RSS

Penyakit Mastitis pada Kambing

06 Jul


KATA PENGANTAR

Bismillahirrahmanirrahim

            Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah melimpahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kami sehingga kami dapat menyelesaikan penulisan paper kami dengan judul “Penyakit Mastitis pada Kambing” yang merupakan salah satu tugas dalam menyelsaikan Ko-Asistensi kami pada laboratorium Kesehatan Masyarakat Veteriner, Fakultas kedokteran Hewan Universitas  Syiah Kuala. Salawat beriring salam kami sanjungkan kepada Nabi Besar Muhammad SAW yang telah membawa umatnya dari alam kebodohan ke alam yang penuh dengan ilmu pengetahuan.

            Kami sangat menyadari bahwa masih banyak kekurangan yang terdapat pada penulisan paper ini,  kami menerima segala masukan yang di berikan untuk perbaikan paper ini, agar dapat menjadi lebih baik. Kami sangat berharap bahwa tulisan ini dapat bermanfaat untuk dijadikan sebagai sumber informasi atau sebagai bahan bacaan.

Banda Aceh, 27 September 2010

Tim penulis

PENDAHULUAN

Pengelolaan induk dan anak kambing merupakan salah satu titik kritis dalam usaha produksi kambing, karena terkait erat dengan efisiensi biologis maupun ekonomis sistem produksi. Sebagian besar pengusahaan ternak kambing di Indonesia merupakan usaha peternakan rakyat dengan tingkat penerapan teknologi serta manajemen yang cukup beragam. Keragaman dalam hal intensitas penggunaan maupun pemilihan jenis teknologi dapat disebabkan antara lain oleh perbedaan agro-ekosistem dimana ternak kambing dipelihara ataupun oleh tingkat pengetahuan serta pengalaman dalam berusaha (Simon, 2009)

Ternak kambing memiliki potensi sebagai komponen usaha tani yang penting diberbagai agro-ekosistem, karena memiliki kapasitas adaptasi yang relatif lebih baik dibandingkan dengan beberapa enis ternak ruminansia lain, seperti sapi dan domba. Dengan karakter yang mampu bertahan pada kondisi marjinal, ternak ini sering menjadi pilihan utama diberbagai komunitas petani, sehingga berkembang sentra-sentra produksi kambing yang menyebar diberbagai agriekosistem. Namun demikian, pengelolaan ternak kambing dalam usaha tani sebagian besar masih dilakukan secara sambilan, walaupun secara finansial komoditas ini memiliki peran yang penting dalam perekonomian rumah tangga petani.

Mastitis adalah salah satu penyakit yang sering menyerang pada kambing perah. Menurut Subronto (2003), mastitis adalah penyakit radang ambing yang merupakan radang infeksi. Biasanya penyakit ini berlangsung secara akut, sub akut maupun kronis. Mastitis ditandai dengan peningkatan jumlah sel di dalam air susu, perubahan fisik maupun susunan air susu dan disertai atau tanpa disertai perubahan patologis atau kelenjarnya sendiri. Mastitis adalah peradangan pada ambing yang biasanya disebabkan oleh infeksi kuman. Banyak kuman yang dapat menyebabkan mastitis termasuk bakteri, kapang, dan khamir. Mastitis merupakan penyakit yang sangat penting dari segi ekonomi pada peternakan kabing perah perah (Anonimus,2010).

