirawat dengan baik. Luka perlu diberi obat untuk membunuh bakteri. Selain itu, perlu dibalut dengan kain pembalut yang bersih dan steril. Luka yang agak dalam perlu diberikan suntikan anti tetanus serum secepat mungkin karena kemungkinan bakteri tetanus masuk kedalam luka.

Proses penyembuhan luka akan cepat terjadi apabila jumlah bakteri pada luka berkurang atau sedikit. Bakteri pada luka yang umum di temukan dalam luka terinfeksi adalah Staphylococcus aureus, Enterococcus, Escherichia coli, Pseudomonas aeruginosa, Haemolytic streptococci, Klebsiella, Citrobacter dan Morganella.

RIWAYAT KASUS I

  1. ANAMNESA

Nama Pemilik                  : Muhammad Zeen

Jenis Hewan                    : Sapi

Jenis Kelamin                  : Jantan

Alamat Pasien                  : Desa limpok, Darussalam

Lama Menderita sakit      : 14 Hari

Status gizi                        : Kurang baik

Gejala Klinis                    : Bulu kusam, Kurang Nafsu Makan,luka

Sampel                             : Luka bernanah

Pengambilan sampel        : 05 Februari 2011

  1. METODELOGI

A. Cara Pengambilan Sampel

Sampel diambil dengan menggunakan lidi kapas steril dan di swab pada luka bernanah, dimasukkan ke media Nutrient Broth, lidi dipatahkan untuk menghindari kontaminasi serta dihomogenkan. Sampel dimasukkan ke dalam termos, dibawa menuju Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan. Lakukan pewarnaan sederhana untuk memastikan ada tidaknya bakteri, kemudian inkubasi pada inkubator dengan suhu 37oC selama 18 – 24 jam.

B.Metode yang dilakukan:

a)      Pewarnaan Sederhana

Dibuat sediaan, fiksasi di atas api.

Warnai dengan Methilen Blue selama 1 – 2 menit.

Buang sisa zat warna menggunakan air mengalir.

Objek glass dikeringkan dengan cara diangin – anginkan.

Amati dibawah mikroskop.

b)      Penanaman pada Media Nutrient Agar

Media ini berfungsi untuk melihat warna koloni, bentuk koloni dan untuk mendapatkan koloni yang terpisah dari biakan koloni.

Ambil 1 ose steril sampel dari biakan Nutrient Broth,  kerjakan dekat api bunsen.

Goreskan pada media Nutrient Agar dengan menggunakan metode gores.

Inkubasikan pada inkubator dengan suhu 370C selama  18 – 24 jam.

Amati bentuk, tepi, permukaan, warna, diameter dan aspek  koloni.

c)      Pewarnaan Gram

Tujuan dari Pewarnaan Gram adalah untuk membedakan dunia bakteri menjadi dua kelompok yaitu Gram positif (+) dan Gram (-). Adapun cara pewarnaan dilakukan sebagai berikut:

Teteskan NaCl fisiologis pada objek glass, selanjutnya diambil koloni yang terpisah dari Nutrient Agar dengan menggunakan ose steril dan campurkan pada NaCl di atas objek glass. Aduk dan fiksasi  di atas api bunsen.

Kemudian pada objek glass tersebut tambahkan Kristal Violet selama 3-5 menit, bilas dengan air mengalir.

Teteskan larutan lugol selama 1 menit, lalu cuci dengan air mengalir.

Lunturkan dengan alkohol 96 % selama 10 detik hingga zat warna menghilang, cuci dengan air mengalir.

Teteskan larutan Fuchsin atau Safranin selama 1 menit, cuci dengan air mengalir.

Keringkan dan amati di bawah mikroskop.

Bakteri Gram positif akan mempertahankan zat warna biru kristal violet sehingga dibawah mikroskop terlihat warna ungu, sedangkan bakteri gram negatif zat warna kristal violet akan larut oleh penambahan alkohol 95 % dan mengikat zat warna kedua yaitu Safranin/fuchsin sehingga dibawah mikroskop akan terlihat berwarna merah.

d)     Uji Katalase

Teteskan HO2 3 % diatas objek glass.

Dengan menggunakan ose steril, ambil 1 koloni terpisah (koloni yang sama) pada Nutrient Agar dan homogenkan dengan HO2 3 %.

Amati hasil yang diperoleh.

e)      Penanaman pada Nutrient Agar Miring

Dengan menggunakan ose steril, ambil 1 koloni terpisah (koloni yang sama) dari Nutrient Agar.

Bekerja secara asepsis di dekat lampu spiritus.

Tanamkan pada media Nutrient Agar Miring membentuk zig zag.

Inkubasikan pada inkubator dengan suhu 37oC selama 24 jam.

f)       Uji Gula – gula (Glukosa dan Manitol)

Larutan glukosa dan manitol dimasukkan kedalam tabung yang berisi tabung durham yang telah dibalik.

Ambil 1 ose steril biakan dari koloni terpisah (koloni yang sama) pada Nutrient Agar.

Masukkan ose ke dalam tabung yang berisi glukosa, kocok hingga bakteri terlepas dari ose.

Ose disterilkan kembali dan diambil bakteri dari koloni yang sama, dimasukkan ke dalam tabung  yang berisi Manitol.

Inkubasikan pada inkubator selama 18 – 24 jam dengan suhu 37oC.

Tujuan dari uji gula-gula yaitu untuk melihat kemampuan bakteri dalam memfermentasikan glukosa dan Mannitol, hasil proses fermentasi berupa asam akan menurunkan pH media dan merubah warna indikator.

g)      Penanaman pada Blood Agar

Dengan menggunakan ose steril, ambil bakteri dari koloni terpisah (koloni yang sama) yang terdapat pada media Nutrient Agar.

Ditanam pada media Blood Agar dengan menggunakan metode gores.

Inkubasikan dalam inkubator selama 18 – 24 jam pada suhu 37oC

h)      Uji Sensitivitas terhadap Antibiotika

Sehari sebelum dilakukan uji sensitivitas, lakukan biakan dari Nutrient Agar disegarkan kembali kedalam Nutrient Broth dan diinkubasikan kedalam inkubator selama 24 jam pada suhu 370C.

Lidi kapas steril dicelupkan kedalam biakan bakteri Nutrient Broth, kemudian diswab merata keseluruh permukaan media Muller-Hinton Agar (MHA).

Diamkan beberapa saat, setelah itu letakkan pada permukaan media MHA beberapa jenis cakram antibiotik untuk melihat sensitivitas bakteri tersebut terhadap antibiotik.

Inkubasikan selama 24 jam pada suhu 37oC dalam inkubator.

Kemudian diamati dan diukur diameter zona yang terbentuk disekitar cakram antibiotik.

  1. HASIL PENGAMATAN

a)      Pewarnaan Sedarhana

Setelah diamati di bawah mikroskop terlihat adanya bakteri yang berbentuk kokus, seperti kumpulan anggur. Hal ini menunjukkan bahwa sampel yang diperiksa terdapat bakteri, seperti yang terlihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Pewarnaan Sederhana

            Pada pewarnaan sederhana hanya digunakan satu macam zat warna untuk meningkatkan kontras antara mikroorganisme dengan sekelilingnya dengan tujuan melihat ada atau tidaknya bakteri sebelum pemeriksaan selanjutnya dilakukan. Lazimnya pewarnaan ini menggunakan zat warna basa seperti kristal violet, biru metilen, karbol fuchsin basa, safranin atau hijau malachit.

b)      Pengamatan Pada Media Nutrient Agar

Hasil pengamatan pada media Nutrient Agar, didapatkan beberapa koloni terpisah dan hasil pengamatan pertumbuhan koloni dapat dilihat pada Gambar 2.

Gambar 2. Biakan bakteri pada media Nutrient Agar

Dari hasil pengamatan koloni yang terpisah dan sifat koloni diperoleh :

a)      Ukuran                                 : 2 mm

b)      Bentuk                                 : Bulat

c)      Konsistensi                           : Lunak

d)     Warna                                   : Putih kekreman

e)      Permukaan                           : Halus

f)       Aspek                                   : mengkilat

g)      Tepi koloni                           : Rata

h)      Elevasi                                  : Cembung

i)        Sifat tembus cahaya             : Opaque

c)  Pewarnaan Gram

Metode pewarnaan gram ini ditemukan oleh Christian Gram pada tahun 1883 yang merupakan ahli bakteriologi Denmark. Pada uji pewarnaan Gram didapatkan bakteri Gram positif, berbentuk kokus bergerombol membentuk untaian seperti buah anggur. Hasil pewarnaan Gram dapat dilihat pada Gambar 3.

Gambar 3. Pewarnaan Gram pada pembesaran 1000x

Ada tiga tujuan pewarnaan gram bakteri, yaitu untuk mengamati penampakan morfologi bakteri lebih baik karena telah memiliki warna, mengidentifikasi organel-organel sel bakteri yang bisa diamati, serta mempermudah proses identifikasi dan membedakan organisme yang memiliki ciri-ciri serupa.

d) Uji Katalase

Hasil dari uji katalase yaitu katalase positif, dapat dilihat pada Gambar 4.

Gambar 4. Terbentuk gelembung O2 pada uji katalase

Pada Gambar 4. terlihat gelembung udara ( katalase positif), karena H2O2  bersifat toksik bagi bakteri, sehingga bakteri akan menghasilkan enzim katalase untuk menetralisirkan H2O2 menjadi O2 dan H2O. Terbentuklah gelembung O2 pada permukaan objek glass.

e)      Pengamatan pada Nutrient Agar Miring

Penanaman bakteri pada media Nutrient Agar miring dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Koloni yang tumbuh pada Nutrient Agar miring

Pada Gambar 5. Terlihat bakteri dengan ciri-ciri pertumbuhan yang menyebar memenuhi seluruh permukaan agar dan tampak seperti bergelombang.

f)       Uji Gula-gula (manitol dan glukosa)

Hasil pengamatan pada uji gula-gula (manitol dan glukosa) menunjukkan adanya perubahan pada manitol, hal ini dapat dilihat pada Gambar 6.

Gambar 6. Hasil uji Gula-gula pada Manitol (A) dan Glukosa (B)

Pada Gambar 6. Terlihat manitol positif karena terjadi fermentasi glukosa ditandai dengan terjadinya perubahan warna larutan dari warna ungu menjadi kuning. Sedangkan glukosa negatif, tidak terjadi fermentasi yang ditandai dengan tidak terjadinya perubahan warna larutan.

g)      Pengamatan pada Blood Agar

Hasil penanaman pada media Blood Agar yang diambil dari biakan media Nutrient Agar dapat dilihat pada Gambar 7.

Gambar 7. Hasil Penanaman pada Media Blood Agar

Pada Gambar 7. Terlihat media Blood Agar jernih artinya terjadi hemolisis sel-sel darah secara lengkap disebut juga hemolisis beta. Media Blood Agar merupakan media untuk pertumbuhan mikroorganisme yang sulit untuk dibiakkan dan juga untuk membedakan kelompok mikroorganisme yang melisis atau tidak melisiskan sel darah merah. Beberapa bakteri menghasilkan sitolisin yang dapat melarutkan sel darah merah.

h)      Uji Sensitivitas terhadap Antibiotika

Hasil uji sensitivitas antibiotik dapat dilihat pada Tabel 1.

Gambar 8. Zona hambat antibiotik

Keterangan:

  1. Zona hambat Gentamicin
  2. Zona hambat Tetraciclin
  3. Zona hambat Vancomycin
  4. Zona hambat Penicillin
  5. Zona hambat Ampicilin

Pada Gambar 8. Terlihat bahwa kelima antibiotik yang digunakan menunjukkan adanya zona hambat. Akan tetapi pada antibiotik Gentamicin, Tetraciclin dan Vancomicin memperlihatkan zona hambat yang lebih luas dibandingkan dengan Penicillin dan Ampicilin. Antibiotik Penicillin dan Ampicillin mempunyai luas zona hambat 6 mm dan 4 mm, sehingga Penicillin dan Ampicillin resisten terhadap bakteri tersebut.

  1. DIAGNOSA

Dari hasil pemeriksaan laboratorium yang telah dilakukan, sifat-sifat biakan dan sifat-sifat biokimia dari bakteri dapat diketahui bahwa bakteri ini termasuk dalam golongan Gram positif (+), berbentuk kokus bergerombol, mampu memfermentasikan glukosa sehingga dapat diindentifikasi bahwa bakteri tersebut adalah Staphylococcus aureus.

  1. DIFFERENSIAL DIAGNOSA

Staphylococcus epidimiris

  1. PEMBAHASAN KASUS

Lebih dari 100 tahun sejak Ogston menemukan Staphylococcus, yang bisa ditemukan dimana-mana  dan bisa di isolasi dari sejumlah host termasuk manusia yang sama bagus perkembangannya seperti di udara, debu, air dan bahan makanan. Staphylococcus bentuknya lebih dominan sebagai flora normal pada kulit dan permukaan mukosa serta pada saat yang bersamaan juga dapat menyebabkan infeksi yang sepele, terlokalisasi, lesi pada permukaan kulit dan kadang-kadang bersifat lethal septikemia (Gillies, 1984; Volk dan Wheeler, 1989).

Staphylococcus adalah bakteri yang berbentuk kokus dengan diameter 1µm yang tersusun tidak teratur. Staphylococcus tumbuh dengan baik pada temperatur 37oC. Staphylococcus menghasilkan katalase, yang membedakan dengan Streptococcus. Staphylococcus memfermentasikan karbohidrat dan menghasilkan asam laktat (Adam, 1992 dan Brooks dkk., 2007).

Staphylococcus bergerombol dalam susunan yang tidak teratur mungkin sisinya agak rata karena tertekan. Pada sediaan langsung yang berasal dari nanah dapat terlihat sendiri, berpasangan, menggerombol dan bahkan dapat tersususn  seperti rantai pendek. Staphylococcus ini tidak bergerak, tidak berspora dan termasuk Gram positif. Tumbuh subur pada media umum, bersifat fakultatif anaerobik. Staphylococcus menghasilkan pigmen emas dan putih (Anonimus, 1994 dan Gibson, 1996).

Patogenesis

Patogenesitasnya merupakan efek gabungan dari berbagai macam metabolit yang dihasilkannya. Staphylococcus aureus bersifat invansif, penyebab hemolisis, membentuk koagulasi, mencairkan gelatin, membentuk pigmen kuning emas dan meragi manitol. Selain itu Staphylococcus dapat menyebabkan terjadinya sistitis dan pielitis, bahkan dapat pula terjadinya septikemia, endokarditis, meningitis, abses serebri, sepsis puerpuralis, trombosis, osteomielitis dan pneumonia (Anonimus, 1994).

Gambaran Klinis

            Gambaran klinis ditemukan tanda-tanda peradangan setempat yang menyembuh setelah pus dikeluarkan. Dinding fibrin disekitar abses dapat mencegah penyebaran kuman. Jika dinding ini rusak, kuman dapat menyebar sehingga terjadi bakteremia. Lokalisasi sekunder dalam suatu organ dapat menimbulkan tanda-tanda disfungsi dari organ yang bersangkutan dan tanda-tanda peradangan. Pada penekanan flora normal dari kolon karena pemakaian antibiotik, dapat menyebabkan terjadinya enterokolitis oleh Staphylococcus yang biasanya bersifat fatal (Djuanda, dkk. 2005).

Pengobatan

Sebagian besar orang memiliki Staphylococcus pada kulit, lubang hidung dan tenggorokan. Bahkan jika kulit dapat dibersihkan dari Staphylococcus (seperti pada eksema), akan segera terjadi infeksi oleh droplet. Infeksi kulit multipel yang serius paling sering terjadi pada remaja. Pada akne, lipase Staphylococcus dan korinebakterium melepaskan asam lemak dari lemak dan menimbulkan iritasi jaringan. Tetrasiklin digunakan untuk terapi jangka panjang.

Abses dan lesi supuratif tertutup lainnya diobati dengan drainase, tindakan yang penting dan pemberian terapi antimikroba. Namun, sulit untuk membasmi Staphylococcus patogen dari pasien yang terinfeksi, karena organisme ini sangat cepat menjadi resisten terhadap berbagai obat antimikroba. Staphylococcus aureus dengan sensitivitas intermediet terhadap vancomicin sudah relatif jarang dan isolat strain yang resisten terhadap vankomisin telah jarang ditemukan (Brooks dkk., 2007)

Pencegahan

Pencegahan langsung dengan kontak fisik dapat dicegah dengan kebersihan kulit, mencegah pencemaran kuman pada luka-luka dan lecet. Cara penyebaran bahan-bahan yang infeksius dari nasofaring perlu lebih banyak diperhatikan. Perlu diambil tindakan yang tepat terhadap para tenaga kesehatan dan bidang lain yang banyak berhubungan dengan masyarakat, yang di dalam hidung dan tenggorokannya mengandung Staphylococcus yang resisten terhadap penicillin (Gaman dan Sherrington, 1992).

RIWAYAT KASUS

  1. ANAMNESA

Nama Pemilik                                 : Herman, skh

Jenis Hewan                                   : Ayam

Alamat Pasien                                 : Desa Limpok

Sampel                                            : Bulu ayam DOC

Tanggal Pengambilan Sampel         : 5 Febuari 2011

  1. METODELOGI
    1. Cara pengambilan sampel

            Sampel bulu ayam DOC diambil dari kandang ayam yang berada di Desa Limpok, dengan cara mengambil bulu rontok yang jatuh di lantai kandang, kemudian dimasukkan ke dalam plastik steril yang telah disiapkan. Sampel tersebut dibawa ke Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan Unsyiah. Sampel dimasukkan ke dalam Buffer Pepton Water (BPW) dan diinkubasikan dalam inkubator selama 24 jam.