TINJAUAN PUSTAKA

Upaya peningkatan produksi susu, usaha ternak kambing  perah pun menampakkan hasilnya seiring dengan kesadaran masyarakat untuk mengkonsumsi susu. Perkembangan pada agribisnis kambing  perah mulai nampak dengan berkembangnnya  pada agribisnis kambing  perah, seperti koperasi, balai inseminasi buatan, industri pengolahan susu, pabrik pakan, perusahaan pensuplai kebutuhan mesin dan peralatan kambing perah, dan sebagainya. Namun, akhir-akhir ini perkembangan jumlah populasi kambing  perah, masih kurang (simon, 2009)

Penyakit pada kambing  perah yang dapat menurunkan kualitas serta kuantitas susu salah satunya adalah mastitis. Mastitis menyangkiti hewan yang menghasilkan susu. Yang patut diperhatikan adalah tingkat kejadiannya Di satu wilayah tingkat kejadian mastitis sangat tinggi, sedang di tempat lain dapat dikatakan rendah. Penyakit mastitis terdiri dari beberapa tingkatan dan sebelum terlihat secara kasat mata mastitis mencapai subklinis. Rataan bentuk subklinis dapat mencapai 20 kali lebih banyak daripada klinis. Bentuk subklinis menyebabkan kerugian ekonomik lebih besar. Mastitis subklinis merupakan peradangan pada ambing tanpa ditemukan gejala pada ambing dan susu. Ternak kambing  perah terlihat sehat, ambing normal, dan susu tidak menggumpal serta warna tidak berubahan (Anonimus,2010a)

Mastitis dapat disebabkan oleh berbagai macam kuman, diantaranya adalah bakteri.  Mikrorganisme merugikan sering disebut kuman. Kuman penyebab mastitis yang penting yaitu kelompok yang banyak terdapat di lingkungan peternakan. Dengan demikian, kambing  perah selalu berisiko terinfeksi. Mastitis pada ambing merupakan masalah utama kesehatan ternak yang dapat menurunkan produksi susu sebesar 15-20%. Tingkat terjadinya mastitis subklinis di Indonesia diduga mencapai 75%. ( Anonismus,  2010b)

Penyebab dan Akibat Mastitis

Susu merupakan media pertumbuhan yang sangat baik bagi bakteri dan dapat menjadi sarana potensial bagi penyebaran bakteri patogen yang mudah mencemari kapan dan dimana saja sepanjang penanganan susu tidak memperhatikan kebersihan. Pencemaran pada susu sudah terjadi sejak proses pemerahan dan dapat berasal dari berbagai sumber seperti kulit sapi, ambing, ember, tanah, debu, manusia, peralatan, dan udara. ( Anonismus,  2010b)

Salah satu penyebab mastitis subklinis yang sering terisolasi adalah Staphylococci serta Streptococci. Kerugian akibat mastitis subklinis lebih besar daripada mastitis klinis (Agnesia, dkk., 2005). Menurut Nickerson (2000), apabila jumlah kuman susu lebih dari 200.000 colony forming unit (CFU) per ml menunjukkan kondisi ambing abnormal dan apabila melebihi standar tersebut dapat dinyatakan sapi menderita mastitis. Standar yang berlaku di Indonesia (SNI) yaitu harus kurang dari 1×106 CFU/ml.

kambing penderita mastitis dapat diketahui dengan adanya pembengkakan pada ambing dan puting serta ambing mengeras atau mengerut yang terjadi pada satu kuartir atau lebih. Rasa sakit timbul pada saat diperah dan diikuti oleh penurunan produksi yang bervariasi mulai dari ringan sampai berat. Serangan penyakit yang berat menyebabkan susu dapat berubah warna menjadi merah karena adanya darah atau bercampur dengan nanah. kambing perah yang menderita mastitis berat biasanya diafkir ( Anomimus ,2010c)..

Ambing adalah organ produktif dan sensitif.  Ambing dapat rusak akibat sesuatu yang bersifat mekanis dan perubahan besar yang tiba-tiba dari lingkungan. Contohnya adalah tarikan tangan, luka, perbedaan besar temperatur siang dan malam, dan lain-lain.  Tarikan tangan, karena menggunakan vaselin, menyebabkan sel puting memanjang sehingga puting dan ambing mudah diserang kuman penyakit. Luka yang diikuti kontak langsung dengan air, lalat, atau sumber kuman mempercepat timbulnya penyakit mastitis. Perbedaan besar temperatur siang dan malam menyebabkan kambing perah menderita stres dan daya tahan tubuhnya melawan penyakit menjadi turun. Ambing kambing perah berada dekat dengan lantai. Padahal, di dalam ambing terdapat sejumlah susu yang dapat menarik datangnya bakteri.jadi, bakteri masuk dan merusak jaringan ambing. Lantai yang kotor atau susu tumpah ke atas lantai dan tidak dibersihkan mengakibatkan kuman penyakit cepat berkembang biak dan meningkatkan terjadinya mastitis (Andi dkk., 2006)