  1. Metode yang dilakukan
    1. Penanaman pada Sabouraud’s Dextrose Agar
  • Sampel yang ada di dalam pepton water, dihomogenkan dan didiamkan selama 1 hari pada suhu kamar.
  • Kemudian diambil dengan lidi kapas steril, diswab ke dalam media Sabouraud’s  Dextrose Agar (SDA).
  • Media diinkubasikan pada suhu kamar dan diamati pada hari ke-3,5, dan 7 sampai terlihat adanya pertumbuhan jamur.
  • Untuk menjaga agar media jauh dari gangguan lalat maka dimasukkan ke dalam kantung plastik, kemudian diikat.
  1. Slide Culture
  • Bila pertumbuhan telah nampak pada media, segera dibuat sediaan mikroskopik untuk mengidentifikasi bentuk jamur yang ditemukan. Sediaan mikroskopik dibuat dalam bentuk slide agar.
  • Media SDA yang lain yang telah beku, dipotong sebesar 1 cm2 dan diletakkan di atas objek glass.
  • Koloni jamur yang telah tumbuh pada media SDA, diambil dengan ose steril kemudian ditempel pada keempat sisi slide agar dan pada bagian atasnya ditutup dengan cover glass.
  • Objek glass diletakkan dalam cawan petri dengan menggunakan potongan pipet sebagai alas kedua ujung kaca objek agar biakan berada dalam posisi menggantung.
  • Pada bagian pinggir kiri dan kanan objek glass diletakkan kapas yang sudah dibasahi dengan aquadest.
  • Cawan petri ditutup rapat dan biakan ditempatkan suhu kamar sampai terlihat adanya pertumbuhan jamur pada kaca penutup.
  • Jamur yang tumbuh diamati di bawah mikroskop.
  1. HASIL PENGAMATAN
    1. Pengamatan pada Sabouraud’s Dextrose Agar

Pada media biakan SDA, jamur tumbuh dengan terbentuk koloni berwarna krem keputih-putihan dan permukaannya mengkilap seperti ragi. Adapun bentuk koloni jamur yang tumbuh pada media SDA setelah enam hari dapat dilihat pada Gambar 9.

Gambar 9. Koloni jamur pada media SDA pada hari keenam.

  1. Slide Culture

Hasil penanaman pada slide culture dapat dilihat pada Gambar 10.

Gambar 10. Koloni jamur yang tumbuh pada slide culture pada hari keenam.

            Pada Gambar 10. Terlihat jamur yang tumbuh pada slide culture berwarna hitam keabu-abuan. Setelah diamati dibawah mikroskop dan terlihat seperti pada Gambar 11.

Gambar11. Morfologi jamur pada hari keenam dengan pembesaran. 100x

Berdasarkan Gambar 11. Terlihat bahwa hipa bersepta, bercabang dan berwarna gelap. Sehingga dapat disimpulkan bahwa jamur tersebut merupakan jamur Helminthosporium sp (Larone, 1939).  Helminthosporium sp adalah sejenis jamur yang terdapat pada tanaman pangan, seperti padi dan jagung. Helminthosporium sp yang terdapat pada bulu DOC diduga terkontaminasi, karena kandang ayam terletak didekat area persawahan.

  1. PEMBAHASAN  KASUS

Terdapat lebih dari 50.000 spesies fungi, tetapi sebagian besar fungi bermanfaat bagi manusia. Fungi terdapat di alam dan diperlukan dalam pemecahan serta daur ulang bahan organik. Infeksi fungi disebut mikosis. Sebagian besar fungi patogen bersifat eksogen dan habitat alaminya adalah air, tanah dan debris organik (Brooks, dkk., 2007). Helminthosporium sp adalah jamur yang terdapat pada tanaman pangan. konidiospora Helminthosporium sp  berukuran 150 x 5 µm; konidia 55-65 x 11-14 µm. Sklerotia berukuran 175-580 µm. Miselia – hifa berwarna putih, mempunyai septa, garis tengah hifa 2-5 µm. Apabila ditumbuhkan pada media awalnya miselia berwarna putih, akhirnya menjadi putih kehitaman pada permukaan media. Pada tanaman inang miselia berwarna putih di dalam batang (Faiq, 2010).

Klasifikasi

Klasifikasi dari jamur Helminthosporium sp adalah sebagai berikut:

Divisio             : Amastigomyceta

Sub Divisio     : Deuteromycotina

Kelas               : Deuteromycetes

Sub Kelas        : Hyphomycetidae

Ordo                : Hyphales

Family             : Dematiaceae

Genus              : Helminthosporium

Spesies            : Helminthosporium turcicum, Helminthosporium sigmoideum dan  Helminthosporium oryzae.

Morfologi  Mikroskopis

 Hipa bersepta, septa bersifat konidiospora kadang bercabang, kadang bewarna gelap dengan karakter berbukit kecil biasanya berpasangan pada  konidia yang mengeras (agak keras) konidia bewarna coklat, berbentuk oval berisi 4 atau lebih sel. Berdasarkan pengamatan morfologi jamur di bawah mikroskop, terlihat jamur yang mempunyai blastospora berbentuk bulat, oval dan silindris. Pseudohifa belum tampak, karena waktu pengamatan tersebut adalah enam hari setelah penanaman pada slide culture. Sedangkan waktu yang diperlukan untuk pertumbuhan dan pengamatn pseudohifa adalah tujuh hari ke atas setelah penanaman pada slide culture.

Patogenesitas

 Helminthosporium sp dikenal sebagai jamur kontaminan, sehingga dapt juga terinfeksi pada area disekitar persawahan. Rata–rata pertumbuhannya cepat, matang dalam waktu 5 hari. Helminthosporium sp dapat menimbulkan penyakit yang umum muncul diakhir masa pertumbuhan tanaman padi dan jagung. Dimulai dengan bercak kecil yang tidak beraturan, berwarna coklat kehitaman dibagian pelepah yang berdekatan dengan batas air. Kadang-kadang sklerotia ditemukan pada batang yang terinfeksi (Sufian, 2009).

 

Pengendalian

Fungisida berbahan aktif difenoconazol  dianjurkan untuk mengendalikan penyakit busuk batang.  Pengendalian dengan teknik pengelolaan lingkungan yang dilaporkan dapat menekan penyakit busuk batang diantaranya adalah: jerami dan tunggul dari tanaman yang terinfeksi  diangkut keluar petakan sawah dan dibakar, pengeringan sawah secara berkala, pemupukan komplit dan nitrogen diberikan sesuai kebutuh tanaman, jarak tanam tidak terlalu rapat, dan memilih varietas padi yang tidak mudah rebah (Anonimus, 2011).

 
Leave a comment

Posted by on July 6, 2011 in Uncategorized

 

Penyakit Mastitis pada Kambing


KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

            Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan paper kami dengan judul “Penyakit Mastitis pada Kambing” yang merupakan salah satu tugas dalam menyelsaikan Ko-Asistensi kami pada laboratorium Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas kedokteran Hewan Universitas  Syiah Kuala. Salawat beriring salam kami sanjungkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa umatnya dari alam kebodohan ke alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan.

            Kami sangat menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang terdapat pada penulisan paper ini,  kami menerima segala masukan yang di berikan untuk perbaikan paper ini, agar dapat menjadi lebih baik. Kami sangat berharap bahwa tulisan ini dapat bermanfaat untuk dijadikan sebagai sumber informasi atau sebagai bahan bacaan.

Banda Aceh, 27 September 2010

Tim penulis

PENDAHULUAN

Pengelolaan induk dan anak kambing merupakan salah satu titik kritis dalam usaha produksi kambing, karena terkait erat dengan efisiensi biologis maupun ekonomis sistem produksi. Sebagian besar pengusahaan ternak kambing di Indonesia merupakan usaha peternakan rakyat dengan tingkat penerapan teknologi serta manajemen yang cukup beragam. Keragaman dalam hal intensitas penggunaan maupun pemilihan jenis teknologi dapat disebabkan antara lain oleh perbedaan agro-ekosistem dimana ternak kambing dipelihara ataupun oleh tingkat pengetahuan serta pengalaman dalam berusaha (Simon, 2009)

Ternak kambing memiliki potensi sebagai komponen usaha tani yang penting diberbagai agro-ekosistem, karena memiliki kapasitas adaptasi yang relatif lebih baik dibandingkan dengan beberapa enis ternak ruminansia lain, seperti sapi dan domba. Dengan karakter yang mampu bertahan pada kondisi marjinal, ternak ini sering menjadi pilihan utama diberbagai komunitas petani, sehingga berkembang sentra-sentra produksi kambing yang menyebar diberbagai agriekosistem. Namun demikian, pengelolaan ternak kambing dalam usaha tani sebagian besar masih dilakukan secara sambilan, walaupun secara finansial komoditas ini memiliki peran yang penting dalam perekonomian rumah tangga petani.

Mastitis adalah salah satu penyakit yang sering menyerang pada kambing perah. Menurut Subronto (2003), mastitis adalah penyakit radang ambing yang merupakan radang infeksi. Biasanya penyakit ini berlangsung secara akut, sub akut maupun kronis. Mastitis ditandai dengan peningkatan jumlah sel di dalam air susu, perubahan fisik maupun susunan air susu dan disertai atau tanpa disertai perubahan patologis atau kelenjarnya sendiri. Mastitis adalah peradangan pada ambing yang biasanya disebabkan oleh infeksi kuman. Banyak kuman yang dapat menyebabkan mastitis termasuk bakteri, kapang, dan khamir. Mastitis merupakan penyakit yang sangat penting dari segi ekonomi pada peternakan kabing perah perah (Anonimus,2010).

TINJAUAN PUSTAKA

Upaya peningkatan produksi susu, usaha ternak kambing  perah pun menampakkan hasilnya seiring dengan kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi susu. Perkembangan pada agribisnis kambing  perah mulai nampak dengan berkembangnnya  pada agribisnis kambing  perah, seperti koperasi, balai inseminasi buatan, industri pengolahan susu, pabrik pakan, perusahaan pensuplai kebutuhan mesin dan peralatan kambing perah, dan sebagainya. Namun, akhir-akhir ini perkembangan jumlah populasi kambing  perah, masih kurang (simon, 2009)

Penyakit pada kambing  perah yang dapat menurunkan kualitas serta kuantitas susu salah satunya adalah mastitis. Mastitis menyangkiti hewan yang menghasilkan susu. Yang patut diperhatikan adalah tingkat kejadiannya Di satu wilayah tingkat kejadian mastitis sangat tinggi, sedang di tempat lain dapat dikatakan rendah. Penyakit mastitis terdiri dari beberapa tingkatan dan sebelum terlihat secara kasat mata mastitis mencapai subklinis. Rataan bentuk subklinis dapat mencapai 20 kali lebih banyak daripada klinis. Bentuk subklinis menyebabkan kerugian ekonomik lebih besar. Mastitis subklinis merupakan peradangan pada ambing tanpa ditemukan gejala pada ambing dan susu. Ternak kambing  perah terlihat sehat, ambing normal, dan susu tidak menggumpal serta warna tidak berubahan (Anonimus,2010a)

Mastitis dapat disebabkan oleh berbagai macam kuman, diantaranya adalah bakteri.  Mikrorganisme merugikan sering disebut kuman. Kuman penyebab mastitis yang penting yaitu kelompok yang banyak terdapat di lingkungan peternakan. Dengan demikian, kambing  perah selalu berisiko terinfeksi. Mastitis pada ambing merupakan masalah utama kesehatan ternak yang dapat menurunkan produksi susu sebesar 15-20%. Tingkat terjadinya mastitis subklinis di Indonesia diduga mencapai 75%. ( Anonismus,  2010b)

Penyebab dan Akibat Mastitis

Susu merupakan media pertumbuhan yang sangat baik bagi bakteri dan dapat menjadi sarana potensial bagi penyebaran bakteri patogen yang mudah mencemari kapan dan dimana saja sepanjang penanganan susu tidak memperhatikan kebersihan. Pencemaran pada susu sudah terjadi sejak proses pemerahan dan dapat berasal dari berbagai sumber seperti kulit sapi, ambing, ember, tanah, debu, manusia, peralatan, dan udara. ( Anonismus,  2010b)

Salah satu penyebab mastitis subklinis yang sering terisolasi adalah Staphylococci serta Streptococci. Kerugian akibat mastitis subklinis lebih besar daripada mastitis klinis (Agnesia, dkk., 2005). Menurut Nickerson (2000), apabila jumlah kuman susu lebih dari 200.000 colony forming unit (CFU) per ml menunjukkan kondisi ambing abnormal dan apabila melebihi standar tersebut dapat dinyatakan sapi menderita mastitis. Standar yang berlaku di Indonesia (SNI) yaitu harus kurang dari 1×106 CFU/ml.

kambing penderita mastitis dapat diketahui dengan adanya pembengkakan pada ambing dan puting serta ambing mengeras atau mengerut yang terjadi pada satu kuartir atau lebih. Rasa sakit timbul pada saat diperah dan diikuti oleh penurunan produksi yang bervariasi mulai dari ringan sampai berat. Serangan penyakit yang berat menyebabkan susu dapat berubah warna menjadi merah karena adanya darah atau bercampur dengan nanah. kambing perah yang menderita mastitis berat biasanya diafkir ( Anomimus ,2010c)..

Ambing adalah organ produktif dan sensitif.  Ambing dapat rusak akibat sesuatu yang bersifat mekanis dan perubahan besar yang tiba-tiba dari lingkungan. Contohnya adalah tarikan tangan, luka, perbedaan besar temperatur siang dan malam, dan lain-lain.  Tarikan tangan, karena menggunakan vaselin, menyebabkan sel puting memanjang sehingga puting dan ambing mudah diserang kuman penyakit. Luka yang diikuti kontak langsung dengan air, lalat, atau sumber kuman mempercepat timbulnya penyakit mastitis. Perbedaan besar temperatur siang dan malam menyebabkan kambing perah menderita stres dan daya tahan tubuhnya melawan penyakit menjadi turun. Ambing kambing perah berada dekat dengan lantai. Padahal, di dalam ambing terdapat sejumlah susu yang dapat menarik datangnya bakteri.jadi, bakteri masuk dan merusak jaringan ambing. Lantai yang kotor atau susu tumpah ke atas lantai dan tidak dibersihkan mengakibatkan kuman penyakit cepat berkembang biak dan meningkatkan terjadinya mastitis (Andi dkk., 2006)

Secara alami ambing mempunyai alat pertahanan terhadap penetrasi kuman penyakit. Alat ini yaitu otot spinkter yang berfungsi menutup saluran dan terdapat pada ujung lubang puting. Tetapi, otot spinkter tidak dapat menahan 100% masuknya kuman karena otot telah lemah, terdapat susu di ujung puting, ada luka, dan sebagainya. Ambing sehat, spinkter dan saluran puting tidak rusak, udara nyaman, dan jumlah bakteri yang masuk sedikit tidak menyebabkan penyakit mastitis.  Bila salah satu komponen tersebut berubah maka terjadi penyakit mastitis. Makin banyak perubahan makin tinggi tingkat penyakit mastitis yang terjadi atau makin parah. Beberapa orang menyatakan bahwa bakteri mastitis masuk ke dalam ambing di antara waktu pemerahan. Lalu, di dalam ambing bakteri tumbuh cepat karena lingkungan yang sesuai.

Uraian di atas menunjukkan bahwa keadaan tubuh kambing perah, kandang dan sekitarnya, cuaca, dan perlakuan peternak terhadap sapi perahnya serta kemudian diikuti oleh masuknya kuman penyakit ke dalam ambing menyebabkan terjadinya mastitis. Dengan demikian, berjangkitnya penyakit mastitis tidak disebabkan oleh satu faktor, tetapi oleh beberapa faktor. (Anominus,2008)

Pencegahan dan Pengobatan

Peternak kambing perah dapat melaksanakan beberapa tindakan untuk mencegah dan mengontrol timbul serta berkembangnya risiko terjadinya infeksi mastitis. Tindakan itu adalah menjaga kebersihan kandang (terutama lantai), alat-alat, dan air. Susu diuji menggunakan cawan hitam, California Mastitis Test (CMT), atau metode lainnya. Tindakan lain yaitu menggunting rambut di daerah ambing dan lipatan paha.  Susu tidak dipancarkan ke atas tangan, lantai, atau tempat sapi perah berbaring. Langkah selanjutnya ialah membubuhi disinfektan ke dalam cairan pembersih ambing. Penggunaan disinfektan diikuti oleh langkah penggunaan lap. Ambing dan puting dilap dengan cairan berdisinfekan. Sangat dianjurkan peternak menggunakan satu lap untuk setiap individu kambing perah.kambing terkena mastitis diperah pada akhir pemerahan sehingga semua peralatan dan bahan yang digunakan terpisah dari kambing perah sehat.

Pencegahan penyakit mastitis dapat dilakukan dengan cara melakukan sanitasi terhdap ternak itu sendiri khususnya di daerah puting. Salah satu usaha sanitasi untuk mencegah mastitis yaitu pencelupan puting kambnig perah setelah pemerahan. Pencelupan puting berguna untuk menghambat masuknya bakteri ke dalam puting. Larutan kimia yang biasa digunakan oleh peternak umumnya mengandung ammonium, khlor, brom, iod, dan fluor. Yang perlu diperhatikan adalah waktu pencelupan puting, konsentrasi larutan yang dipakai, dan umur larutan. Bahan ini dengan merek dagangnya dapat dibeli di toko yang menjual obat ternak dan dalam penggunaannya harus memperhatikan petunjuk pabrik.

Selain menggunakan bahan kimia, peternak sapi perah dapat menggunakan bahan alami untuk mencegah berjangkitnya mastitis. Tanaman yang mengandung minyak atsiri, saponin, tanin, dan fenol dapat digunakan untuk hal tersebut. Zat-zat ini dapat berfungsi sebagai pembunuh kuman. Salah satu contohnya adalah daun sirih hijau (Piper betle, L). Daun sirih ditambah air dalam jumlah yang sama dirajang sampai hancur. Hasil campurannya digunakan sebagai larutan untuk pencelupan puting sapi perah setelah pemerahan. Penggunaan larutan atau sari daun sirih sama baiknya dengan bahan kimia.