Secara alami ambing mempunyai alat pertahanan terhadap penetrasi kuman penyakit. Alat ini yaitu otot spinkter yang berfungsi menutup saluran dan terdapat pada ujung lubang puting. Tetapi, otot spinkter tidak dapat menahan 100% masuknya kuman karena otot telah lemah, terdapat susu di ujung puting, ada luka, dan sebagainya. Ambing sehat, spinkter dan saluran puting tidak rusak, udara nyaman, dan jumlah bakteri yang masuk sedikit tidak menyebabkan penyakit mastitis.  Bila salah satu komponen tersebut berubah maka terjadi penyakit mastitis. Makin banyak perubahan makin tinggi tingkat penyakit mastitis yang terjadi atau makin parah. Beberapa orang menyatakan bahwa bakteri mastitis masuk ke dalam ambing di antara waktu pemerahan. Lalu, di dalam ambing bakteri tumbuh cepat karena lingkungan yang sesuai.

Uraian di atas menunjukkan bahwa keadaan tubuh kambing perah, kandang dan sekitarnya, cuaca, dan perlakuan peternak terhadap sapi perahnya serta kemudian diikuti oleh masuknya kuman penyakit ke dalam ambing menyebabkan terjadinya mastitis. Dengan demikian, berjangkitnya penyakit mastitis tidak disebabkan oleh satu faktor, tetapi oleh beberapa faktor. (Anominus,2008)

Pencegahan dan Pengobatan

Peternak kambing perah dapat melaksanakan beberapa tindakan untuk mencegah dan mengontrol timbul serta berkembangnya risiko terjadinya infeksi mastitis. Tindakan itu adalah menjaga kebersihan kandang (terutama lantai), alat-alat, dan air. Susu diuji menggunakan cawan hitam, California Mastitis Test (CMT), atau metode lainnya. Tindakan lain yaitu menggunting rambut di daerah ambing dan lipatan paha.  Susu tidak dipancarkan ke atas tangan, lantai, atau tempat sapi perah berbaring. Langkah selanjutnya ialah membubuhi disinfektan ke dalam cairan pembersih ambing. Penggunaan disinfektan diikuti oleh langkah penggunaan lap. Ambing dan puting dilap dengan cairan berdisinfekan. Sangat dianjurkan peternak menggunakan satu lap untuk setiap individu kambing perah.kambing terkena mastitis diperah pada akhir pemerahan sehingga semua peralatan dan bahan yang digunakan terpisah dari kambing perah sehat.

Pencegahan penyakit mastitis dapat dilakukan dengan cara melakukan sanitasi terhdap ternak itu sendiri khususnya di daerah puting. Salah satu usaha sanitasi untuk mencegah mastitis yaitu pencelupan puting kambnig perah setelah pemerahan. Pencelupan puting berguna untuk menghambat masuknya bakteri ke dalam puting. Larutan kimia yang biasa digunakan oleh peternak umumnya mengandung ammonium, khlor, brom, iod, dan fluor. Yang perlu diperhatikan adalah waktu pencelupan puting, konsentrasi larutan yang dipakai, dan umur larutan. Bahan ini dengan merek dagangnya dapat dibeli di toko yang menjual obat ternak dan dalam penggunaannya harus memperhatikan petunjuk pabrik.