Untuk pengobatan mastitis, peternak kambing perah biasanya menggunakan antibiotik, namun pemakaian antibiotik untuk pengobatan mastitis dapat mengakibatkan terjadinya residu antibiotik pada susu yang berakibat langsung timbulnya alergi pada konsumen dan terjadinya resistensi kuman. Peternak kambing perah sebaiknya berkonsultasi dengan mantra atau dokter hewan, jika ingin menggunakan antibiotik. (Anomimus ,2010c)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari hasil surfe kami kelapangan  peternakan kambing perah  pusat pengebangan masyarakat ( P2M) di daerah Mirek camredup menderita penyakit mastitis . Dengan gejala  klinik

a. merah
b. panas
c. keras
d. sakit bila disentuh
e. fungsi terganggu (produksi menurun menurun)

Anonimus (2008) menyatakan  keadaan mastitis di bagi menjadi beberapa bagian:
a. pra akut mastitis
b. Akut mastitis
c. Sub akut mastitis
d. kronis mastitis
e. sub klinis mastitis

Dalam keadaan akut atau sub akut biasanya tanda-tanda klinis pada ambing terjadi pembengkakan pada ambing dengan tanda-tanda :
a. merah
b. panas
c. keras
d. sakit bila disentuh
e. fungsi terganggu (produksi menurun menurun)

Tanda-tanda keseluruhan
a. demam (pyrexia)
b. severe depression
c. anorexia penurunan nafsu makan
d. warna susu berubah warna – kuning/merah keadaan – pekat/merah bau. Untuk subklinis mastitis, tidak ada perubahan yang nyata pada susu.Penyakit hanya bisa dikenali melalui pemeriksaan serum (patologi klinis).

Dari infor masi yang kami dapat dari pertekan P2M ini bahwasanya kambing boer yang sedang berproduksi menderita mastitis 3 bulan sebulumnya, tetapi kambing tersebut tetap di perah  bersama dengan kambing lainya. Pada 5 hari tehakir ini kambing Nupiar yang di perah bersamaan juga terserang mastitis. Penyakit mastitis dapat menyebar karena kurang nya tidakan pencegaha seperti:

. Menjaga kebersihan kandang

. Memandikan kambing secara teratur

. Menjaga kebersihan pemerah, peralatan pemerahan, kambing pada saat sebelum pemerahan dan sesudah pemerahan
• Pada saat pemerahan Susu harus diperah sampai habis tetapi perlakuan yang halus dan cepat sehingga merusak ambing.
• Pada kambing yang tidak diperah susunya setelah lepas sapih sebaiknnya di diperah sampai masa kering karena sisa susu setelah tidak disusu oleh anak kambing dapat dijadikan media bakteri sehingga terjadi peradangan ( Anonismus,  2010b).

KESIMPULAN

Penyakit pada kabing  perah yang dapat menurunkan kualitas serta kuantitas susu salah satunya adalah mastitis. Mastitis merupakan penyakit ambing yang disebabakan Staphylococci serta Streptococci. kurangnya menjaga kebersihan kandang, peralatan pemeraha, higienis pemerahan dan proses pemerahan dapat penyebab penyebaran penyakit mastitis.

 
Leave a comment

Posted by on July 6, 2011 in Uncategorized

 

Salmonella sp dan Streptomyces sp

KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

           Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan laporan Ko-Asistensi Mikrobiologi  kami dengan judul “Salmonella sp dan Streptomyces sp” yang merupakan salah satu tugas dalam menyelsaikan Ko-Asistensi kami pada laboratorium Mikro Biologi, Fakultas kedokteran Hewan Universitas  Syiah Kuala. Salawat beriring salam kami sanjungkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa umatnya dari alam kebodohan ke alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan.

            Kami sangat menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang terdapat pada penulisan paper ini,  kami menerima segala masukan yang di berikan untuk perbaikan paper ini, agar dapat menjadi lebih baik. Kami sangat berharap bahwa tulisan ini dapat bermanfaat untuk dijadikan sebagai sumber informasi atau sebagai bahan bacaan.

PENDAHULUAN

Dalam mikrobiologi dipelajari berbagai mikroorganisme, hubungan antara seksamanya dan juga kelompok organismelainya, guna pengendalian peranan dan kesehatan serta kesejahteraan manusia dan hewan. Pada dasarnya mikrooranisme  sangat berhubungan dengan kesehatan yaitu  penyebab penyakit. Berbagai penyakit yang disbabkan oleh mikroorganisme bakteri,  virus, dan jamur.

Samonellosis adalah penyakit yang disebabkan oleh bakteri  salmonella yang dapat menginfeksi hewan dan manusia dengan tanda-tanda septikemia gastro enteritis dan diare. Hewan sehat dapat bertindak sebagai pembawa bakteri. Salmonella Sp. yang menjadi sumber penularan bagi hewan lain  terutama pada saat  kondisi badannya lemah.

Jamur merupakan salah satu mikroorganisme penyebab penyakit pada hewan dan manusia. Penyakit yang disebabkan jamur pada manusia dan hewan  disebut mikosis, yaitu mikosis superficial dan mikosis sistemik. Mikosis superfisial merupakan mikosis yang menyerang kulit, kuku dan rambut terutama. Sedangkan mikosis sistemik merupakan mikosis yang menyerang alat-alat dalam, seperti jaringan sub-cutan, paru-paru, ginjal, jantung, mukosa mulut, usus dan vagina (Aanonimus,2009).

Mycetoma adalah penyakit yang disebabkan oleh Streptomyces sp dengan gejala klinik Lesi bengkak dan lokal di lokasi trauma. Ada beberapa abses, sinus pengeringan, dan nanah dengan butiran . Jamur Streptomyces juga berperan penting dalam kesehatan dan industri karena Streptomyces mensintesis antibiotik. Lebih dari 50 antibiotik diisolasi dari spesies Streptomyces (Anonimus, 2010).

KASUS I .

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI BAKTERI

 

Sampel : Swab Tenggorokan Ayam

  1. A.      Anamnesa

Nama pemilik                               : Andi

Jenis hewan                                  : Ayam broiler

Umur                                            : 28 hari

Kelamin                                        : Betina

Alamat Pasien                              : Pasar Lamnyong

Lamanya menderita sakit             : 5 hari

Status Gizi                                   : Kurang baik

  1. B.       Diagnosa  Laboratorium

Cara Pengambilan Sampel

     Pengambilan sampel dilakukan dengan cara melakukan swab pada tenggorokan ayam dengan menggunakan lidi kapas steril, lalu dimasukkan ke dalam tabung reaksi yang berisi Nutrient Broth (NB), lidi kapas steril sedikit dipatahkan untuk menghindari kontaminasi dan dihomogenkan. Selanjutnya sampel dimasukkan ke dalam termos yang berisi es lalu dibawa ke Laboratorium Mikrobiologi Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Syiah Kuala. Setelah sampai di Laboratorium Mikrobiologi, dari sampel tersebut dilakukan pewarnaan sederhana untuk melihat ada atau tidaknya bakteri yang terdapat pada sampel tersebut. Setelah dilakukan pewarnaan sederhana, kemudian sampel diinkubasikan ke dalam inkubator pada suhu 370 C selama 18-24 jam.

  1. C.      METODE / UJI/ TEST YANG DILAKUKAN

1)        Pewarnaan Sederhana

            Pewarnaan sederhana dilakukan untuk melihat ada tidaknya bakteri. Prosedur pewarnaan sederhana mudah dan cepat, sehingga pewarnaan ini sering digunakan juga untuk melihat bentuk, ukuran dan pemetaan mikroorganisme. Pada uji ini hanya digunakan 1 macam zat warna untuk meningkatkan kontras antara mikroorganisme dan sekelilingnya. Pada umumnya pewarnaan ini menggunakan zat warna seperti Crystal Violet, Methylen Blue, Safranin (Fuchsin) dan Malachit Green.

Cara Kerja:

Buat sediaan

a)      Bersihkan kaca object dengan sepotong kapas yang dibasahi dengan alkohol 70 %.

b)      Diambil satu tetes NaCl fisiologis, teteskan di atas object glass.

c)      Homogenkan tabung yang berisi suspensi bakteri, kemudian dengan menggunakan ose steril diambil supensi bakteri dan diteteskan ke atas object glass yang telah ditetesi NaCl fisiologis.

d)     Ratakan suspensi bakteri dengan NaCl fisiologis.

e)      Fiksasi di atas api bunsen.

  1. Pewarnaan sederhana

a)      Genangi dengan salah satu zat warna (methilen blue, air fuchsin, safranin) selama 1-2 menit.

b)      Buang sisa zat warna, cuci dengan air mengalir,sampai zat warna hilang.

c)      Keringkan di udaraAmati di bawah mikroskop dengan, pembesaran 1000x.

2)        Penanaman Bakteri Pada Media NA (Nutrient Agar)

Media ini berfungsi untuk mendapatkan koloni yang terpisah dari biakan bakteri dan untuk melihat morfologi kolon dari bakteri.

Cara Kerja:

  1. Ose dipanaskan di api bunsen lalu didinginkan sejenak.
  2. Dengan menggunakan ose diambil suspensi kuman dari biakan NB, kemudian digoreskan pada media NA dengan menggunakan metode gores (dilakukan di dekat nyala api bunsen).
  3. Diinkubasikan pada suhu 370 C dalam inkubator selama 18-24 jam.
  4. Diamati morfologi koloni yang terbentuk.

3)        Pewarnaan Gram

Pewarnaan Gram merupakan pewarnaan differensial yang sangat berguna dan merupakan tahap penting dalam mengidentifikasi bakteri. Pewarnaan ini memisahkan bakteri menjadi kelompok Gram positif dan Gram negatif. Bakteri Gram positif akan terlihat berwarna ungu dan bakteri Gram negatif berwarna merah.

Cara Kerja:

1)      Buat Sediaan

  1. Bersihkan kaca object dengan sepotong kapas yang dibasahi dengan Alkohol 70 %.
  2. Diambil satu tetes NaCl fisiologis, teteskan di atas object glass
  3. Diambil sebahagian koloni bakteri yang terpisah dari media NA dengan menggunakan ose yang steril yang telah didinginkan terlebih dahulu, dan letakkan di atas object glass.
  4. Ratakan koloni dengan NaCl fisiologis.
  5. Fiksasi diatas.

2)      Pewarnaan Gram

  1. Genangi sedian dengan Gentian Violet pada object glass dan biarkan selam 3-5 menit.
  2. Cuci dengan air mengalir.
  3. Genangi sedian dengan larutan lugol selama 1 menit.
  4. Cuci dengan air mengalir.
  5. Lunturkan dengan Alkohol 96 % selama 10 detik sampai zat warna hilang.
  6. Cuci dengan air mengalir.
  7. Genangi sediaan dengan larutan safranin selama satu menit.
  8. Cuci dengan air mengalir.
  9. Keringkan sediaan di udara atau tekan perlahan-lahan dengan kertas saring.
  10. Tetesi sediaan dengan minyak emersi lalu amati di bawah mikroskop dengan pembesaran 1000x

4)        Penanaman Pada Media Mc. Conkey

Cara kerja :

  1. Sediakan plate agar Mc. Conkey
  2. Ambil ose, lalu disterilkan di atas nyala api bunsen sampai berpijar dengan sudut 450C.
  3. Dengan menggunakan ose yang sudah steril, diambil sebagian bakteri dari NA, kemudian digoreskan pada media NA dengan menggunakan metode gores (dilakukan di dekat nyala api bunsen).
  4. Diinkubasikan media Mc. Concey ke dalam inkubator pada suhu 370C selama 18-24 jam.

5)        Penanaman Pada NA Miring

Subkultur untuk mendapatkan biakan murni dapat dilakukan pada agar miring.

Cara Kerja:

  1. Dengan menggunakan ose steril sentuhkan mata ose yang steril tersebut pada sebagian dari koloni yang  terpisah  dari koloni yang sama yang terdapat pada media agar.
  2. Penanaman pada agar miring dilakukan dengan membuat goresan yang berkelok-kelok pada permukaan agar miring.
  3. Kemudian inkubasikan ke dalam inkubator pada suhu 370C selama 18-24 jam.

6)         Penanaman pada media BGA (Brilian green Agar)

Cara kerja :

  1. Sediakan plate agar BGA
  2. Ambil ose, sterilkan dengan cara panaskan mata ose di atas nyala api bunsen sampai berpijar dengan sudut 450C.
  3. Dengan menggunakan mata ose yang terlebih dahulu didinginkan, diambil biakan bakteri dari NA miring yang telah diinkubasikan pada suhu 370C selama 18-24 jam.
  4. Amati tumbuh tidaknya koloni bakteri.

7)        Uji Biokimia

  1. a.         Simmon’s Citrat Agar

a)         Dengan menggunakan ose steril, diambil biakan dari NA miring, lalu ditanam pada media Simmon’s citrat dengan cara digores secara zig zag pada permukaannya.

b)        Diinkubasikan pada suhu 370C selama 24 jam.

  1. b.   TSIA (Triple Sugar Iron Agar)

a)      Dengan menggunakan ose steril, diambil biakan dari NA miring, lalu ditanam pada media TSIA dengan cara menusuk ose sampai sepertiga dasar tabung. Kemudian diangkat dan digores secara zig zag pada permukaannya.

b)      Diinkubasikan pada suhu 370C selama 24 jam.

  1. c.    Indol

a)      Dengan menggunakan ose steril, diambil sebagian koloni dari NA miring lalu diinokulasikan pada media indol dengan cara diaduk, kemudian diinkubasikan pada suhu suhu 370C selama 24 jam.

b)      Pada media indol ditambahkan 1-2 tetes reagen kovacs.

  1. d.   SIM (Sulfid Indol Mortility)

a)      Dengan menggunakan ose steril, diambil koloni dari biakan Mc. Conkey agar, kemudian ditanam pada media SIM dengan cara menusuk ose tegak lurus.

b)      Inkubasikan pada suhu 370C selama 24 jam.

  1. e.    Gula-gula (Glukosa, Sukrosa, Laktosa dan Mannitol)

a)      Dengan menggunakan ose steril, diambil biakan dari NA miring, kemudian ditanam pada media Glukosa, Sukrosa, Laktosa dan Manitol dengan cara mengaduk dengan ose secara perlahan-lahan dipermukaan tabung. Lalu dihomogenkan.

b)      Diinkubasikan pada suhu 370C selama 24 jam.

  1. f.     Uji Sensitifitas Terhadap Antibiotik

a)      Sediakan Mueller Hinton Agar (MHA).

b)      Swab yang steril dicelupkan ke dalam biakan bakteri pada Nutrient Broth, kemudian diswab ke seluruh permukaan media MHA dengan merata dibiarkan selama ± 5 menit.

c)      Selanjutnya diletakkan 4 jenis cakram disk antibiotik (Vancomisin, Tetrasiklin, Streptomisin dan Gentamisin).

d)     Kemudian diinkubasikan pada suhu 370C selama 24 jam.

  1. D.      HASIL PENGAMATAN
  2. 1.        Pewarnaan Sederhana (Simple staining)

            Pewarnaan sederhana dilakukan untuk melihat ada atau tidaknya bakteri dalam sampel. Pada pewarnaan sederhana digunakan satu macam zat warna yang bersifat basa yaitu gentian violet. Pewarnaan ini terjadi karena kation zat warna berkaitan dengan anion protoplasma bakteri. Hasil pewarnaan sederhana dapat di lihat pada Gambar 1.

Gambar 1. Pewarnaan sederhana dengan pembesaran 1000x.

Pada pewarnaan sederhana, setelah diamati di bawah mikroskop terlihat adanya bakteri dengan bentuk basil pendek dan ada beberapa bakteri lain yang berbentuk kokus hal ini membuktikan bahwa sampel yang diuji terdapat bakteri.

  1. 2.        Penanaman pada media Nutrien Agar (NA)

Hasil pengamatan pada media nutrient agar (NA) yang telah ditanam dari biakan media nutrient broth (NB) dapat dilihat pada Gambar 2

.

Gambar 2.  Penanaman bakteri pada media  nutrient agar (NA)

Pada media nutrient agar (NA), dapat diamati morfologi dari koloni bakteri yang telah tumbuh. Morfologi dari koloni tersebut dapat di lihat pada Tabel 1.

Tabel 1. Hasil pengamatan pertumbuhan koloni bakteri pada media nutrient            agar (NA)

Bentuk

Diameter (mm)

Tepi koloni

Permukaan

Konsistensi

Warna

Medium

Bulat

2 mm

Rata

Cembung

mengkilat

Putih kekuningan

Tidak berubah

Nutrient Agar (NA) merupakan media sederhana yang dibuat dari ekstrak beef, pepton, dan agar. NA merupakan salah satu media yang umum digunakan dalam prosedur bakteriologi seperti uji biasa dari air, sewage, untuk membawa stok kultur, untuk pertumbuhan sampel pada uji bakteri, dan untuk mengisolasi organisme dalam kultur murni. Media ini berbentuk padat yang digunakan untuk pembiakan bakteri sehingga ditemukan koloni bakteri yang berjenis sama sehingga dapat diketahui bentuk, ukuran, konsistensi, warna koloni bakteri, serta perubahan medium sebelum dilakukannya uji lanjutan.

  1. 3.        Pewarnaan Gram

Pewarnaan Gram dilakukan untuk mengetahui apakah bakteri bersifat  Gram positif atau Gram negatif. Hasil dari pewarnaan Gram yang telah dilakukan terlihat bahwa bakteri berwarna merah. Hal ini menandakan bahwa bakteri tersebut bersifat Gram negatif. Hasil pewarnaan Gram dapat dilhat pada gambar 3. Pada pewarnaan  Gram bakteri terlihat berbentuk basil pendek dan berwarna merah.

 

Gambar 3. Pewarnaan Gram pembesaran 1000x

            Bakteri Gram negatif  akan terlihat berwarna merah, hal ini dikarnakan oleh bakteri Gram negatif mempunyai lapisan peptidoglikan yang tipis, yaitu hanya 1-2 lapisan. Oleh sebab itu, maka pori-pori pada dinding sel Gram negatif cukup besar dan karena permeabilitasnya yang tinggi memungkinkan terjadinya pelepasan komplek ungu kristal yodium. Dalam proses pewarnaan Gram, pencucian dengan alkohol akan menyebabkan terekstrasinya lipid pada bakteri Gram negatif. Hal ini menyebabkan komplek ungu kristal yodium yang telah memasuki dinding sel pada langkah awal pewarnaan dapat terekstraksi. Sedangkan pada bakteri Gram positif, mempunyai lapisan dinding sel yang kaku dengan lapisan peptidoglikanyang terdiri dari 30 lapisan. Permeabilitas dinding sel bakteri gram positif yang rendah mengakibatkan kompleks ungu Kristal-yodium (UKY) tidak dapat keluar setelah pencucian dengan alkohol. Kandungan lipid Gram positif yang rendah, maka dinding selnya akan terhidrasi akibat pemberian alkohol, sehingga pori-pori mengecil, permeabilitas berkurang dan komplek UK-Y tidak dapat terekstraksi.

  1. 4.        Penanaman pada Mc Conkey Agar

     Mc. Conkey merupakan media selektif untuk kuman, karena yang dapat tumbuh hanya kuman Gram negatif, sedangkan Gram positif dihambat pertumbuhannya oleh garam empedu dan neutral red.

Gambar 4. Koloni bakteri pada media Mc. Conkey

Dari hasil pengamatan koloni berbentuk  bulat, warna kuning, tepi beraturan, permukaan cembung. Mc. Conkey Agar adalah media selektif, mengandung zat penghambat berupa garam empedu dan neutral red. Media ini digunakan untuk pembiakan bakteri dari famili Enterobakteriacea dan semua bakteri Gram negatif yang dapat atau tidak memfermentasikan laktosa.

  1. 5.        Penanaman pada  nutrient agar (NA) miring

            Pada penanaman NA miring terlihat koloni berwarna putih. Media ini berfungsi untuk mendapatkan biakan  bakteri yang murni dan juga berfungsi untuk stock bakteri. Biakan bakteri pada nutrient agar (NA) miring dapat dilihat pada Gambar 5.

Gambar 5. Biakan bakteri pada media nutrient agar (NA) miring

  1. 6.  Penanaman pada BGA (Brilian green Agar)

            Media ini sangat selektif untuk isolasi Salmonella sp dan  Salmonella typhy yang akan terlihat berwarna merah dikelilingi zona merah. Pseudomonas dihambat, tetapi jika tumbuh menyerupai koloni Salmonella berwarna merah. Untuk menetapkan kontaminan tersebut Salmonella atau Pseudomonas diperlukan konfirmasi dengan media lain.

Gambar 6. Koloni bakteri pada media BGA

  1. 7.        Uji Biokimia

Hasil uji biokimia yang diamati setelah 24 jam adalah

Gambar 7. Hasil uji biokimia dan gula-gula (glukosa, laktosa, sukrosa, dan manitol)

Hasil uji biokimia dan gula-gula (glukosa, laktosa, sukrosa, dan manitol) dapat dilihat pada Tabel 2.

Tabel 2. Hasil uji biokimia dan gula-gula (glukosa, laktosa, sukrosa, dan manitol)

TSIA

Simmon’s

Citrate

SIM

Indol

MR

VP

Glukosa

Laktosa

Manitol

Sukrosa

(+) H2S (merah hitam)

(+) berubah warna menjadi Biru

Motility

(-) cicin hijau

(+) berubah warna menjadi merah

(-) tidak berubah warna

(+) adanya gas dan terjadi sedikit perubahan warna

(-) tidak berubah warna

(+) berubah warna menjadi kuning dan ada gas

(-) tidak berubah warna

–          Uji TSIA

            Pada uji TSIA positif menunjukkan media slant berubah menjadi kuning karena bakteri bersifat asam. Hal ini sesuai dengan pernyataan Gupte (1990) yang menyatakan bahwa pada fermentasi daerah slant bakteri tidak memfermentasi laktosa dan sukrosa. Hasil fermentasi pada daerah butt/tegak berubah berwarna kuning menandakan bakteri memfermentasi glukosa. Pada media TSIA, hasil positif juga dapat ditunjukkan dengan perubahan warna media TSIA menjadi warna hitam. Perubahan ini menandakan bahwa bakteri yang terdapat pada media TSIA tersebut menghasilkan gas H2S. hasil uji biokimia pada TSIA dapat dilihat pada Gambar 8.

                     

Media TSIA                                   Hasil TSIA ( Positif)

Gambar 8. Hasil uji biokimia pada TSIA

–          Uji Simmon’s Citrat Agar

            Uji Simmon’s Citrat Agar digunakan untuk melihat kemampuan mikroorganisme menggunakan citrat sebagai satu-satunya sumber karbon dan energi. Media ini merupakan medium sintetik dengan NA citrat sebagai satu-satunya sumber karbon, NHA+ sebagai sumber N dan Brom Thymol Blue sebagai indikator pH. Pada uji ini menunjukkan reaksi positif. Hal ini ditandai dengan adanya perubahan warna media dari hijau menjadi biru. Ini karena dasar dari medium mampu dihilangkan sehingga terjadi peningkatan pH yang nantinya akan menambah warna media dari hijau menjadi biru bila keadaan menjadi alkalin. Hasil uji biokimia simmon’s Citrat agar dapat dilihat pada Gambar 9.

Media Simmon’s Citrat Agar               Hasil uji Simmon’s Citrat Agar (Positif)

Gambar 9. Hasil uji biokimia Simmon’s Citrat Agar

–          Uji SIM

            Uji SIM dilakukan untuk pergerakan bakteri. Penanaman dilakukan dengan cara menusuk ose yang mengandung bakteri secara tegak lurus sampai ke seperempat dari dasar tabung. Pada uji ini terlihat pergerakan (motility) pada media yang ditusuk dengan ose dan warna media SIM berubah menjadi hitam. Hasil uji biokimia pada media SIM dapat dilihat pada Gamabar 10.

Media SIM                                        Hasil uji SIM (Motility)

Gambar 10. Hasil uji biokimia SIM

–          Uji Indol

            Indol adalah senyawa yang mengandung nitrogen yang terbentuk sebagai hasil pemecahan amino tryphosphat. Pentingnya uji Indol ialah karena hanya beberapa jenis bakteri yang dapat membentuk indol dan produk ini dapat di uji sehingga dapat digunakan sebagai identifikasi yang digunakan sebagai trythophan adalah media trypton. Pada uji indol yang telah dilakukan diperoleh hasil yang Negatif (-), yaitu ditandai dengan terbentuknya cincin hijau. Hal ini menandakan bahwa bakteri tersebut tidak menggunakan triptopan sebagai sumber energinya, sehingga bakteri tersebut tidak mapu menghasilkan indol (cincin merah). Hasil uji biokimia indol dapat dilihat pada Gambar 11.

            Larutan  Indol                              hasil uji Indol (Negatif) cicin hijau

Gambar 11. Hasil uji biokimia Indol

–          UJI MR-VP

            Uji MR yang telah dilakukan, diperoleh hasil yang positif yaitu ditandai dengan terjadinya perubahan warna indikator menjadi merah. Genus bakteri seperti bakteri Escherichia, Salmonella, proteus dan Aeromonas mampu mempermentasikan glukosa dan menghasilkan banyak sekali asam laktat, asetat, suksina dan format di samping CO­­2, H2 dan etanol. Akumulasi asam-asam ini menurunkan pH sampai 5,0 atau kurang. Bila indikator merah metil ditambahkan pada biakan tersebut dengan pH serendah itu, maka indikator tersebut menjadi merah. Hal ini manandakan bahwa organisme yang bersangkutan adalah peragi asam campuran (mixed acid fermenter). Hasil uji MR-VP dapat dilihat pada Gambar 12.

Larutan MR-VP             Hasil MR (Positif)                          Hasil VP ( Negatif)

Gambar 12.  Uji MR-VP

–          Uji Gula- gula

            Uji gula-gula dilakukan untuk mengidentifikasi bakteri yang mampu mempermentasi karbohidrat. Pada uji gula-gula terjadi perubahan warna pada  manitol yamg merubah warna ungu menjadi warna kuning dan juga terlihat adanya pembentukan gelembung gas pada tabung Durham. Pada uji glukosa tidak terjadi perubahan warna, tetapi terlihat adanya pembentukan gelembung gas. Pada uji laktosa dan sukrosa memperlihatkan hasil yang negatif yaitu tidak terjadinya perubahan warna dan tidak terlihat adanya pembentukan gelembung gas pada tabung Durham. Perubahan warna yang terjadi menandakan bahwa bakteri ini membentuk asam dari fermentasi glukosa. Pembentukan gelembung gas yang terjadi pada tabung Durham disebabkan oleh adanya reaksi permentasi karbohidrat (Hadioetomo, 1985). Hasil uji gula- gula (laktosa, glukosa, sukrosa dan manitol) dapat dilihat pada Gambar 13.

         

Larutan gula- gula lakosa, glukosa, sukrosa dan manitol               Hasi uji gula- gula lakosa, glukosa, sukrosa dan manitol

Gambar 13 . Hasi uji gula- gula (lakosa, glukosa, sukrosa dan manitol)

Uji Sensitifitas terhadap Antibiotik

            Uji sensitifitas dilakukan pada permukaan MHA (Mueller Hinton Agar). Mueller Hinton Agar merupakan media diferensial yang digunakan untuk melakukan uji sensitifitas terhadap beberapa antibiotik yang dilakukan dengan cara mengambil biakan bakteri dari nutrient bruth (NB) dengan menggunakan lidi kapas steril. Lalu diusapkan merata pada seluruh permukaan media MHA. Kemudian ditempelkankan beberapa disk antibiotik di atas permukaan media MHA dengan jarak tertentu dan diinkubasikan ke dalam incubator selama 24 jam pada suhu 370C. Antibiotik yang di gunakan pada uji sensitifitas adalah streptomisin, tetrasiklin, vankomisin dan gentamisisn. Hasil uji sensitivitas dapat di lihat pada Gambar 14.

Gambar 14. Uji sensitivitas pada media MHA

Keterangan :

A.  Antibiotik Vancomisin 30 μg

B.  Antibiotik Streptomisin 30 μg

C. Antibiotik Tetrasiklin 30 μg

D. Antibiotik Gentamisin 30 μg

            Pada Gambar 12 terlihat bahwa antibiotik Strepoimisin dan Vancomisin tidak memperlihatkan adanya zona hambat. Antibiotik Gentamisin dan Tetrasiklin mampu menunjukkan adanya zona hambat, akan tetapi zona hambat yang tersentuk belum tergolong sensitif. Antibiotik  Gentamisin mempunyai  zona hambat 10 mm dan Tetrasiklin mempunyai zona hambat 3 mm. Antibiotik Streptomisin dan Vancomisin tidak memperlihatkan adanya zona hambat. Zona hambat antibiotik terhadap bakteri  dapat di lihat pada Tabel 3.

Tabel 3. Zona hambat antibiotik terhadap bakteri

No

Jenis Antibiotik (Kode)

Dosis

Diameter Zona Hambat (mm)

1

Tetrasiklin (TE 30)     30µg        Resistent

2

Vankomisin (VA 30)     10µg        Resistent

3

Gentamisin (CN 10)     30µg        10 mm (Resistent)

4

Streptomisin (S 10)     10µg       3,0 mm (Resistent)

            Berdasarkan toksisitas selektif, ada antimikroba yang yang bersifat menghambat pertumbuhan mikroba, dikenal sebagai aktivitas bakteriostatik dan ada yang bersifat membunuh mikroba, dikenal sebagai aktivitas bakterisid. Berdasarkan spektrumnya, antimikroba dibagi menjadi dua, yaitu spektrum sempit dan spektrum luas (Tjay dan Rahardja, 2002). Tetrasiklin dan Gentamisin merupakan antibiotik spekrum luas, sedangkan Streptomisin dan Vancomisin merupakan antibiotik spekrum sempit (Anonimus, 2007).

            Antibiotik adalah zatzat kimia yang dihasilkan oleh fungi dan bakteri yang memiliki khasiat membunuh atau menghambat  pertumbuhan bakteri (Tjay dan Rahardja, 2002). Tetrasiklin merupakan antibiotik spektrum luas yang penggunaannya pada akhir-akhir ini telah menurun karena meningkatnya masalah resistensi bakteri (Gould, 2003).

            Berdasarkan mekanisme kerjanya, antibiotik dapat dibagi menjadi lima kelompok. Mekanisme tersebut adalah 1). mengganggu metabolisme sel bakteri. 2). menghambat sintesis dinding sel bakteri. 3). mengganggu permeabilitas membran sel bakteri. 4). menghambat sintesis protein sel bakteri dan 5). menghambat sintesis atau merusak asam nukleat sel bakteri (Tjay dan Rahardja, 2002). Tetrasiklin bekerja dengan cara menghambat sintesis protein bakteri pada ribosom (Anonimus, 2007). Tetrasiklin termasuk antibiotik yang bersifat bakteriostatik yaitu mampu menghambat pertumbuhan bakteri.

  1. E.       DIAGNOSA

Berdasarkan Hasil identifikasi yang telah dilakukan di Laboratorium Mikrobiologi, maka bakteri yang ditemukan dari sampel swab tengorokan pada ayam broiler  adalah bakteri Salmonella sp.

  1. F.       DIFERENSIAL DIAGNOSA

            E. coli . dan Shigella

 

  1. G.      KESIMPULAN KASUS

Setelah dilakukan isolasi dan identifikasi bakteri terhadap swab  tenggorakan ayam, maka dapat disimpulkan bahwa bakteri ini termasuk kepada genus  Salmonella sp.  Hal ini ditandai dengan sifat koloni bakteri pada media NA, hasil pewarnaan Gram negatif, penanamam pada media BGA positif  dan kemudian pada uji biokomia menghasilkan TSIA positif yaitu ditandai dengan terjadinya perubahan warna merah menjadi hitam (positif H2S), Simmon’s Citrat positif (biru), SIM Motility (berflagella), Indol negatif ( cicin hijau), MR positif (merah) VP negatif. Pada uji gula-gula menghasilkan  glukosa positif, laktosa negatif,  manitol positif,  sukrosa negatif.

Pada uji sensitifitas, Tetrasiklin, Vancomisin, Gentamisin dan Streptomisin sudah resisten terhadap bakteri Salmonella sp.

G. PEMBAHASAN KASUS

Etiologi

            Salmonella sp merupakan bakteri yang dapat menyebabkan terjadinya salmonellosis. Salmonellosis merupakan infeksi bakteri Salmonella yang sering terdapat pada unggas seperti ayam. Penyebab salmonellosis pada unggas dapat berasal dari Salmonella anatum, Salmonella typhimurium dan Salmonella enteritidis. Dari ketiga jenis bakteri ini, yang paling banyak dijumpai di Indonesia adalah Salmonella typhimurium dan Salmonella enteritidis (Anonimus, 2006)

 

Morfologi dan sifat Salmonella sp

            Salmonella sp berbentuk batang, tidak berspora, pada pewarnaan Gram bersifat Gram negatif, besar koloni rata-rata 24 mm dan mempunyai flagel. Bakteri ini tumbuh pada suasana anaerob pada suhu optimum 37,50C dan pH pertumbuhan 6-8. Pada umumnya isolat bakteri salmonella dikenal dengan sifat-sifat gerak positif, reaksi terhadap permentasi manitol positif, reaksi indol dan vagos proskauer  menunjukkan hasil yang negatif dan TSIA positif (Anonimus, 1994).

Patogenesis Salmonella sp

            Patogenitas Salmonellosis dapat terjadi melalui telur yang berasal dari induk yang telah menderita salmonellosis. Penularan penyakit juga dapat terjadi secara kontak lansung antara anak ayam yang menderita salmonellosis dengan anak ayam yang lainnya yang dipelihara secara bersama. Selain itu, penularan penyakit juga dapat terjadi melalui pakan, air minum dan peralatan kandang yang tercemar feces yang mengandung bakteri Salmonella (Anonimus, 2006).

            Infeksi salmonella hampir selalu berawal dari makanan dan minuman yang terkontaminasi. Penyakit ini kadang-kadang bersifat endemik pada suatu peternakan. Hewan yang masih muda lebih sering dan lebih mudah terinfeksi. Salmonella menginfeksi lapisan epitel ileum dan kolon dan dapat bertahan. Kejadian enterokolitis dan diare terjadi karena memakan salmonella Kolonisasi pada intestinum bagian bawah dengan invaginvasi mukosa. Produksi sitotoksin. Radang akut dengan atau tanpa ulcer. Sintesis prostaglandin, produksi enterotoksin, sintesa proinflamatory sitotoksin dari sel epitel. Dengan invasi pada mukosa, aktifnya adenilat siklase dan terjadi peningkatan siklik AMP menginduksi sekresi sehingga terjadi peningkatan cairan yang menyebabkan diare. Infeksi intestinal akan menyebar menjadi bakterimia atau septisemia (Carter dan Wise, 2004).

 

Gejala klinis

Unggas yang menderita Salmonellosis memperlihatkan gejala-gejala sebagai berikut:

  • Ayam tampak lesu dan  mengantuk
  • Nafsu makan menurun
  • Tampak kedinginan dan suka berderombol dengan sesama kawannya yang sakit.
  • Terjadi diare

Pencegahan

Tindakan pencegahan yang dapat dilakukan untuk mengendalikan penyakit Salmonellosis antara lain:

  • Memelihara sanitasi kandang dan mesin tetas.
  • Anak ayam dan telur tetas yang dibeli hendaknya berasal dari pembibitan yang bebas dari penyakit Salmonella.
  • Ayam yang menderita Salmonellosis hendaknyaa tidak dijadikan bibit.
  • Menguburkan atau membakar bangkai ayam yang mati karena menderita Salmonellosis.

 

Terapi

            Pengobatan yang terbaik dilakukan dengan antibiotika yang sebelumnya didahului dengan pemeriksaan kepekaan kuman. Biasanya antibiotika khloramfenikol, neomisin, ampisilin, sediaan sulfanamida atau nitrofuran cukup baik digunakan untuk praktek. Kombinasi obat-obat tersebut misalnya khloramfenikol yang disuntikkan dibarengi dengan nitrofuran yang diberikan secara oral akan memberikan hasil yang baik (Subronto, 1985).

KASUS II

ISOLASI DAN IDENTIFIKASI JAMUR

Hari pertama  (5 Februari 2010)

  1. A.    ANAMNESA

Nama pemilik              : FKH Unsyiah

Jenis hewan                 : Sapi

Umur hewan               : 2 Tahun

Jenis kelamin               : Betina

Alamat pasien             : Jl. Inong Balee Darussalam

Status gizi                   : Kurang Baik

Gejala klinis                : Bulu kusam, lemah dan anoreksia

B. DIAGNOSA LABORATORIUM

Cara pengambilan sampel

  • Diambil kira-kira 1 gram feses sapi kering dan dimasukan ke dalam larutan Buffer Pepton Water (BPW)
  • Diinkubasikan pada suhu kamar selama 24 jam

Metode / Uji / Tes yang dilakukan

Hari kedua

1. Penanaman ke Sabouraud’s Dextrose Agar (SDA)

Prosedur kerja :

  • 1 ml sampel di Pepton Water dimasukan ke dalam  cawan Petri steril.
  • Tambahkan SDA steril ke dalam cawan Petri kira-kira 15 ml dan homogenkan.
  • Inkubasikan pada suhu ruangan selama 4-7 hari, bila belum tumbuh tunggu selama 14 hari. Bila sudah 5 hari tidak ada pertumbuhan ulangi lagi.

2. penanaman pada Slide Culture

  • Dibuat potongan SDA ukuran l x l x l cm dan diletakkan di atas objek glass
  • Lalu tutup dengan cover glass
  • Letakan dalam cawan Petri steril dengan di alasi pipet
  • Lakukan penanaman jamur dengan menempelkan jamur pada keempat sisi
  • Basahi kapas dengan akuades dan letakan di SDA
  • Lalu di ingkubasikan pada suhu kamar selama 3 sampai 5 hari atau sampai  7 hari

C. HASIL PENGAMATAN

  1. Pembiakan pada Sabouraud’s Dextrose Agar (SDA)

Hasil pengamatan:

            Sabouraud’s Dextrose Agar (SDA) adalah media sintetik yang diciptakan oleh Raymond Sabouraud. SDA mengandung dekstrosa, pepton dan bahan agar (dengan kadar gula relatif tinggi dan pH rendah). Media ini terbukti sangat baik untuk pembiakan jamur secara umum (Anonimus, 2004). Koloni jamur dapat dilihat pada Gambar 15.

 

Gambar 15 Koloni jamur pada hari keenam pengamatan

            Koloni jamur dapat dilihat  pada SDA yaitu pada hari kelima setelah penanaman, namun bentuk koloni baru bisa diamati dengan baik pada hari keenam. Pada SDA, koloni terliahat berbentuk tidak teratur, permukaan halus, berwarna putih kekuningan, tepi koloni cembung dan permukaan agak licin.

  1. Slide Culture

Hasil pengamatan:

            Pengamatan Slide Culture terlihat jamur yang tumbuh berwarna putih melekat pada sisi slide. Pada pemeriksaan mikroskopis tampak sel ragi (blastosfora) satu persatu tumbuh sepanjang pseudohyphae.

  

A                                                                     B

Gambar  16. Hasil pengamatan pada slide agar yang  tidak diwarnai (A) dan yang di warnai (B) pada mikroskop dengan pembesaran 40x.

D. DIAGNOSA

Streptomyces sp.

E.  DEFERENSIAL DIAGNOSA

Nocardia

 

         F.  KESIMPULAN KASUS

Berdasarkan bentuk morfologi dan hasil pengamatan di bawah mikroskop, disimpulkan bahwa jamur yang yang diamati adalah Streptomyces sp.

 

G.  PEMBAHASAN KASUS

Jamur atau fungi merupakan tumbuhan yang tidak memiliki klorofil, sehingga tidak mampu melakukan fotosintesis. Oleh karena itu, jamur hanya bias hidup sebagai parasit pada organisme hidup lain atau sebagai saprofit pada benda organis mati. Untuk proses perbanyakannya, jamur membentuk sel-sel yang disebut spora, yang resisten terhadap lingkungan yang kurang menguntungkan bagi kehidupannya. Bila keadaan membaik, terutama suhu dan kelembaban, spora dapat tumbuh lagi dan membentuk mycelium (Gerhardt, dkk., 1984).

Klasifikasi Ilmiah

Domain : Bakteri

Phylum : Actinobacteria

Orde : Actinomycetales

Famili : Streptomycetaseae

Genus : Streptomyces

Spesies : Streptomyces  somaliensis, Streptomyces griseus

 

Streptomyces sp  biasa berhabitat di tanah dan berfungsi sebagai pengurai sisa-sisa makhluk hidup. Streptomyces bertanggung jawab pada metabolisme banyak senyawa berbeda meliputi gula, alkohol, asam amino dan senyawa aromatik dengan memproduksi enzim hidrolitik ekstraseluler. Streptomyces juga berperan penting dalam kesehatan dan industri karena Streptomyces mensintesis antibiotik. Lebih dari 50 antibiotik diisolasi dari spesies Streptomyces (Anonimus, 2010).

Mikroorganisme ini penghasil antibiotik meliputi golongan bakteri, Actinomycetes, fungi dan beberapa mikroba lainnya. Kira-kira 70 % antibiotic dihasilkan oleh Actinomycetes, 20 % oleh fungi, dan 10 % oleh bakteri. Actinomycetes merupakan penghasil antibiotik, terutama dari jenis Streptomyces (Bleomisin, Eritromisin, Josamisin, Kanamisin, Neomisin, Tetrasiklin) dan masih banyak lagi.

Karakter Streptomyces yang penting untuk klasifikasi berdasarkan morfologi

dan reaksi biokimianya adalah:

a. Morfologi, meliputi struktur miselium substrat, pembentukan miselium aerial,

struktur dan percabangan sporofor, ukuran dan bentuk spora dan ornamen spora.

b. Kultur, meliputi pertumbuhan pada berbagai media, warna miselium substrat

dan aerial, pembentukan pigmen.

c. Biokimia, meliputi penggunaan sumber karbon, aktivitas diastatik, kemampuan

protealitik (diukur dari pencairan gelatin, serum tanah, casein dan koagulasi serta peptonisasi susu), penggunaan senyawa N, pembentukan oksidase (tirosinase dan laktase) da reduktase (reduksi nitrat, reduksi sulfat)

d. Sensitivitas terhadap antibiotik dan terhadap faga

e. Reaksi serologi

f. Komposisi kimia

            Streptomyces mempunyai kemampuan memproduksi senyawa antimikrobia yang bermanfaat, seperti streptomisin dihasilkan dari Streptomyces griseus untuk menyembuhkan tuberkulosis yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis, Streptomyces violaceusniger berperan antagonistik terhadap beberapa fungi patogen tanaman. Selain itu Streptomyces isolat rizosfer menunjukkan penghambatan terhadap jamur pathogen . Sampai akhir tahun 1974 kurang lebih 95%, antibiotik dihasilkan Actinomycetes berasal dari genus Streptomyces, misalnya streptomisin, tetrasiklin dan kloramfenikol. Streptomyces yang terbukti mampu menghasilkan macam-macam antijamur seperti Amfoterisin B yang diisolasi dari Streptomyces nodosus, Kandisidin yang diisolasi dari Streptomyces griseus dan Nistatin yang diisolasi dari Streptomyces noursei (Arin, 2009).

  1. 1.      Streptomyces somaliensis

Steptomyces sebagian besar spesies tidak patogen. Akan tetapi Streptomyces somaliensis pebab Mycetoma dengan gejala klinik lesi dan bengkak lokal di lokasi trauma. Ada beberapa abses, sinus pengeringan, dan nanah dengan butiran (Baron, 1996).

 

Epidemiologi

             Spesies Streptomyces ditemukan di seluruh dunia di tanah. Streptomices  berperan penting dalam ekologi tanah dan sebagai produsen antibiotik.. Mycetoma terjadi terutama di daerah tropis dan subtropis.

Diagnosa

              Diagnosisa berdasarkan fitur klinis mycetoma dan butiran nanah karakteristik, sudah bisa dikonfirmasi oleh isolasi dan identifikasi mikroorganisme. Bila diisolasi, koloni Streptomyces kecil (berdiameter 1-10 mm), terpisah-pisah seperti liken dan seperti kulit atau butirus (mempunyai konsistensi seperti mentega), mula-mula permukaannya relative licin tetapi kemudian membentuk semacam tenunan miselium udara yang dapat menampakkan granularnya, seperti bubuk, beludru, atau flokos, menghasilkan berbagai macam pigmen yang menimbulkan warna pada miselium vegetatif, miselium udara dan substrat (Ariningsih, 2009).

Pengobatan

Pengobatan dengan antibiotik jangka panjang dan pembedahan.

  1. 2.      Genus Streptomyces griseus

Streptomyces merupakan genus terbesar dari Actinobacteria dan merupakan genus dari keluarga streptopmycetaceae. Bakteri ini termasuk kedalam Gram positif dengan tinggi GC konten,  Sedangkan Streptomyces griseus merupakan spesies dari Streptomyces.

Fisiologi dan Morfologi

Streptomyces griseus merupakan jenis alkaliphilic, organisme ini dapat tumbuh diberbagai pH ( 5-11), tetapi pertumbuhan optimal dari bakteri ini ada pada temperature 25-35 C dan pada pH 9. S. griseus mempunyai peptinogen yang tebal, lipid, Spura rantai yang Reflexible,Memiliki spora pada subtract mycelium,Sebagai pemanfaatan garam sitrat dan dapat memproduksi obat antikanker Streptocin.

Taksonomi

Spesies ini pertamakali ditemukan oleh waksman dan Henrici pada tahun 1984. S.griseus memiliki GC konten yang tinggi di genomnya dengan rata-rata tinggi 72,2 %. Taksonomi dari S. griseus bermula dari rumitnya sistematika mikroba yang ada pada S.griseus. S.griseus memiliki rRNA 16S, rRNA 16 ini yang digunakan untuk mengenali jenis bakteri tersebut.

Peranan Bagi Lingkungan

Pada tahun 1944 Waksman mengisolasi antibiotik baru dari Streptomyces griseus. Streptomyces griseus merupakan jamur yang dapat menghasilkan streptomisin dan S.fradiae menghasilkan antibiotik neomisin. obat ini mempunyai efek anti tuberkulosis pada binatang percobaan dan kemudian digunakan sebagai Obat Anti Tuberkulosis yang pertama pada manusia. Selain menghasilkan streptomisin dan S.fradiae bakteri ini juga menghasilkan enzim proteoliti yang dimana enzim ini dapat digunakan untuk penyamak kulit, penyamakan merupakan proses untuk mengubah kulit hewan (sapi, kambing) menjadi kulit yang lembut sehingga dapat di gunakan untuk membuat sepatu dan tas.

Streptomycetes mempunyai peranan penting dalam proses penguraian dari bahan organik terutama dalam hal pengomposan. Beberapa spesies dari Streptomyces terlibat dalam sebuah hubungan simbiotik dengan genus attini ants. Attini ants merupakan bakteri yang berfungsi sebagai perkembangbiakan jamur dengan bakteri ini maka akan mempermudah untuk mengembiakan jamur. Sedangkan fungsi dari streptomyces adalah untuk memproduksi toxin yang digunkan untuk memlihara agar jamur tesebut tidak ditumbuhi rumput ( Anonimus, 2009).

 

 
Leave a comment

Posted by on July 4, 2011 in Uncategorized

 

JAMINAN KEAMANAN PANGAN PADA PEMOTONGAN AYAM

PENDAHULUAN

Pangan merupakan kebutuhan yang paling mendasar bagi manusia. Beberapa kasus keracunan atau penyakit karena mengkonsumsi makanan yang tercemar mikroba telah banyak terjadi di Indonesia. Hal ini menunjukkan bahwa keamanan pangan masih perlu mendapat perhatian yang lebih serius. Bahan pangan asal hewan merupakan media yang sangat baik bagi pertumbuhan mikroorganisme patogen.

Banyak titik kritis yang sangat potensial untuk terjadinya kontak dan masuknya mikroba kedalam bahan pangan  asal hewan serta olahannya. Oleh karena itu perlu dilakukan biosecurity  terhadap cemaran mikroba dalam menjaga keamanan pangan dari Peternakan sampai meja makan (From farm to the table) yaitu dari Peternakan (Farm), rumah potong, pasar, dan konsumen (Syukur, 2006).

Indonesia tahun 2010 mencanangkan swasembada daging, dimana saat ini konsumsi daging nasional didominasi oleh karkas atau daging ayam. Saat ini telah diambil langkah-langkah positif diantaranya pengadaan bibit ternak unggul, tersedianya pakan yang bermutu, dan manajemen yang handal serta perlu diadakan revitalisasi dan penataan RPA yang standar. Peningkatan produksi karkas ayam dalam rangka swasembada daging harus diikuti dengan peningkatan mutu dan keamanan pangan serta menjamin kehalalannya (Abubakar, 2008).

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Pangan (makanan) merupakan salah satu kebutuhan pokok dalam kehidupan manusia selain kebutuhan akan sandang dan papan. Konsumsi pangan yang cukup dalam kuantitas dan kualitas akan menjamin tercukupinya nilai gizi seseorang yang pada akhirnya dapat menentukan derajat kesehatan dan kualitas sumber daya manusia. Dua hal yang harus di penuhi dalam hal pemenuhan gizi yaitu ketersediaan atau ketahanan pangan (food security) dan keamanan pangan (food safety). Hal ini berarti makanan harus tersedia dalam jumlah cukup dan juga harus aman untuk dikonsumsi (Murdiati, 2006; Prima, 2009).

Sumber daging di Indonesia adalah ternak besar terutama sapi dan unggas. Penyedia daging di pasaran terutama adalah Rumah Potong Hewan (RPH) dan RPA (Rumah Potong Ayam) (Anonimus, 2008). Daging adalah bagian dari hewan yang dipotong dan lazim dikonsumsi manusia, termasuk otak serta isi rongga dada dan rongga perut (Gustiani, 2009).

Ayam potong sebagai produk makanan tidak dapat dipungkiri lagi bahwa kualitas merupakan tuntutan yang harus dipenuhi. Sehingga dalam proses pemotongan ayam harus diperhatikan masalah sanitasi dan nilai estetikanya. Kondisi sekarang ini, kegiatan proses produksi pemotongan ayam dilakukan secara manual dimana masalah kebersihan kurang mendapat perhatian yang serius (Marzuki, dkk., 2002).

Beberapa hal penting yang dikhawatirkan dalam produk asal hewan adalah adanya kontaminasi atau pencemaran mikroba, residu obat hewan seperti produk biologis, farmasetik serta premiks dan bahan kimia serta pemakaian bahan pengawet tertentu yang merugikan konsumen. Pemerintah melalui bidang kesehatan masyarakat veteriner sesuai kewenangannya telah mengatur pemakaian berbagai obat hewan dan menyiapkan produk asal hewan dan hasil olahannya yang layak untuk dikonsumsi manusia serta mengatur pengawasan dan pembinaannya sehingga tidak berdampak buruk bagi masyarakat sebagai konsumenn.Dalam peraturan pemerintah Nomor 22 Tahun 1983 tentang kesehatan masyarakat veteriner ditetapkan bahwa daging yang layak dikonsumsi manusia harus memenuhi persyaratan aman, sehat, utuh dan halal (ASUH). Untuk memenuhi kriteria tersebut beberapa perlakuan disyaratkan baik untuk hewan hidup yang akan dipotong di rumah potong hewan (RPH) atau rumah potong unggas (RPU), hewan perah maupun ayam petelur, penanganan daging, pengangkutan, tempat penjualan dan pengawetan (Prima, 2009).

Kualitas daging ayam dipengaruhi oleh beberapa faktor, pada waktu ayam masih hidup, pada pemotongan dan setelah ayam dipotong. Pada waktu ayam masih hidup, faktor penentu kualitas daging ayam adalah cara pemeliharaan, yaitu pemberian makanan, tatalaksana pemeliharaan dan perawatan kesehatan. Pada proses pemotongan hal yang sangat mempengaruhi adalah peralatan, lingkungan, pengeluaran darah ayam dengan sempurna. Kontaminasi mikroba dari proses  pengulitan, pencucian jeroan dan pemaketan setalah pemotongan sanagt mempengaruhi kualitas daging. Ciri ciri daging yang terkonntaminasi mikroba seperti kotor, mengilap, kental dan basah ( pseudomonas, achobacter, streptococco, dan bacillus), daging berwarna hijau, daging berbau tengik, daging berwarna kebiruan dan berbau busuk (Murtidjo,2003).

            Kualitas daging ayam yang tidak baik, kriterianya antara lain: Bau dan rasa tidak normal, mungkin diakibatkan unggas sakit pada saat dipotong atau unggas sedang dalam masa pengobatan dengan antibiotika pada saat dipotong (daging berbau obat-obatan), warna daging tidak normal,  konsistensi jelek (terasa agak sedikit lunak) daging busuk dapat mengganggu kesehatan konsumen karena menyebabkan gangguan saluran pencernaan. Pembusukan dapat terjadi karena penanganan yang kurang baik pada waktu pendinginan, sehingga aktivitas bakteri pembusuk meningkat, atau karena terlalu lama dibiarkan ditempat terbuka dalam waktu relatif lama pada suhu kamar, sehingga terjadi proses pemecahan protein oleh enzim-enzim dalam daging yang menghasilkan amoniak dan asam sulfide (Anonimus, 2004).

Daging ayam yang normal berwarna putih pucat, bagian otot dada dan otot paha kenyal, bau agak amis sampai tidak berbau. Ciri-ciri daging ayam yang mengandung formalin seperti berwarna putih mengkilat, konsistensi sangat kenyal, permukaan kulit tegang, bau khas formalin, biasanya tidak dihinggapi oleh lalat (Anonimus, 2004). Gambar daging sehat dapat dilihat pada Gambar 1.

Penyakit yang ditimbulkan oleh makanan sebelumnya lebih erat dikaitkan sebagai masalah kesehatan masyarakat. Keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan masyarakat. Sedangkan badan pangan dan kesehatan dunia FAO/WHO (1997) mendefinisikan keamanan pangan adalah jaminan bahwa pangan tidak akan menyebabkan bahaya terhadap konsumen ketika pangan disiapkan dan dikonsumsi sesuai dengan peruntukannya (Pardede, 2009).

Pada dasarnya ada dua teknik pemotongan ayam, yaitu secara langsung dan tidak langsung. Pemotongan secara langsung (tradisional) dilakukan setelah ayam dinyatakan sehat. Ayam disembelih dibagian leher dengan memotong arteri karotis dan vena jugularis. Pemotongan ayam secara tidak langsung dilakukan melalui proses pemingsanan dan setelah ayam benar-benar pingsan baru dipotong. Pemingsanan dimaksudkan untuk memudahkan penyembelihan dan agar ayam tidak tersiksa dan terhindar dari resiko perlakuan kasar sehingga kualitas kulit dan karkas yang dihasilkan lebih baik (Abubakar, 2003).

PEMBAHASAN

            Beberapa faktor yang mempengaruhi kerusakan, mutu dan keamanan karkas ayam adalah lingkungan atau tempat penyipanan (air, suhu, dan oksigen) zat gizi, organisme pembusuk dan adanya zat penghambat pertumbuhan. Abubakar (2009) menyatakan bahwa karkas ayam mudah dan cepat rusak, karena mengandung air (65-70%), protein (19-22%), lemak (10-12%), dan mineral (1-2%), yang mudah bereaksi, terdegradasi, mendorong aktivitas enzim serta merupakan media yang baik untuk perkembangan mikroba. Tipe kerusakan produk tergantung pada komposisi, struktur, tipe mikroba dan kondisi penyimpanan produk.

Tahap-Tahap Menjaga Keamanan Pangan pada Pemotongan Ayam

A. Persiapan Sebelum Pemotongan

  • Penampungan Ayam di RPA/RPU

Unggas yang akan dipotong di RPA/RPU harus dalam kondisi yang sehat, untuk iu dilakukan pemeriksaan kesehatan unggas. Bila ada unggas yang sakit, maka unggas tersebut langsung dipisahkan dari unggas yang lain. Rumah Potong Unggas/Ayam (RPU/RPA) adalah kompleks bangunan dengan desain dan konstruksi khusus yang memenuhi persyaratan teknis dan higiene tertentu serta digunakan sebagai tempat memotong unggas/ayam bagi konsumsi masyarakat umum.

Untuk membangun RPA/RPA, diperlukan persyaratan lokasi dan tersedianya sarana yang cukup memadai, hal ini tercantum dalam SNI 01-6160-1999. Persyaratan kelengkapan bangunan dan tata letak RPA sudah diatur juga dalam SNI 01-6160-1999, hal ini untuk meningkatkan kinerja RPA dalam menghasilkan karkas dan daging yang bermutu dan asuh. Untuk menghasilkan karkas ayam yang Asuh (aman, sehat, utuh dan halal) dibutuhkan tempat dan peralatan yang bersih, sehat dengan proses pemotongan yang halal.

Persyaratan bangunan utama sebuah RPA harus dibedakan antara daerah kotor dan daerah bersih. Menurut SNI 01-6160-1999, daerah kotor adalah daerah dengan tingkat pencemaran biologik, kimiawi dan fisik tinggi, sedangkan daerah bersih adalah daerah dengan tingkat pencemaran biologik, kimiawi dan fisik yang rendah. Fasilitas utama yang dimiliki RPH antara lain sumber air, listrik, jalan, dan instalasi pengolah limbah (Anonimus, 2008).

            Sebagian besar penyembelihan ayam di RPA tradisional belum mendapat sentuhan inovasi teknologi yang memadai dan kurang memperhatikan sanitasi pada alat-alat pemotongan dan penanganan karkas sehingga menghasilkan karkas ayam yang bermutu rendah, untuk menghasilkan karkas ayam bermutu, maka sebelum ayam disembelih harus diistirahatkan selama 12-24 jam. Hal ini untuk menghindari stres pada ayam. Kondisi stres pada ayam mengakibatkan adanya perubahan glikogen menjadi asam laktat sehingga pH daging turun menjadi 5-6 dan hal ini memberikan peluang bagi bakteri dan mikroorganisme lain tumbuh subur yang dapat merusak daging.

            Kerusakan yang sangat berpengaruh pada daging ayam adalah kerusakan fisik pada daging ayam. Kerugian akibat kerusakan fisik pada karkas selama penyembelihan ayam mencapai 10%. Kerugian terbesar pada karkas, sebagai akibat memar-memar pada paha dan dada yang terjadi 1-13 jam sebelum pemotongan. Faktor-faktor yang menyebabkan memar-memar pada karkas ayam: terlalu padatnya tempat ayam, perlakuan kasar pada ayam saat pengangkutan atau pemotongan, iritasi dan cysts pada dada, faktor genetis, penyumbatan pembuluh darah, freezer burn, darkened bones dan black melanin.

B.Pemotongan Ayam

            Pada proses penyembelihan, pengeluaran darah harus cepat dan keluar sebanyak mungkin, oleh karena itu saat dan setelah penyembelihan ayam harus digantung, sebab disamping arteri dan vena yang terpotong merupakan pintu saluran kontaminasi bakteri untuk masuk dalam tubuh ayam dan lagi pula darah merupakan media yang baik untuk pertumbuhan mikroorganisme. Teknik penyembelihan ayam yang baik yaitu memotong arteri karotis, vena jugularis dan oesofagus sehingga darah keluar secara keseluruhan dan berlangsung sekitar 60-120 detik yang berdampak terhadap kebersihan dan kesehatan karkas ayam. Teknik pencabutan bulu merupakan tahapan untuk mendapatkan karkas yang bersih dari kotoran dan bulu. Dengan teknologi perendaman dalam air panas pada temperatur 50-54 0C selama 30-45 detik untuk ayam muda dan 55-58 0C selama 45-90 detik untuk ayam tua, menyebabkan mudahnya pencabutan bulu, kulit bersih dan cerah, serta tidak mudah terkontaminasi bakteri.

            Organ dalam ayam (Viscera) merupakan tempat kotoran, sehingga harus dikeluarkan sesempurna mungkin. Lakukan pencucian karkas dengan menggunakan air suhu 5-10oC dengan kadar klorin 0,5-1 ppm, hal ini untuk menghindari dan menekan pertumbuhan bakteri, sehingga mutu dan keamanan karkas ayam tetap terjaga.

C.Penanganan Setelah Pemotongan

            Karkas ayam mudah terkontaminasi mikroorganisme dari tempat penyembelihan, alat-alat, dan dari pekerja, sehingga karkas cepat rusak, serta menurunkan mutu. Oleh karena itu untuk menghindari masuknya mikroorganisme pada karkas ayam perlu dilakukan pengemasan dan pendinginan. Fungsi utama pengemasan adalah untuk melindungi karkas terhadap kerusakan yang terlalu cepat, baik kerusakan fisik, perubahan kimiawi, maupun kontaminasi mikroorganisme serta untuk menampilkan produk dengan cara yang menarik. Serta untuk mencegah perkembangan bakteri, maka pada pengemasan karkas ayam, suhu karkas ayam sebelum dikemas maksimal 7 – 10 0C, dengan bahan pengemas plastik yang tidak toksik, tidak bereaksi dengan produk serta mampu mencegah terjadinya kontaminasi pada produk.

            Supaya karkas ayam tidak mudah rusak, rasa dan nilai gizinya dapat dipertahankan, teknik penyimpanan bertujuan melindungi konsumen dari berbagai reaksi senyawa yang dikandung karkas ayam, akibat kontaminasi mikroba pathogen yang dapat meracuni konsumen. Dalam pengangkutan karkas ayam, kondisi karkas harus ASUH, alat transportasi yang digunakan harus tertutup (berupa boks) dan temperatur ruangan harus (– 400C ) – 0 0C, yang memungkinkan dapat menghambat pertumbuhan mikroorganisme selama transportasi. Waktu tempuh transportasi yang singkat, tempat tertutup pada suhu ruang tersebut dapat mempertahankan mutu dan Keamanan karkas ayam.

KESIMPULAN

               Keamanan pangan adalah kondisi dan upaya yang diperlukan untuk mencegah pangan dari kemungkinan cemaran biologis, kimia dan benda lain yang dapat mengganggu, merugikan, dan membahayakan kesehatan masyarakat. Hal yang harus di penuhi dalam hal pemenuhan gizi yaitu ketersediaan atau ketahanan pangan (food security) dan keamanan pangan (food safety). Kualitas daging ayam dipengaruhi oleh beberapa factor, baik pada waktu ayam masih hidup maupun setelah ayam dipotong. Daging ayam yang normal atau seperti warna putih pucat, bagian otot dada dan otot paha kenyal, bau agak amis sampai tidak berbau. Karkas ayam mudah dan cepat rusak, karena dimempengaruhi oleh linkungan atau tempat penyipanan (air, suhu, dan oksigen), zat gizi, organisme pembusuk dan adanya zat penghambat pertumbuhan.

 
Leave a comment

Posted by on May 22, 2011 in Uncategorized

 

AFLATOKSIN PADA PAKAN TERNAK

PENDAHULUAN

Latar belakang

Pada  tahun 1960, masyarakat Inggris merayakan Natal tanpa kalkun. Saat itu, hanya dalam waktu beberapa bulan, lebih dari 100.000 kalkun mati karena penyakit yang belum dikenal dan disebut ”penyakit kalkun X”. Penelitian-penelitian segera dilakukan. Tak lama kemudian, ditemukan bahwa kalkun-kalkun itu mati karena memakan pakan berupa bungkil kacang tanah yang telah tercemari kapang (jamur) Aspergillus flavus yang menghasilkan racun yang disebut aflatoksin.

Sejak saat itu, aflatoksin banyak mendapat perhatian karena potensi bahaya yang dapat ditimbulkannya, bisa menyebabkan penyakit dan bahkan kematian pada manusia serta hewan mamalia. Tak hanya kapang A. flavus, kapang lain seperti A. parasiticus dan A. nomius juga dapat memproduksi racun aflatoksin.

Aflatoksin flavus merupakan kapang yang tersebar meluas di alam. Kapang ini bisa muncul di tanah, tumbuhan yang membusuk, biji-bijian yang mengalami kerusakan mikrobiologis, dan dapat menyerang berbagai jenis substrat organik di mana pun dan kapan pun asalkan kondisinya mendukung pertumbuhannya. Namun, kapang A. flavus yang mencemari suatu komoditi tidak selalu membuat racun sehingga adanya kapang ini belum tentu memberikan pencemaran racun aflatoksin.

Aflatoksin sering kali terdifusi masuk ke dalam tenunan bagian-bagian dalam komoditi pertanian melalui rambut-rambut kapangnya. Dengan demikian, biji, umbi, bungkil, dan bagian lain komoditi yang tercemari tidak serta merta tampak oleh mata. Keberadaan aflatoksin dipengaruhi cuaca seperti suhu dan kelembapan, sehingga tingkat kontaminasinya bervariasi tergantung lokasi geografis, cara bertani, budi daya, dan kerentanan komoditi. Indonesia yang beriklim tropis-basah memberi peluang besar bagi tumbuhnya berbagai jenis kapang pada komoditi pertanian, termasuk A. flavus penghasil racun aflatoksin.

Aflatoksin yang mencemari pakan ternak dapat membahayakan kesehatan dan produktivitas ternak. Sementara residunya pada hasil ternak dapat membahyakan kesehatan manusia bila hasil ternak tersebut dikonsumsi.

Dulu, di Indonesia pernah diadakan penyaringan terhadap makanan yang dibuat dari kacang tanah dan kacang kedelai sebagai bahan dasarnya. Hasilnya, terdapat aflatoksin pada bungkil kacang tanah untuk membuat oncom. Untuk mengurangi kemungkinan tercemar A. flavus, kacang tanah mentah sebaiknya disimpan di tempat yang kering dan sejuk (kapang ini tumbuh pada suhu 30-36 0C dengan kelembapan yang tinggi). Proses penyanganan atau pemanggangan pada kacang tanah dapat menurunkan kadar aflatoksin 60-70 persen. Proses fermentasi bungkil kacang tanah menjadi oncom dapat menurunkan kadar aflatoksin 50-75 persen.

Berbagai upaya telah dilakukan untuk mencegah kontaminasi aflatoksin, tetapi hal ini masih tetap menjadi masalah. Berbagai negara telah mencoba membatasi paparan aflatoksin dengan mengeluarkan peraturan batasan kadar aflatoksin pada komoditi yang akan digunakan sebagai makanan dan pakan. Food and Drug Administration di Amerika Serikat, misalnya, memberi batasan kadar aflatoksin maksimum 20 ppm pada makanan dan pakan, termasuk produk-produk kacang tanah.

Sistem regulasi pangan termasuk pengendalian aflatoksin di Indonesia masih belum memadai.  Berdasarkan pertemuan antara FAO, WHO dan CAC (1995-2000), diputuskan bahwa untuk standar keamanan pangan, perlu dilakukan risk analysis yang mencakup tiga komponen, yaitu: risk assessment, risk management, dan risk communication. Oleh karena itu, risk assessment pada produk kecap perlu dilakukan untuk menjadi dasar dalam penetapan food standard pada peraturan perundangan pangan Indonesia sehingga dapat melindungi tubuh masyarakat Indonesia dari bahaya kontaminasi Aflatoksin.

Iklim tropis mengakibatkan komoditas pangan di Indonesia rentan terhadap kontaminasi kapang dan toksin metabolitnya, seperti aflatoksin, metabolit sekunder dari Aspergillus sp. Aflatoksin dapat mencemari kacang tanah, jagung, dan hasil olahannya, serta pakan ternak. Hewan ternak yang mengonsumsi pakan tercemar aflatoksin akan meninggalkan residu aflatoksin dan metabolitnya pada produk ternak seperti daging, telur, dan susu. Hal tersebut menjadi salah satu sumber paparan aflatoksin pada manusia. Aflatoksin dapat mengakibatkan penyakit dalam jangka pendek (akut), maupun jangka panjang (kronis). Namun, keracunan akut jarang terjadi sehingga tingkat kewaspadaan masyarakat terhadap pencemaran aflatoksin pada pangan dan pakan relatif rendah.

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Karakteristik jamur

Jamur benang atau biasa disebut jamur merupakan organisme anggota Kingdom Fungi (Breuer, 2005). Pertumbuhan jamur di permukaan bahan makanan mudah dikenali karena seringkali membentuk koloni berserabut seperti kapas. Tubuh jamur berupa benang yang disebut hifa, sekumpulan hifa disebut miselium. Miselium dapat mengandung pigmen dengan warna-warna merah, ungu, kuning, coklat, abu-abu dsb. Jamur juga membentuk spora berwarna hujau, biru-hijau, kuning, jingga, merah muda dsb. Warna-warna tersebut dapat menjadi ciri khas spesies jamur (Frazier dan Westhoff, 1988). Jamur benang pada umumnya bersifat aerob obligat, pH pertumbuhan berkisar 2-9, suhu pertumbuhan berkisar 10-35ºC, water activity (aw) 0,85 atau bisa di bawahnya (Tournas et al., 2001).

 Jamur atau cendawan, mampu mengubah makhluk hidup dan benda mati menjadi sesuatu yang menguntungkan atau merugikan (Hastono, 2003). Jamur memiliki potensi bahaya bagi kesehatan manusia atau hewan. Organisme ini dapat menghasilkan berbagai jenis toksin yang disebut mikotoksin, tergantung jenis jamur. Jamur juga dapat menyebabkan alergi dan infeksi . Selain itu menurut Tournas et al. (2001). Jamur dapatmenyebabkan berbagai tingkat dekomposisi bahan makanan. Jamur dapat tumbuh di hasil-hasil pertanian sebelum dipanen, hasil panen yang sedang disimpan maupun bahan makanan yang telah diolah. Bahan makanan yang mengalami dekomposisi oleh jamur dapat menjadi berbau busuk dan bernoda dengan warna tertentu

Pengertian Aflatoksin

Aflatoksin merupakan segolongan senyawa toksik (mikotoksin, toksin yang berasal dari fungi) yang dikenal mematikan dan karsinogenik bagi manusia dan hewan. Spesies penghasilnya adalah segolongan fungi (jenis kapang) dari genus Aspergillus, terutama A. flavus (dari sini nama “afla” diambil) dan A. parasiticus yang berasosiasi dengan produk-produk biji-bijian berminyak atau berkarbohidrat tinggi. Kandungan aflatoksin ditemukan pada biji kacang-kacangan (kacang tanah, kedelai, pistacio, atau <a title="Bunga

matahari” href=”http://id.wikipedia.org/wiki/Bunga_matahari”>bunga matahari), rempah-rempah (seperti ketumbar, jahe, lada, serta kunyit), dan serealia (seperti gandum, padi, sorgum, dan jagung). Aflatoksin juga dapat dijumpai pada susu yang dihasilkan hewan ternak yang memakan produk yang terinfestasi kapang tersebut. Obat juga dapat mengandung aflatoksin bila terinfestasi kapang ini.

Aflatoksin merupakan nama sekelompok senyawa yang termasuk mikotoksin, bersifat sangat toksik. Aflatoksin diproduksi terutama oleh jamur Aspergillus flavus dan A. parasiticus (Wrather dan Sweet, 2006), juga dihasilkan oleh beberapa jamur lain misalnya A. nomius (Kurtzman et al.,1987), A. pseudotamarii (Ito et al., 2001), A. ochraceoroseus, Aspergillus SRCC 1468, Emericella astellata, dan Emericella spesies SRCC 2520 (Cary et al.,2005). Kontaminasi aflatoksin dalam bahan makanan maupun pakan ternak lebih sering terjadi di daerah beriklim tropik dan sub tropik karena suhu dan kelembabannya sesuai untuk pertumbuhan jamur (Lanyasunya et al., 2005). Aflatoksin memiliki tingkat potensi bahaya yang tinggi

dibandingkan dengan mikotoksin lain. Menurut Internasional Agency for Research on Cancer (IARC, 1988 dalam Suryadi dkk., 2005), aflatoksin B1 merupakan salah satu senyawa yang mampu menjadi penyebab terjadinya kanker pada manusia. Aflatoksin berpotensi karsinogenik, mutagenik, teratogenik, dan bersifat imunosupresif (Lanyasunya et al., 2005).

Semua produk pertanian dapat mengandung aflatoksin meskipun biasanya masih pada kadar toleransi. Kapang ini biasanya tumbuh pada penyimpanan yang tidak memperhatikan faktor kelembaban (min. 7%) dan bertemperatur tinggi. Daerah tropis merupakan tempat berkembang biak paling ideal.

Aflatoksin ini memiliki paling tidak 13 varian, Terdapat empat jenis aflatoksin yang telah diidentifikasi yaitu aflatoksin B1, B2, G1 dan G2.  Aflatoksin B1 dihasilkan oleh kedua spesies, sementara G1 dan G2 hanya dihasilkan oleh A. parasiticus. Aflatoksin M1, dan M2 ditemukan pada susu sapi dan merupakan epoksida yang menjadi senyawa antara.. Aflatoksin B1bersifat paling toksik (Wrather dan Sweet, 2006). Metabolisme aflatoksin B1 dapat menghasilkan aflatoksin M1, sebagaimana terdeteksi pada susu sapi yang pakannya mengandung aflatoksin B1 (Lanyasunya et al., 2005).

 

Kontaminasi Aflatoksin B1 pada Pakan Ternak

Secara umum, dilaporkan bahwa kontaminasi aflatoksin B1 pada pakan ternak relatif tinggi. Kadar aflatoksin B1 tertinggi ditemukan pada pakan konsentrat ayam, sekitar 134,2 ppb. Di Jawa Barat, jagung di pabrik pakan ternak ditemukan terkontaminasi aflatoksin B1 dengan kadar rata-rata 125,65 ppb. Pakan ayam, baik untuk starter maupun grower, juga ditemukan terkontaminasi aflatoksin dengan kisaran antara 11,5 sampai 53 ppb.

Kontaminasi Aflatoksin B1 pada Kacang Tanah Lokal

Persentase sampel kacang tanah lokal dengan kandungan aflatoksin B1 > 15 ppb secara umum ditemukan tertinggi pada tingkat pengecer (pasar tradisional) kecuali di Kabupaten Cianjur dilaporkan persentase tertinggi pada tingkat grosir (80 %). Pada musim hujan kandungan aflatoksin pada biji kering di tingkat grosir dan pengecer pasar tradisional mencapai lebih dari 5000 ppb.

Efek Aflatoksin bagi hewan dan manusia

Aflatoksin B1, senyawa yang paling toksik, berpotensi merangsang kanker, terutama kanker hati. Serangan toksin yang paling ringan adalah lecet (iritasi) ringan akibat kematian jaringan (nekrosis). Pemaparan pada kadar tinggi dapat menyebabkan sirosis, karsinoma pada hati, serta gangguan pencernaan, penyerapan bahan makanan, dan metabolisme nutrien. Toksin ini di hati akan direaksi menjadi epoksida yang sangat reaktif terhadap senyawa-senyawa di dalam <a title="Sel

(biologi)” href=”http://id.wikipedia.org/wiki/Sel_%28biologi%29″>sel. Efek karsinogenik terjadi karena basa N guanin pada DNA akan diikat dan mengganggu kerja gen.

Efek pada manusia

Banyak mikotoksin yang dapat menyebabkan berbagai penyakit pada manusia melalui makanan, salah satunya adalah kontaminasi citrinin pada produk keju karena proses fermentasi keju yang melibatkan P. citrinum dan P. expansum penghasil citrinin. Pada manusia dan hewan, citrinin dapat menyebabkan penyakit kronis, di antaranya dapat terjadi akibat toksisitas pada ginjal dan terhambatnya kerja enzim yang berperan dalam respirasi.Aflatoksin merupakan senyawa karsinogenik yang dapat memicu timbulnya kanker liver pada manusia karena konsumsi susu, daging, atau telur yang terkontaminasi dalam jumlah tertentu. Kehilangan tanaman pangan akibat kontaminasi aflatoksin juga sangat merugikan manusia, baik petani maupun kalangan industri hasil pertanian di dunia.Pada laki-laki, kandungan ochratoxin A yang terlalu tinggi di dalam tubuhnya dapat menyebabkan kanker testis.

5. Efek pada hewan

            Aflatoksin dapat menyebabkan penyakit liver pada hewan (terutama aflatoksin B1) yang ditandai dengan produksi telur, susu, dan bobot tubuh yang menurun. Untuk mereduksi atau mengeliminasi efek aflatoksin pada hewan, dapat digunakan amoniasi dan beberapa molekul penyerap.Pada ayam petelur, babi, sapi, tikus, dan mencit, toksin fumonisin sulit siserap namun penyebarannya sangat cepat dan ditemukan dapat tertimbun di hati dan ginjal hewan hingga menyebabkan kerusakan oksidatif.Senyawa ochratoxin A bersifat karsinogenik, mutagenik, teratogenik, dan mampu menimbulkan gejala imunosupresif pada berbagai hewan.Pada ternak babi, senyawa zearalenone dapat menyebabkan kelainan reproduksi yang disebut vulvovaginitis.

Batas kadar aflatoxin yang tidak berbahaya

Setelah diketahui bahwa aflatoxin berbahaya untuk kesehatan maka beberapa negara dan lembaga internasional mencari batas yang dianggap “safe“untuk berbagai komoditi. WHO/PAG berdasarkan percobaan dengan berbagai binatang, termasuk Rhesus, menganjurkan bahwa “safe level “ tersebut 30.ppb (part perbillion atau ug/kg) untuk aflatoxin Bj. Ada beberapa negara yang mengikuti anjuran WHO ini misalnya India. FDA ( Food Drug Administration) di Amerika Serikat menetapkan kadar aflatoxin maximum yang dibolehkan pada kacang tanah 15 ppb sedang pada makanan lain dan makanan ternak 20 ppb.

Dr Swedia lain lagi. Kadar aflatoxin maksimum yang dibolehkan pada bahan makanan 5 ppb untuk aflatoxin total sedangkan pada makanan ternak kadar yang dibolehkan 600 ppb aflatoxin B1. Di Indonesia sendiri pemerintah belum menetapkan kadar aflatoxin maksimum pada bahan makanan yang beredar. Beberapa instansi telah mengadakan penyuluhan pada petani

tentang cara-cara menangani hasil panenan sehingga dengan tidak langsung akan mengurangi pencemaran oleh aflatoxin

 

Teknologi Pasca Panen Untuk Pengendalian Kontaminasi Aflatoksin Pada Kacang Tanah

1. Pemanenan sebaiknya dilakukan pada saat masak optimum (umur antara 90 – 100 hari, tergantung varietasnya) atau dengan kriteria minimal 75% polong telah terbentuk per tanaman, dan bagian kulit dalam telah berwarna gelap.

2. Segera lakukan perontokan. Cara manual (dipetik) memberi risiko kecil untuk polong rusak/luka meski kapasitasnya rendah (8-10 kg/jam/orang).

3. Polong kacang tanah harus segera dikeringkan (< 48 jam) sampai kadar air <10 % ditandai dengan ringannya polong dan nyaringnya bunyi biji bila polong dikocok, agar aman dari risiko kontaminasi aflatoksin. Pada musim kemarau, kadar air tersebut dapat dicapai dengan pengeringan 3 hari di atas lantai jemur, namun menjadi lebih lama bila pemanenan jatuh pada musim hujan. Untuk mengatasinya, dapat digunakan alat pengering tipe bak yang kapasitasnya 500 kg polong basah, dengan suhu pengeringan 50°C selama 12 jam. Agar proses pengeringan berjalan dengan baik, polong kacang tanah tersebut harus diaduk/dibalik setiap 2 jam untuk meratakan suhunya. Namun, alat ini kurang ekonomis untuk petani perorangan karena biayanya relatif mahal, sehingga lebih sesuai untuk pedagang pengumpul/besar.

4. Pengupasan polong harus semaksimal mungkin menghindari rusaknya polong. Pisahkan polong yang muda, keriput, busuk, dan luka atau rusak dari polong yang baik untuk mencegah kontaminasi aflatoksin pada kacang tanah lainnya.

5. Agar aman disimpan, kadar air kacang tanah harus < 9% untuk polong dan < 7% untuk biji. Oleh karena itu, penyimpanan sebaiknya dilakukan pada kondisi ruang penyimpan yang sejuk (suhu 27°C) dan kering (kelembaban nisbi 56-70%) dengan menggunakan bahan pengemas kedap udara dan diletakkan secara bertumpuk di atas rak-rak kayu serta diberi jarak dengan dinding. Untuk skala besar, penyimpanan biji kacang tanah (kadar air 8%) dalam karung goni yang dirangkap dengan kantong plastik polietilen tipis dilaporkan efektif sampai 6 bulan dengan kadar aflatoksin 16,8 ppb.

PEMBAHASAN

Aflatoksin dihasilkan oleh A. flavus dan beberapa jamur lain, cyclopiazonic acid dapat dihasilkan oleh A. flavus. Selain berpotensi menghasilkan toksin, jamur dalam bahan makanan menghasilkan berbagai enzim yang dapat merombak senyawa-senyawa yang terkandung dalam

bahan makanan tersebut, sehingga mempengaruhi kualitasnya terutama apabila disimpan terlalu lama. Menurut Frazier dan Westhoff (1988), A. niger dapat menghasilkan enzim amilase, selulase, oksidase, oksidase glukosa, lipase dan pektinase.

Ternak yang mengkonsumsi pakan yang mengandung A. flavus dalam jangka waktu yang lama dikhawatirkan asupan aflatoksin akan terakumulasi dalam tubuh, mengingat zat ini sulit didegradasi, sehingga dapat menimbulkan gangguan kesehatan yang bersifat kronis. Menurut Etzel (2005), penderita hepatitis B memiliki resiko lebih tinggi menderita kanker hepatoseluler apabila makanannya mengandung aflatoksin B1.

Terdapat 18 jenis racun aflatoksin, empat yang paling kuat daya racunnya adalah aflatoksin B1, G1, B2, dan G2. Tahun 1988, International Agency for Research on Cancer menyatakan bahwa aflatoksin B1 bersifat karsinogen (menyebabkan kanker) pada manusia. Terdapat dua jenis efek toksisitas aflatoksin: akut dan kronis. Toksisitas akut terjadi tak lama setelah mengonsumsi bahan makanan yang terkontaminasi racun dengan dosis relatif besar dan yang terserang adalah hati, pankreas, serta ginjal. Pada efek kronis, aflatoksin menyebabkan timbulnya kanker hati (hepatic carcinoma). Kapang penghasil aflatoksin bisa mencemari berbagai komoditi makanan. Salah satu komoditi yang sangat rentan adalah kacang tanah dan produk olahannya, seperti kacang goreng, sambal pecel, minyak goreng, oncom, bungkil kacang tanah, dan selai kacang tanah.

Kontaminasi Aflatoksin dapat ditemukan pada setiap rantai pangan. Berikut akan dipaparkan hasil survey yang dilakukan di beberapa kota di pulau Jawa. Jumlah sampel yang diambil masih terbatas dan belum representative tetapi diharapkan dapat memberikan gambaran sepintas mengenai pencemaran aflatoksin pada pangan. Pada pangan segar nabati, terutama kacang tanah, ditemukan aflatoksin B1 dengan kadar cukup tinggi, termasuk pakan ternak yang dibuat dari kacang tanah dan jagung. Sejauh ini pada pangan segar hewani seperti hati sapi, daging sapi, telur itik, dan telur ayam, umumnya kadar aflatoksin B1 yang ditemukan masih dalam kisaran aman.

Survei yang dilakukan oleh Badan POM RI mengenai cemaran aflatoksin B1 pada produk olahan kacang tanah mencatat bahwa bumbu pecel/gado-gado mengandung aflatoksin B1 paling tinggi, dimana di antara 13 sampel yang diuji didapatkan 6 sampel tidak memenuhi syarat (PPOMN 1988). Hasil uji sampel pada tahun 1991 kembali melaporkan bahwa sampel yang tidak memenuhi syarat didominasi bumbu pecel, dimana dari 13 sampel yang diuji ditemukan 6 sampel tidak memenuhi syarat (22 – 345 ppb). Untuk kacang tanah tanpa kulit, ditemukan kontaminasi aflatoksin B1 melebihi batas aman di Bandung (2341 ppb), Pekanbaru (1781 ppb), Bandar Lampung (401 ppb), Yogyakarta (330 ppb), serta Makasar (48 ppb) (PPOMN, 2001).

Untuk mendeteksi keberadaan aflatoksin pada bahan dasar pakan dan pakan ternak, telah tersedia metode analisis yang cepat, sensitif, dan spesifik yaitu enzyme linked immunosorbent assay (ELISA). Keuntungan dari teknik analisis ini adalah sangat sensitif dan spesifik dengan menggunakan antibodi. Selain itu, waktu analisisnya cepat, baik pada contoh tunggal maupun banyak. Percobaan ini bertujuan untuk mengetahui tingkat kontaminasi aflatoksin B1 secara ELISA pada contoh pakan ternak dan bahan dasarnya.

ELISA adalah suatu teknik deteksi dengan metode serologis yang berdasarkan atas reaksi spesifik antara antigen dan antigen dan antibodi yang teradsorpsi secara pasif pada permukaan fase padat dengan menggunakan konjugat antibody atau antigen yang dilabel enzim. Enzim ini akan bereaksi dengan substrat dan menghasilkan warna. Warna yang timbul dapat ditentukan secara kualitatif dengan pandangan mata atau kuantitatif dengan pembacaan nilai absorbansi (OD) pada ELISA plate reader. antibodi, mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi dengan menggunakan enzim sebagai indikator. Prinsip dasar ELISA (Burgess 1995) adalah analisis interaksi antara.

Daun sambiloto (Andragraphis paniculata Nees), yang dikenal sebagai bahan baku jamu mampu menghambat pertumbuhan aflatoksin. Titik cerah dalam penanggulangan cemaran kapang Aspergillus yang masih banyak terjadi di industri peternakan kita. Siapa sangka daun sambiloto (Andragraphis paniculats Nees) yang lebih dikenal sebagai salah satu ramuan jamu tradisional ternyata mampu menangkal kapang Aspergillus flavus atau Aspergillus parasiticus, penyebab utama terjadinya Aflatoksin. Tidak itu saja ekstrak daun sambiloto ini sangat dimungkinkan mampu menekan munculnya penyakit aspergillosis pada unggas. Ekstrak daun sambiloto 20 ml mampu menekan pertumbuhan kapang Aspergillus sp secara nyata.

KESIMPULAN DAN SARAN

Kesimpulan

Bahaya aflatoksin terdiri dari akut dan subkronik letal; Bahaya akut meliputi sirosis hati dan kematian, sedangkan bahaya subkronik letal meliputi kanker, peningkatan toksisitas pada HBV positif, penghambatan imunitas, dan berbagai gangguan gizi. Respon dosis aflatoksin antara lain: bahaya akut terjadi apabila terpapar aflatoksin dosis tinggi (minimal 1 ppm); bahaya kronik kanker terjadi apabila terpapar aflatoksin dengan dosis berapa pun; peningkatan toksisitas pada HBV positif tidak diketahui dosis spesifiknya; penghambatan imunitas dan berbagai gangguan gizi pada manusia terjadi apabila paparan aflatoksin dengan dosis rendah (minimal 0,2 ppm). Paparan pada tubuh akibat mengkonsumsi makanan produksi nasional adalah < 0,2 ppm.

Saran

Perlu diadakan pemeriksaan secara khusus terhadap makanan yang mengandung Aflatoksin dan mengetahui seluruh bahaya, meliputi bahaya biologis maupun bahaya kimia sehingga dapat diangkat sebagai bahan pertimbangan dalam penyusunan regulasi nasional dalam melindungi kesehatan masyarakat Indonesia

 
Leave a comment

Posted by on May 21, 2011 in Uncategorized

 

Aflatoksin Pada Pakan Unggas

PENDAHULUAN

Seiring dengan upaya peningkatan produksi pakan, aspek mutu pakan menjadi fokus utama dari masyarakat industri pakan, mengingat pakan berperanan penting dalam menentukan kuantitas dan kualitas produk pangan asal ternak. Sistem keamanan pangan asal ternak secara nasional yang dikenal selama ini masih difokuskan pada aspek-aspek pasca panen. Padahal sistem keamanan pangan asal ternak yang secara komprehensif melibatkan dari proses produksi ternak sampai penanganan pasca panen sudah di terapkan di negara-negara benua Eropa dan Amerika (Joelal, 2007).

Pada ternak unggas yaitu ayam, itik, dan puyuh, pakan merupakan salah satu faktor yang sangat menentukan keberhasilan untuk mengasilkan daging dan telur yang baik, demikian juga dengan peternakan hewan kecil atau pun hewan besar lainya. Kualitas pakan ternak ditentukan oleh bahan dasar dimana bahan dasar kurang baik dapat mengasilkan racun seperti racun Aflatoksin. Racun Aflatoksin ini di hasilkan oleh sejenis jamur Aspergilus flayus yang tumbuh pada makanan. Beberapa bahan makanan yang sering di tumbuhi oleh jamur ini adalah

·  Jagung

·  Bungkil kacang tanah

·  Copra/bungkil kelapa.

Oleh karena itu, untuk menghindarkan bahaya keracunan Aflatoksin, diusahakan agar bahan tersebut digunakan seminimal mungkin Widiastuti et al.(1988) menyatakan adanya keterkaitan yang erat antara kadar Aflatoksin pada jagung dan kadar Aflatoksin pada pakan jadi. Bila kandungan Aflatoksin pada jagung sebagai bahan dasar pakan tinggi, maka pakan jadi akan mempunyai kandungan Aflatoksin yang tinggi pula. Aflatoksin sangat berbahaya bagi unggas, sehingga dapat menurunkan produktivitas seperti adanya penurunan bobot badan, penurunan produksi telur dan dapat pula menyebabkan kematian (Murni, 1993).

TINJAUAN KEPUSTAKAAN

Pakan  Unggas.

Kenaikan permintaan komoditas peterrnakan di Indonesia dari tahun ke tahun semakin terpacu dengan adanya pertambahan jumlah penduduk, pendapatan serta meningkatnya kesadaran akan gizi dan kesehatan masyarakat. Di lain pihak, daya produksi ternak lokal kita masih tergolong rendah  sehingga target minimal konsumsi protein asal hewani asal ternak belum terpenuhi.

Pada peternakan unggas terutama ayam petelur, ayam pedaging dan itik, pakan merupakan faktor utama dalam berproduksi. Kebutuhan zat gizi unggas untuk pertumbuhan dan produksi telur dan daging harus disediakan oleh peternak, sehingga dengan demikian biaya yang dibutuhkan untuk pembelian pakan cukup tinggi yaitu kira-kira 59-69% dari biaya produksi (Agdex, 1992). Oleh karena itu pemberian makanan yang murah tetapi mengandung zat gizi yang dibutuhkan aman dan sehat sangat diperlukan untuk menunjang keberhasilan usaha peternakan unggas.

Bila ternak diberi pakan yang kurang memenuhi standar baik kualitas maupun kuantitasnya, maka akan terjadi penurunan produksi. Untuk itu, kemampuan untuk memilih pakan berkualitas tinggi mutlak dimiliki. Makanan ternak memegang peranan yang sangat penting dalam dunia peternakan. Oleh sebab itu, peternak perlu memperhatikan masalah pakan ini, terutama segi kualitasnya. Sebab, bila ternak diberi pakan dalam jumlah yang cukup, baik kualitas maupun kuantitasnya maka ternak tersebut dapat berproduksi secara optimal (Anonimus, 2008).

Selain memiliki kemampuan dalam memilih dan menggunakan pakan yang berkualitas, peternak juga harus memperhatikan masalah penyimpanan, karena pemilihan pakan yang baik tanpa didukung oleh penyimpanan yang memenuhi syarat hanya akan sia-sia. Yunus (1990), menyampaikan panduan bagaimana memilih pakan ternak yang baik.

Syarat Pakan yang Baik

Pakan ternak yang baik menurut Yunus, adalah pakan ternak yang hanya sedikit sekali mengalami perubahan, sehingga tidak mengalami penurunan nilai gizi. Pakan yang baik ditandai oleh tidak adanya kerusakan-kerusakan pada pakan tersebut, baik fisik, kimiawi maupun biologis, antara lain :

–          Kerusakan fisik

Kerusakan ini terjadi pada bentuk luar/fisik pakan, yang ditandai dengan adanya keadaan umum pakan yang sudah berbeda dengan pakan yang masih baik. Ini dapat diketahui dengan pengamatan makroskopis (pengamatan indra kita). Pakan juga mengalami kelainan bentuk, terlihat dengan adanya lobang-lobang, kulitnya mengelupas atau pecah-pecah. Kelainan ini dapat diakibatkan karena adanya cendawan maupun serangga.

–          Kerusakan kimiawi

Kerusakan ini terjadi pada komposisi kimia dari pakan yang disebabkan oleh adanya proses-proses kimia tertentu. Misalnya terjadi fermentasi pada karbohidrat, ketengikan pada lemak, dan pembusukan pada protein, sehingga terjadi penurunan nilai gizi dari pakan tersebut.

–          Kerusakan biologis

Terjadi akibat adanya aktivitas makhluk hidup pada pakan sehingga selain terjadi penurunan nilai gizi juga tak jarang mengakibatkan gangguan kesehatan pada ternak yang mengkonsumsinya. Sebagai contoh adanya serangga pada pakan. Sejumlah besar serangga dapat menimbulkan kerusakan dengan menimbulkan panas, kenaikan kadar air, atau pencemaran kimiawi oleh kotorannya. Contoh lain adalah kerusakan oleh mikotoksin yang dihasilkan oleh cendawan-cendawan tertentu. Unggas sangat peka terhadap kerusakan yang diakibatkan mikotoksin (Anomimus, 2008).

Cemaran Pakan Unggas

Jagung merupakan bahan dasar utama yang di butuhkan untuk membuat pakan ternak unggas. Kualitas jagung untuk pakan ternak unggas antara lain ditentukan oleh ada tidaknya cemaran aflatoksin pada jagung tersebut. Kandungan aflatoksin yang tinggi pada jagung sebagai bahan dasar pakan ternak akan menyebabkan kontaminasi aflatoksin yang tinggi pula pada pakan jadinya, karena sekitar 50% bahan dasar pakan unggas berasal dari jagung sebagai sumber karbohidrat (Budiarso 1995).

Oleh karena itu, penanganan pasca panen bahan pakan (jagung) yang kurang tepat akan mempercepat pertumbuhan kapang yang selanjutnya akan meningkatkan kadar aflatoksin pada pakan. Pencampuran bahan asing lain ke dalam bahan baku pakan, baik disengaja maupun tidak sengaja, akan menurunkan kualitas pakan. Proses pencemaran jagung yang terkontaminasi oleh aflatokin dapat dilihat pada gambar 1.

Gambar .1. Proses pencemaran jagung oleh aflatoksin

Tindakan ini juga akan meningkatkan risiko cemaran pada pakan. Bahan asing yang biasa dicampurkan ke dalam bahan pakan adalah bonggol jagung dan sekam pada dedak atau bekatul. Pakan dalam bentuk tepung lebih mudah tercemar dibandingkan bila dalam bentuk butiran. Jagung atau bahan baku lain dalam bentuk utuh atau butiran masih mempunyai pelindung dibandingkan terhadap cemaran cendawan (Yanuarti, 2004). Jika pakan yang tercemar aflatoksin diberikan kepada ternak unggas (ayam atau itik), residu aflatoksin akan terdapat pula pada produk ternaknya seperti telur, daging dan hati. Kandungan aflatoksin pada produk ternak akhirnya akan mempengaruhi kesehatan konsumen yang mengkonsumsinya (Budiarso 1995).

Aflatoksin adalah senyawa racun yang dihasilkan oleh metabolit sekunder kapang Aspergillus flavus dan A.parasiticus. Kapang ini biasanya ditemukan pada pakan yang mengalami proses pelapukan (Diener dan Davis 1969), antara lain jagung. Pertumbuhan aflatoksin dipacu oleh kondisi lingkungan dan iklim, seperti kelembapan suhu, dan curah hujan yang tinggi. Kondisi seperti itu biasanya ditemui di negara tropis seperti Indonesia (Diener dan Davis, 1969).

Aflatoksin

Aflatoksin merupakan segolongan senyawa toksik (mikotoksin, toksin yang berasal dari fungi) yang dikenal mematikan dan karsinogenik bagi manusia dan hewan. Spesies penghasilnya adalah segolongan fungi (jenis kapang) dari genus Aspergillus, terutama A. flavus (dari sini nama “afla” diambil) dan A. parasiticus yang berasosiasi dengan produk-produk biji-bijian berminyak atau berkarbohidrat tinggi. Kandungan aflatoksin ditemukan pada biji kacang-kacangan (kacang tanah, kedelai, pistacio, atau bunga matahari), rempah-rempah (seperti ketumbar, jahe, lada, serta kunyit), dan serealia (seperti gandum, padi, sorgum, dan jagung). Aflatoksin juga dapat dijumpai pada susu yang dihasilkan hewan ternak yang memakan produk yang terinfestasi kapang tersebut. Obat juga dapat mengandung aflatoksin bila terinfestasi kapang ini.

Semua produk pertanian dapat mengandung aflatoksin meskipun biasanya masih pada kadar toleransi. Kapang ini biasanya tumbuh pada penyimpanan yang tidak memperhatikan faktor kelembaban (min. 7%) dan bertemperatur tinggi. Daerah tropis merupakan tempat berkembang biak paling ideal.

 Kandungan Aflatoksin pada biji jagung di Indonesia berkisar antara 10−300 ppb, sedangkan kadar maksimal berdasarkan standar SNI adalah 50 ppb, menurut FDA 100 ppb, dan CFR 20−200 ppb. Batas ambang maksimum untuk beberapa mikotoksin lain seperti fumonisin adalah 5−100 ppm, zearalenon 1−200 ppm, dan trikotesena (deoksinivalenol) 5−10 ppm untuk jagung. Batas ambang tersebut juga bergantung pada jenis hewan (Osweiler 1996; CFR 2001; USFDA 2001). Oleh karena itu, cemaran cendawan pada pakan dan komponen penyusunnya serta upaya pengendaliannya perlu mendapat perhatian.

Klasifikasi dan Efek dari Aflatoksin

Aflatoksin memiliki paling tidak 13 varian, yang terpenting adalah B1, B2, G1, G2, M1, dan M2. Aflatoksin B1 dihasilkan oleh kedua spesies, sementara G1 dan G2 hanya dihasilkan oleh A. parasiticus. Aflatoksin M1, dan M2 ditemukan pada susu sapi dan merupakan epoksida yang menjadi senyawa antara.

Aflatoksin B1, senyawa yang paling toksik, berpotensi merangsang kangker, terutama kangker hati. Serangan Aflatoksin yang paling ringan adalah penurunan nafsu makan,  pertumbuhan yang terlambat, dan lecet (iritasi) ringan akibat kematian jaringan (nekrosis). Pemaparan pada kadar tinggi dapat menyebabkan sirosis, karsinoma pada hati, serta gangguan pencernaan, penyerapan bahan makanan, dan metabolisme nutrisi serta dapat menimbulkan kematian pada anak (Agdex, 1992). Toksin ini di hati akan direaksi menjadi epoksida yang sangat reaktif terhadap senyawa-senyawa di dalam sel. Efek karsinogenik terjadi karena basa N guanin pada DNA akan diikat dan mengganggu kerja gen.

Gambar 2. Proses keracunan alfatoksin

Metabolisme Aflatoksin

Tempat metabolisme utama aflatoksin adalah organ hati, namun ada juga yang dimetabolisme di dalam darah dan organ lainnya. Metabolisme aflatoksin terdiri atas tiga tahap, yaitu bioaktivasi, konjugasi, dan dekonjugasi. Pada ketiga tahap tersebut, tubuh berusaha mengurangi efek racun dari aflatoksin. Aflatoksin akan dikeluarkan oleh tubuh melalui cairan empedu, susu, telur, dan air seni. Bila aflatoksin tidak dapat dikeluarkan dari tubuh maka akan terjadi perubahan patologis dan menimbulkan beberapa gejala seperti keturunan lahir cacat (efek teratogenik) dan kanker (manusia dan hewan)  (Riza,2009).

Pada hewan, aflatoksin menyebabkan bobot organ dalam bervariasi (pembesaran hati, limpa, ginjal, fatty liver syndrome), pengurangan bursa fabricius dan timus, perubahan tekstur dan warna organ (hati, tenggorokan), anemia, hemoragi, imunosupresi, nefrosis, kerusakan kulit, dan penurunan efisiensi breeding (Riley dan Norred 1996; Yiannikouris dan Jouany 2002).

Mendektesi Mikotoksin Aflatoksin

Elisa adalah suatu teknik deteksi dengan metode serologis yang berdasarkan atas reaksi spesifik antara antigen dan antibodi, mempunyai sensitivitas dan spesifisitas yang tinggi dengan menggunakan enzim sebagai indikator. Prinsip dasar ELISA (Burgess, 1995) adalah analisis interaksi antaraantigen dan antibodi yang teradsorpsi secara pasif pada permukaan fase padat dengan menggunakan konjugat antibody atau antigen yang dilabel enzim. Enzim ini akan bereaksi dengan substrat dan menghasilkan warna. Warna yang timbul dapat ditentukan secara kualitatif dengan pandangan mata atau kuantitatif dengan pembacaan nilai absorbansi (OD) pada ELISA plate reader (Heny 2005).

PEMBAHASAN

Aflatoksin merupakan toksin yang dihasilkan oleh jamur Aspergillus flavusyang sangat berbahaya dan dapat menurunkan produktivitas unggas seperti adanya penurunan bobot badan, penurunan produksi telur dan dapat pula menyebabkan kematian ternak (Murni, 1993).  Rute utama aflatoksin dalam tubuh adalah inhalasi, setelah terpapar melalui pernapasan dan pencernaan. Setelah tertelan, usus menyerap aflatoksin B1 bersama makanan, dan di dalam usus dua belas jari.

Pencegahan cendawan ini juga dapat dilakukan dengan penambahan bahan pengawet pada pakan, misalnya dengan asam askorbat, propionat, asetat dll. Untuk mendapatkan pakan yang berkualiatas tinggi dan pakan tersebut tidak mengalami kerusakan, maka ada hal-hal yang harus diperhatikan peternak, antara lain : pertama, membeli pakan yang berkualitas tinggi dari sumber yang terpercaya dan harus mengetahui cara penyimpanan dan perlakuan terhadap pakan tersebut. Kedua, pengeringan pakan yang akan disimpan dengan kadar air maksimum 14%. Pengeringan ini dapat membunuh jamur. Pakan sebaiknya dimasukkan ke dalam wadah yang kedap udara, air maupun cahaya. Ketiga, memperbaiki sistem pergudangan. Pergudangan yang baik dapat melindungi pakan ternak dari kemungkinan terjadinya goncangan suhu lingkungan, iklim, mencegah masuknya air, gangguan serangga dan pencurian.

Langkah keempat adalah pencegahan dan pemberantasan serangga. Ini dapat dilakukan dengan pengasapan dan penyemprotan insektidida di dalam gudang. Permukaan lantai gudang dibuat sedikit miring ke satu arah untuk pembuangan air. Suhu di dalam gudang sebaiknya 27 C, dengan angin yang tidak terlalu keras. Ventilasi memungkinkan peredaran udara cukup kering dengan kelembaban nisbi 70%. Kondisi kandang yang baik dapat mencegah pertumbuhan cendawan penghasil mikotoksin, sebab aspergilus flavus hanya akan tumbuh baik bila kelembaban nisbi di atas 80% dengan suhu optimal 32-38 C.

Serangga dalam timbunan karung di atas lantai dapat dibunuh dengan pengasapan, dengan menggunakan fosfin atau metil bromida. Penyemprotan insektisida pada dinding, lantai dan atap secara tetap akan lebih efektif bila permukaannya dingin, bersih, tak terlalu bau dan bebas dari retakan. Pengobatan dengan berbagai jenis obat, antibiotik, dan vitamin kurang efektif (Anonimus, 2008)

Sistem penjaminan mutu produk pakan dan pangan asal ternak perlu dibahas secara bersama-sama dan komprehensif, hal ini didasarkan atas logika bahwa kontaminasi awal dari produk pangan asal ternak dimulai dari pakan. Memang, hanya dengan pakan yang aman tidak selalu secara otomatis akan menjamin dihasilkan pangan asal ternak yang aman tersaji di meja makan, namun apabila pakan yang digunakan tidak terjamin keamanannya maka secara otomatis akan merendahkan tingkat keamanan pangan asal ternak yang dihasilkan.

Selain itu, fokus pembahasan tersebut sesuai dengan meningkatnya permintaan pangan asal ternak dengan mutu tinggi dan aman dari konsumen, dan dalam upaya mencegah timbulnya insiden-insiden yang terkait dengan keamanan pangan seperti pada beberapa tahun lalu. Dampak negatif timbulnya beberapa insiden tersebut sangat dirasakan oleh produsen ternak, terutama berupa kerugian ekonomi yang sangat besar dan runtuhnya kepercayaan konsumen terhadap keamanan pangan asal ternak. Dengan mengkaji pengembangan sistem mutu dan keamanan produk pakan.

Beberapa aspek penting dalam penyusunan pakan dengan mutu yang baik adalah bahan baku, standar kebutuhan nutrien dari ternak, teknik pengolahan, formulasi,  teknik pencampuran dan kontaminan. Ketersediaan, penanganan dan karakteristik bahan baku berperanan penting untuk mengkreasikan pakan yang bermutu baik. Bahan pakan seharusnya bahan yang tidak digunakan sebagai pangan. Namun, berdasarkan perkembangan nilai ekonomi, pemanfaatan suatu bahan bisa berubah dari yang biasa digunakan sebagai pakan menjadi digunakan sebagai pangan, terutama produk/produk samping dari pengolahan bahan pangan. Industri pakan unggas di Asia Tenggara masih bergantung pada 60 – 70% bahan baku pakan impor, yang harus diperhatikan kadar air, aflatoksin, salmonella (tepung ikan), dan aktivitas urease pada bungkil kedelai (Raghavan, 1997).

Kontinyuitas ketersediaan bahan baku sebaiknya dapat dijaga sepanjang tahun. Keragaman bahan baku yang digunakan akan menyebabkan mutu pakan yang selalu berubah. Oleh karena itu, perlu dilakukan inventarisasi ketersediaan bahan baku sepanjang setahun, sesuai klas bahan pakan, kandungan racun, kandungan zat anti nutrisi, dan bentuk fisik.

KESIMPULAN

Aflatoksin adalah toksin yang dihasilkan oleh Aspergillus flavus dan ditemukan pada biji kacang-kacangan, rempah-rempah serta serealia. Aflatoksin sangat berbahaya bagi unggas, sehingga dapat menurunkan produktivitas seperti adanya penurunan bobot badan, penurunan produksi telur dan dapat pula menyebabkan kematian. Itik merupakan ternak unggas yang paling peka terhadap Aflatoksin. Jika pakan yang mengandung aflatoksin diberikan secara terus menerus terhadap unggas, maka secara tidak langsung akan mempengaruhi perekonomian masyarakat yang menjadikan  peternakan unggas sebagai sumber pendapatan utama.

  kalau menguankan artikel ini harap menulis alamat ; http://mulyadiveterinary / aflatoksin-pada-pakan-unggas/wordpress.com

 
Leave a comment

Posted by on May 21, 2011 in Uncategorized