Selain menggunakan bahan kimia, peternak sapi perah dapat menggunakan bahan alami untuk mencegah berjangkitnya mastitis. Tanaman yang mengandung minyak atsiri, saponin, tanin, dan fenol dapat digunakan untuk hal tersebut. Zat-zat ini dapat berfungsi sebagai pembunuh kuman. Salah satu contohnya adalah daun sirih hijau (Piper betle, L). Daun sirih ditambah air dalam jumlah yang sama dirajang sampai hancur. Hasil campurannya digunakan sebagai larutan untuk pencelupan puting sapi perah setelah pemerahan. Penggunaan larutan atau sari daun sirih sama baiknya dengan bahan kimia.

Untuk pengobatan mastitis, peternak kambing perah biasanya menggunakan antibiotik, namun pemakaian antibiotik untuk pengobatan mastitis dapat mengakibatkan terjadinya residu antibiotik pada susu yang berakibat langsung timbulnya alergi pada konsumen dan terjadinya resistensi kuman. Peternak kambing perah sebaiknya berkonsultasi dengan mantra atau dokter hewan, jika ingin menggunakan antibiotik. (Anomimus ,2010c)

HASIL DAN PEMBAHASAN

Dari hasil surfe kami kelapangan  peternakan kambing perah  pusat pengebangan masyarakat ( P2M) di daerah Mirek camredup menderita penyakit mastitis . Dengan gejala  klinik

a. merah
b. panas
c. keras
d. sakit bila disentuh
e. fungsi terganggu (produksi menurun menurun)

Anonimus (2008) menyatakan  keadaan mastitis di bagi menjadi beberapa bagian:
a. pra akut mastitis
b. Akut mastitis
c. Sub akut mastitis
d. kronis mastitis
e. sub klinis mastitis

Dalam keadaan akut atau sub akut biasanya tanda-tanda klinis pada ambing terjadi pembengkakan pada ambing dengan tanda-tanda :
a. merah
b. panas
c. keras
d. sakit bila disentuh
e. fungsi terganggu (produksi menurun menurun)

Tanda-tanda keseluruhan
a. demam (pyrexia)
b. severe depression
c. anorexia penurunan nafsu makan
d. warna susu berubah warna – kuning/merah keadaan – pekat/merah bau. Untuk subklinis mastitis, tidak ada perubahan yang nyata pada susu.Penyakit hanya bisa dikenali melalui pemeriksaan serum (patologi klinis).

Dari infor masi yang kami dapat dari pertekan P2M ini bahwasanya kambing boer yang sedang berproduksi menderita mastitis 3 bulan sebulumnya, tetapi kambing tersebut tetap di perah  bersama dengan kambing lainya. Pada 5 hari tehakir ini kambing Nupiar yang di perah bersamaan juga terserang mastitis. Penyakit mastitis dapat menyebar karena kurang nya tidakan pencegaha seperti:

. Menjaga kebersihan kandang

. Memandikan kambing secara teratur

. Menjaga kebersihan pemerah, peralatan pemerahan, kambing pada saat sebelum pemerahan dan sesudah pemerahan
• Pada saat pemerahan Susu harus diperah sampai habis tetapi perlakuan yang halus dan cepat sehingga merusak ambing.
• Pada kambing yang tidak diperah susunya setelah lepas sapih sebaiknnya di diperah sampai masa kering karena sisa susu setelah tidak disusu oleh anak kambing dapat dijadikan media bakteri sehingga terjadi peradangan ( Anonismus,  2010b).

KESIMPULAN

Penyakit pada kabing  perah yang dapat menurunkan kualitas serta kuantitas susu salah satunya adalah mastitis. Mastitis merupakan penyakit ambing yang disebabakan Staphylococci serta Streptococci. kurangnya menjaga kebersihan kandang, peralatan pemeraha, higienis pemerahan dan proses pemerahan dapat penyebab penyebaran penyakit mastitis.

 
Leave a comment

Posted by on July 6, 2011 in Uncategorized

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
%d bloggers like this: